30 Mei 2012

Curhat: suka duka milih printer yang cocok buat warnet

  • Share
  • [i]
Usaha Warnet tak lepas dari urusan basic seputar word, excel, serta ngeprint. jadi bukanlah sekedar modal tempat strategis, komputer  terbaru, layar LCD, koneksi lancar ataupun tempat yang nyaman, malahan ada yang sampai bela-belain  nyediain tempat tertutup super rapet, jadi bisa buat mesum murah meriah (murah=tarif ngenet Rp. 3000, Meriah=bisa nge-bokep sambil denger music + ruangan ber-AC. coba kalo dihotel / losmen bayar brapa tuh.. hehehe... ) yang ini jangan ditiru lho yo!! pokoknya don't try at home-lah.

 
Keseringan nempel tulisan pengumuman "MAAF PRINTER ERROR" di pintu masuk efeknya juga g baek buat pelanggan, tak jarang bahkan calon user nanya dulu, "Mas bisa ngeprint g'?" atau "Bisa ngeprint warna mas?", kalo printer OK, ya jawab  dengan pede, "ooo... tentu bisa..., mosok gur ngeprint aja g bisa.. mo' ngeprint brapa ratus lembar juga tak layani.,.. hehehe....?? baru deh mereka mau nge-net dengan tenang.... lha coba kalo pas printer rusak, ngadat atau lagi ngambeg....?? udah pasti g jadi nge-net kan..!

OK kembali ke Leptop...., dibawah ini adalah review dari berbagai jenis printer yang pernah di pakai di warnet kami selama ini  (2007-2016) yang mungkin bisa dijadikan sebagai refensi rekan-rekan semua:

1. Canon Pixma IP1980:

Ini adalah printer pertama kami,
(+) Kualitas print serta kecepatan bagus, 
(-) Jika salah satu cartridnya error/mati.. udah deh g' bisa dipake sama sekali.
(-) Harga Cartridge Muahal banget,

Kesimpulan: harga cartridnya sangat mahal, hampir setara dengan beli printer baru.
Kami g bisa cerita tentang printer ini terlalu banyak karena hanya inilah printer canon yang pernah kami pakai sampai saat ini.



2. HP PSC 1310:
Ini adalah printer kedua kami, Printer ini adalah jenis PSC (Print Scan Copy) sangat praktis dan bentuknya kompak, tidak banyak makan tempat.
(+) Bentuk kompak,
(+) Dilengkapi port USB (PicBridge) yang berguna untuk pencetakan secara langsung dari kamera digital
(-) Menggunakan Cartridge tipe 21 & 22 yang harganya relatif lebih mahal dari jenis cartridge HP yang lainya (Rp.150-175 rebu)
(-) Susah diinfus (tapi dibanding printer HP lainya printer ini masih mendingan lho)
(-) Udah discontinued

Kesimpulan: Jika di infus g' bisa maksimal, sering bocor atau malah tinta g' keluar sama sekali, jika disuntik agak ribet dan umur cartridge terbatas banget.
Karena letak mainboard ada dibawah, kalau diinfus, dan printer tidak digunakan dalam waktu agak lama maka cartridge harus digeser ke kanan untuk menghindari jika tinta meluap/banjir yang bisa menyebabkan mainboard short/konslet
Diantara Jenis Printer model PSC seri HP, printer ini yang paling bandel, kami belum pernah ganti spare part apapun sampai akhir hayatnya,  printer ini kami purna tugaskan karena mainboardnya mati kebanjiran tinta infus yang semaleman lupa ditaruh agak tinggi (karena OP kami jengkel dg tinta yg ngadat trus botol tintanya ditaruh agak keatas dengan harapan tinta dapat mengalir lancar...)  :-(


3. EPSON T-20:

Printer Ketiga kami, karena menurut info yang kami dapat, printer ini kualitas pencetakan warnanya sangat bagus ,
(+) Hasil Print bagus, 
(-) Kecepatan jauh dibawah HP & Canon
(-) Suara Lebih bising daripada Canon & HP
Kesimpulan: setelah dipakai beberapa saat, ternyata sistem infus mulai rewel (mungkin teknisi toko printer kurang bagus/pinter nginstall sistem infusnya kali ya...) dimulai dari tinta kuning ngadat g mau keluar, di cleaning bola-bali kadang normal atau tak jarang malah makin mawut 'n amburadul, hampir tiap bulan harus bawa printer ke tukang service itu artinya g bisa ngeprint, itu artinya ngecewain pelanggan, itu artinya rugiiiiiiiii...... hufffttt.....


