09 Mei 2009

Kumpulan Puisi ToTo ST Radik

  • Share
  • [i]
CATATAN HARIAN SEORANG PENYAIR
Oleh :
Toto ST Radik

di negeriku lelaki tak patut menitikkan
air mata
hanya perempuan boleh bersedih
dan menangis
lelaki adalah serdadu: baja yang ditempa
di atas api
keras dan padat dan kejam menggenggam hidup
tak ada sepetak ruang dan sejenak waktu
untuk bertanya
tentang sesuatu yang sederhana
segalanya telah selesai
dalam kitab kalah atau menang
di negeriku lelaki tak patut menitikkan
air mata: aku pun pergi
ke negeri puisi
di mana kegembiraan dan kesedihan
keraguan dan cinta
tak ditampik atau menampik
----Serang, 1998
Republika Online edisi:07 Nov 1999
AMSAL SEBILAH PISAU
Oleh :
Toto ST Radik

pisau yang tergeletak di atas meja makan itu terisak
sedih
sudah berharihari tak ada apa pun, sekadar bawang merah
atau seekor cicak melintas, untuk dicincang
jamur karat membelukar di tubuhnya yang kian suram dan
renta
matanya yang tumpul masih berkilat karena siksa lapar
namun ruang dan waktu yang mengepung dirinya hanya
menurunkan sepi
seseorang meninggalkannya begitu saja di meja makan itu
tanpa tugas tanpa mangsa
padahal begitu nyaring ia dengar suara erang daging dan
deras darah
yang muncrat di jalanjalan kelam dari jaman ke jaman
sejak qabil membantai habil
o, daging yang ranum darah yang harum
aku menginginkanmu di hari tuaku yang buruk ini! ratapnya
pedih dibekuk kenangan yang mendatanginya
bertubitubi
pisau yang tergeletak di atas meja makan itu meraung
sangsai
seperti putus asa
sudah berharihari ia tak menemu cara bunuh diri: mengakhiri
seluruh perjalanannya dan memulai lagi pengelanaan baru
menyusuri jalanjalan kelam di dunia lain
bersama orangorang lain
sebagai korban
---Serang, 1998-1999
Republika Online edisi:07 Nov 1999
DI TENGAH LADANG JAGUNG
Oleh :
Toto ST Radik

di tengah ladang jagung
kuterjemahkan ayatayat cintamu
di antara gerak daundaun
dan dzikir embun
di tengah ladang jagung
aku lelaki dengan tubuh legam berkilau
dibakar matahari
dalam gairah cinta menggelegak
di tengah ladang jagung
aku penari yang khusyuk mengurai doa
menjadi beribu gerak di antara riak kenangan
kenyataan hari ini, dan impian masa depan
di tengah ladang jagung
di bukit yang jauh dari tahuntahun gaduh
dan usia kemarau, aku tengadah ke langit
menyerap seluruh cahaya
---Serang, 1998
Republika Online edisi:07 Nov 1999
INDONESIA, PADA SEBUAH MALAM
Oleh :
Toto ST Radik

indonesia -- pada sebuah malam yang jauh
bulan separuh. burung alap-alap memekikkan seluruh
nyanyian kepedihan dan alamat-alamat kematian
sunyi pun tumbuh berkawan ketakutan
menjalar ke setiap rumah, mengetuk pintu-pintu
yang rapuh. dan angin seperti bersekutu
menghunjamkan dingin, tajam bagai tatapan
sepasang mata kucing hitam. kemudian hujan
jatuh, berputar-putar dalam tarian tanpa irama
menderas tak tertahan menuju jantung kegelapan
mengisyaratkan badai
indonesia -- pada sebuah malam penuh hujan
bulan tersingkir seperti menegaskan kegelapan sihir
lolong anjing dari bukit-bukit jauh mengarungi
detik amarah yang bergelombang gaduh. bunga-bunga
berganti batu, dendang sayang berganti kibasan parang
semburan peluru dan kobaran api. darah pun tumpah
di setiap jengkal tanah. mengalir ribuan kilometer
bersama airmata yang diam-diam menyimpan kenangan
sejarah negeri hijau. sobekan bendera terbakar
di atas meja perjudian. mantera-mantera, doa-doa, kutukan
seribu kata saling tindih saling cakar di antara
percakapan-percakapan aneh penuh sandi
indonesia -- pada sebuah malam huru-hara
aku menundukkan kepala di kamar berdebu
membaca baris demi baris sajak-sajakku yang berlepasan
dari penjara kertas: melangkah di jalan-jalan berbatu!
Serang, 31.12.1996
Sajak-sajak Peduli Bangsa
Pengantar Red:Reformasi terus bergulir, sajak-sajak peduli bangsa bersemangat reformasi juga terus mengalir ke redaksi Republika dari seluruh penjuru tanah air. Perdebatan politik pun tak kunjung selesai, soal sidang istimewa, soal percepatan pemilu, sampai gegap gempita pembentukan partai-partai baru. Tapi, ada yang tak bisa kita lupakan: makin banyak rakyat kecil yang menjerit kelaparan, penganggur yang terus bertambah, harga sembako yang masih tinggi, di tengah perekonomian negara yang terancam bangkrut. Karena itu, sajak-sajak kepedulian pada penderitaan rakyat kecil, sajak-sajak bersemangat penyadaran kemanusiaan, sajak-sajak cinta tanah air, akan lebih dihargai untuk masuk di rubrik ini.

Republika Online edisi: 07 Jun 1998
MAJLIS MAKAN MALAM DAN LETUPAN DI
MASJID ISTIQLAL

Oleh :
Toto ST Radik

ketika lidah sibuk mengganyang 20 tusuk satay, ayam
bakar, laksa johor, semangka, dan teh susu dalam
majlis makan malam di saujana yang amat berhormat
deto' haji abdul ghani othman*), seseorang menikam
telinga kiriku: istiqlal diletupkan sebutir bom, tuan!
seketika itu juga, di tengah tarian dan nyanyian
melayu yang mendayudayu, hidangan di atas meja
menjelma bangkai dan genangan darah. malam mengerut
angin memusing, menghisap seluruh kesadaranku. seribu
mulut berdengungan seperti lebah gila, ditingkah suara
tawa yang berdenging tajam. aku muntah. tubuhku pun
meletup. kepingankepingannya beterbangan, melesat
melintas pulau dan lautan. jatuh berkaparan di lantai dasar
masjid di antara kacakaca yang berpecahan dan sengatan
bau belerang
---Johor Bahru Malaysia, 1999
*) Kediaman resmi YAB Menteri Besar Johor.
Republika Online edisi:07 Nov 1999
SAWAH SATU
Oleh :
Toto ST Radik

di sawah sunyi ini aku menanam
benih padi
menyelam ke dasar lumpur
membuka birahi bumi
dan menanam lagi
di sawah sunyi ini aku menari
sendiri
mengembara ke dasar doa
mereguk saripati bumi
dan menari lagi
di sawah sunyi ini aku rebah
pada tanah
menjemput gelisah
menulis sejarah
---Serang, 1999
Republika Online edisi:07 Nov 1999
SELAT JOHOR
Oleh :
Toto ST Radik

selat johor sediam batu dinihari
dirundung murung
di seberang
singapura yang kecil menyala
bagai kawanan kunangkunang liar
menyerbu mataku
menikam hatiku yang bolong
selat johor sediam batu
bulan tumpas tanpa jejak
segaris sinar
memancar dari dasar laut
tegak lurus
seperti tombak yang menagih negeri
dan kudengar suara ibu memanggiliku
selat johor sediam batu
rinduku begitu gaduh
--- Johor Bahru Malaysia, 1999
Republika Online edisi:07 Nov 1999



Baca Juga :
Kumpulan Puisi

Biografi Penyair

1 comments:

Adzwari Ridzki mengatakan...

terima kasih sudah berbagi