4. HP DESKJET F2410:
Ini adalah printer keempat kami, dengan merelakan jasad EPSON T-20 kami sebagai tumbal tukar-tambah, akhirnya kami balik lagi ke printer model PSC-nya HP, karena pengalaman menggunakan PSC 1310 yang sangat memuaskan (sebelum tewas glagepan kebanjiran tinta infus), selain itu harganya-pun relatif murah serta bentuk ringkas.
(+) Harga relatif murah, kualitas cetak serta kecepatan lumayan,
(-) Harga cartride lumayan (HP 60 Black/ tri-color = Rp.150-175 rebu)
(-) Susah diinfus
(-) Komponen ASF sangat ringkih,

Kesimpulan: Sepertinya inilah printer yang paling menjengkelkan diantara printer kami, karena ternyata komponen ASF (penarik kertas) sangat ringkih/mudah patah jika dibandingkan printer HP lainya, kami udah bolak-balik ganti ASF yang patah, selain harganya relatif mahal, juga merepotkan sekali harus mondar-mandir ke bengkel printer.


5. HP DESKJET 1050 J410 series:

Ini adalah printer kelima kami, alasan pemilihannya-pun agak konyol,
Karena kami sangat puas atas kinerja HP PSC 1310, maka meskipun jengkel dengan HP F2410 yang boros ASF, kami cuman berasumsi bahwa F2410 adalah produk gagal-nya HP, akhirnya nekad ambil seri terbaru HP 1050 J410 yang ternyata menggunakan cartridge tinta paling murah dlm keluarga HP.  
(+) Harga murah meriah, kualitas cetak serta kecepatan lumayan,
(+) Harga cartride cukup murah, (HP 802 small black/tri-color Rp.70-110 rebu)
(-) Susah diinfus
(-) Isi tinta cartridge sangat sedikit/kecil (HP 802 small)
(-) Umur Cartridge sangat pendek (paling disuntik 3-5 kali udah error mintak ganti baru)

Kesimpulan: Jika di infus g' bisa maksimal, sering bocor atau malah tinta g' keluar sama sekali, jika disuntik agak ribet dan karena isi tintanya dikit maka cepet habis sehingga harus sering disuntik -> memperpendek  umur cartridge, harus ada anggaran buat beli cartridge baru, parahnya malem-malem pas ada job print seabreg (biasanya ngeprint RPP atau laporan mahasiswa/anak sekolah) tiba-tiba cartridge error... udah deh rejeki melayang 'n di komplen pelanggan gara2 printer ngadat... uasem tenan.....

6. EPSON L100
Ini adalah printer keenam kami, bersanding dengan printer HP DESKJET 1050 J410 sebagai Scanner device-nya,
(+) Hasil Print bagus,
(+) Sistem Infus original, sehingga masalah tinta macet seperti pada printer infus abal-abal sama sekali belum pernah kami temui (selama ini).
(+) Cara pengisian tinta sangat mudah
(+) Pembuangan tintanya gampang dimodif, g' perlu bongkar printer
(+) Dilengkapi katup pengunci dengan mode Printing & Transporting 
(+) Tampilan Rapi & Profesional (oh ya.., suatu hari gw ada urusan ke BANK swasta ternama, mosok sih customer service Bank-nya pake printer infus abal-abal, .. horrroooo toyo.... wes jian gak keren babar blass 'n g merepresentasikan profesionalisme instansi Bank tersebut)

(-) Harga Printer relatif mahal (th 2011 = Rp.1,3 jt)
(-) Kecepatan lebih lambat dibanding Canon & HP
(-) Suara Lebih bising daripada Canon & HP 
(-) Belum dilengkapi dengan Scanner
(-) Memakai Tinta jenis Dye yang gampang luntur jika terkena air.
(-) Peringatan tinta habis terlalu cepat muncul, tinta masih 1/4 udah muncul peringatan (tapi masih tetep bisa ngeprint kok)
(-) ASF mudah rusak
(-) Harga Tinta Original relatif mahal (T6641-T6642-T6643-T6644 = Rp.65.000,-) jika dibandingkan harga tinta printer injet umumnya (tapi bisa diakalin dengan tukeran serial number dengan orang lain atau dengan ink reseter)

Kesimpulan: 
Dengan printer ini jarang sekali kami menemui masalah teknis (masalah tinta macet) yang menghambat proses pengeprint-an seperti printer-printer terdahulu.

Setelah 4 bulan pemakaian, ASF minta ganti setelah nanya ke toko penjualnya (di surakarta) jika diservice pakai garansi resmi pabrik (yang 1 tahun itu loh), maka baru kelar sebulan atau dua bulan kemudian, yah... akhirnya kami korbanin garansinya dan syukurlah 1 day service, alias sorenya langsung bisa kelar, meski harus keluar dana Rp. 120.000,- untuk beli ASF+Ongkos pasangnnya. (setelah baca forum-forum, ternyata kelemahan epson emang pada ASF-nya)


Setelah lama berkutat dengan printer infusan abal-abal, pertama kali liat daleman printer ini gw langsung terpesona, pemasangan selang infus rapi banget, selangnya pakai jenis elastis seperti yang biasa dipakai pada selang pembuangan tinta printer bukanya pakai jenis selang transparan kecil macem selang akuarium itu, serta tata letak selangnya oke banget dilengkapi dengan pelindung selang dari plastik mika elastis yang sekaligus berfungsi sebagai penopang selang saat cartridge jalan (coba bandingkan dengan printer modif infusan, pemasanganya maksa banget, dan sering nyangkut-nyangkut karena cuman dilakban ke body, jian g' rapi babar blass...)

Pertama kali yg kami lakukan terhadap printer ini adalah bikin saluran pembuangan tinta seperti halnya printer injet lainya, ternyata gampang banget g' perlu ngebongkar printer, tinggal buka tutupnya, cabut selangnya kemudian sambung dengan selang akuarium+botol kecil, taraaaa..... jadi dah....., jadi meski udah kepake lama, inkpadnya masih putih mulus kan... ntar kalau minta reset tinggal reset ulang sendiri pakai software resetternya


Dilengkapi dengan katup pengunci (Printing - Transporting) sehingga jika printer mau dibawa/pindah ke tempat jauh atau luar kota naek mobil/motor, tinggal putar ke arah Transporting, bandingkan ketika pakai sistim infus modifan, kalau bawa ke bengkel harus ribet ngiket selangnya pakai karet gelang biar g tumpah, (oh ya masih inget betapa repotnya ketika pas printer ngadat dan harus dibawa ke bengkel pake motor sendirian, trus ban bocor, nuntun motor sambil megangin printer nyari tambalan, mana lagi rame-ramenya musim kampanye... tambah pusing pala liat rakyat jelata lagi seneng-seneng pesta demokrasi katanya, pesta pora war-wer-wor geber motor kenceng-kenceng dengan knalpot dicopot. .. ntar giliran pilihanya ketawan nyolong/kurupsi ribut lagi dijalanan..... yah inilah demoktrasi ala negeri ini... yang penting ramenya bung...!! ) :-)
-----------------------------

7. HP officejet J3508 All in One printer (Print, Scan, Copy & Fax)
 
(+) Harga Relatif murah
(+) Udah ada fasilitas buat kirim & terima FAX
(+) Bentuk Ringkas
(-) saat beli cuman dikasih 1 cartridge doank warna item, yang colour beli sendiri :-(
(-) Jika lama enggak digunakan cartridge error & tidak bisa digunakan sama sekali.
(-) Harga Cartridge suangat muahal sekali Rp 281,000 (2014) 

Alasan utama beli printer ini adalah karena fasilitas FAX yang ada di printer ini serta harganya yang amat sangat terjangkau sekali bila dibandingkan dengan beli mesin fax merk lain. 
(suatu hari di bulan Agustus 2012 saat jalan jalan di ES Grand Mall Solo, kemudian liat printer ini dengan bandrol harga Rp. 529.000,-, iseng-iseng nanya ke penjaganya, ni harganya udah net atau masih pakai pajek buat ngasi makan si GAYUS sekeluarga? 
kemudian dijawab kalau harganya udah net segitu g pakai pajek-pajekan macem jaman kumpeni dulu.. udah deh langsung aja tanpa pikir panjang gw beli printer ini saat itu juga.)
gw lom bisa cerita terlalu banyak tentang printer ini, karena emang lebih sering standby, buat kirim atau terima fax doank

Update..(2014) 
Ternyata printer fax ini sangat mengecewakan sekali, karena jarang dipake maka cartridnya malah jadi error, (muncul pesan CARTRIDGE ERROR) jangankan buat nerima fax / ngeprint, buat ngirim fax yang notabene g ada hubunganya dengan cartridge & pengeprinant saja enggak bisa babar blas, weslah pokoke useless banget. Padahal kalau beli cartridge mahal banget Rp 281,000 (2014)
ya udahlah ni printer fax akhirnya jadi penghuni gudang, buat mainan kucing-kucing gw ajalah :-(

  

8. HP Laserjet P1020


Ini adalah printer laserjet pertama kami. (Beli 2 September 2013 = Rp. 850.000,-)
kami gunakan Printer ini hanya sebagai cadangan jika printer utama kami sedang ngadat, sehingga proses print tetap lancar serta buat bikin PCB sistem setrika.
(Printer Laser tetap bagus digunakan setiap saat mesti jarang dipakai, karena tidak ada masalah dengan tinta mampet).
Jika dibandingkan dengan  printer inkjet memang printer laser ini relatif lebih boros / mahal ongkos cetak perlembarnya, karena kemampuan cetak drumnya yang kecil (+ 800 lembar) yang mana proses pengisian toner drumnya harus ke kota solo dengan biaya sekitar Rp. 80.000,- an. dan drumnya juga mempunyai umur relatif pendek (paling sekitar 5 kali pengisian toner harus ganti drum baru seharga Rp. 75.000,- an)


(+) Harga Relatif murah
(+) Kecepatan print tinggi
(+) Bentuk Ringkas
(+) Sangat cocok digunakan sebagai backup printer tinta jika sedang ngadat (pengalaman: setengah tahun tidak dipake sama sekali tidak masalah, begitu dipake langsung jalan normal dan hasil cetak sangat memuaskan)
(-) Isi Toner Kecil
(-) Harga print perlembar lebih mahal dari printer inkjet
(-) Tidak bisa warna (Kalau pake printer laser warna harganya mahal)
(-) Spare Part (Drum) harus diganti setelah beberapa kali pengisian atau kalau hasil print tidak bersih


9. EPSON L210


Setelah Printer Epson L100 (printer infus original generasi pertama) menjalankan tugas dengan baik selama 2 tahun penuh dengan tanpa kerusakan berarti, akhirnya printer inipun mengalami keausan di beberapa komponennya:
- Head warna hitam mulai bergaris
- ASF mulai bermasalah lagi (selip / tidak dapat menarik kertas dengan sempurna)
- Roler panjang yang berlapis karet dibawah head yang berfungsi sebagai penarik kertas (entah apa namanya) mulai terkelupas lapisan karetnya.
- Ujung kertas sebelah kanan selalu terlipat, sehingga head seringkali nge-jam karena terhalang kertas.
Dengan pertimbangan tidak ekonomis jika harus mereparasi Epson L100 ini yang tentunya memakan banyak biaya dan hasil yang belum tentu sempurna, akhirnya kami memutuskan untuk mengistirahatkan dengan damai printer Epson L100 tersebut (R.I.P 2011-2013).
Kebetulan saat itu (4 Desember 2013) di kota solo sedang digelar pameran komputer akhir tahun Apkomindo, Setelah keliling-kliling, akhirnya kami memutuskan untuk membeli printer EPSON L210 seharga Rp. 1.850.000,- , dan untuk tintanya langsung kami ganti dengan tinta Durabrite merk Manxi, yang harganya jauh diatas harga tinta original Epson, (Sebagai perbandingan, Harga Per botol (80ml) Tinta Ori Epson + Rp. 65.000,-  sedangkan Tinta Durabrite (100ml) Rp. 80.000,-) sebanding dengan kualitasnya yang sangat memuaskan, anti luntur dan tahan cuaca.
Daleman printer epson L210 ini sama persis dengan L100, pakai mika penopang selang elastis sistim infus original mirip seperti cable carrier pada mesin-mesin industri, sehingga menhindarkan resiko selang nyangkut seperti pada instalasi infus printer abal-abal.

(+) Kecepatan print lebih tinggi dibanding Epson L100
(+) Hasil Print sangat bagus
(+) Telah dilengkapi dengan scanner dan bisa berfungsi seperti mesin fotocopy
(+) Sistem Infus original, sehingga masalah tinta macet seperti pada printer infus abal-abal sama sekali belum pernah kami temui (selama ini).
(+) Cara pengisian tinta sangat mudah
(+) Dilengkapi katup pengunci dengan mode Printing & Transporting 
(+) Tampilan Rapi
(+) Pada menu printer properties sudah ada counter / penghitung jumlah yang telah diprint (printing preferences>Maintenance>Printer & option information)
Epson L210 Print Counter
(pada printer epson L100 belum ada fitur ini, sehingga untuk melihat counter, harus diprint atau dengan software  Epson Utility tool)

(-) Harga Relatif mahal jika dibanding printer injet lainya (Desember 2013 di solo = Rp. 1.850.000,-)
(-) Kecepatan lebih lambat dibanding Canon & HP
(-) Untuk melakukan fotocopy harus satu-satu, tidak bisa langsung banyak sekaligus.
(-) Tinta Asli Memakai Tinta jenis Dye yang gampang luntur jika terkena air (namun bisa diganti tinta pigmen durabrite) 
(-)Warning message / peringatan tinta habis membingungkan, udah diisi tinta tapi ga ada window form buat isi serial numbernya, dan lampu orange tetap berkedip, solusinya gunakan terus hingga muncul peringatan lagi dan tidak bisa digunakan untuk ngeprint, kemudian tekan selama kurang lebih 3 detik tombol segitiga merah / indikator warna orange, maka lampu indikator akan mati dan printer bisa digunakan kembali.
(-) Pembuatan saluran pembuangan tintanya agak ribet bila dibanding Epson L100, karena harus buka 1 sekrup yang disegel epson = hilang garansi :-(

UPDATE:
- 4 Maret 2014 (print counter: 14224)  Penarik kertas mulai suloyo, selalu menarik kertas dobel
- 4 Juni 2014 (print counter: 31014) penarik kertas mulai error / slip (bunyi kreeeeekkk  seperti bunyi roda gigi yang selip, dan harus dimatiin. bunyi kreeek, seperti roda gigi selip akhirnya bisa diatasi dengan cara membersihkan pita plastik panjang yang ada
- 6 Juni 2014 (print counter: 31355) Hasil print gambar/foto blur dan miring, dilakukan print head aligment
- 17 Nov 2014 (print counter: 60626) Printer tidak dapat narik kertas dg sempurna, narik kertas cuman sampai tengah lalu ngejam, bawa ke tukang servis, diservis sensor & roll kena biaya Rp. 90.000,-
- 12 Dec 2014 Tinta kuning nggak keluar babar blas, di cleaning bola-bali g ngefek, coba buka cartridge tinta dan disedot lancar, tapi warna tinta agak lain kuning kehitaman, kemudian bawa ke bengkel printer ternyata kualitas tinta kuning diragukan, kena ongkos 45 ribu + nginep 4 hari di bengkel
(nama bengkelnya dulu adalah i*a*e printer, sekarang ganti *s* printer, sengaja nggak kami kasih lengkap cuman ngasih clue-nya buat maen tebakan :-) , ntar dikiranya kami nge-black campaign & bermasalah seperti kasusnya mbak prita vs omni dulu)
* NB: untuk kasus ini kami g nyalahin epson sama sekali, ini murni keteledoran bengkel sekaligus penjual tinta durabrite merk manxi, mereka ngasih barang abal-abal yg harus kami bayar mahal, yang kemudian efeknya printer jadi rusak, sebenarnya bukan masalah ongkos servicenya yg cuman 45 rebu, tapi printer harus opnam di bengkel selama 4 hari + biaya bolak-balik solo-delanggu + rugi waktu + rugi potensi orang nggak jadi nge-net gara-gara printer rusak.
Kalau diitung-itung kerugian kami adalah : 
4 x Rp. 60.000,- ambil rata-rata tiap hari hasil print dapet 60 rebu 
2 x Rp. 15.000,- biaya transport 
 1x Rp. 45.000,- biaya service
 1x Rp. 80.000,- beli lagi tinta kuning manxi durabrite    
------------------------------------------------------  +
Total = Rp. 395.000,- 
kemudian kami coba minta ganti tinta kuning abal-abalnya dengan tinta baru, ternyata pihak toko/bengkel nggak ngasih... 
(ini namanya pihak toko ra mbejaji & g mau tanggung jawab, orang mereka ngasih tinta yg g sesuai, dan kami bayar penuh, ternyata tinta palsu ngerusak printer, ntar lain kali kalian jual lagi tuh tinta !!, biar dapet servisan lagi , yah apa bedanya kalian dengan tukang tambal ban penebar paku di jakarta sono???)

mohon distributor tinta MANXI durabrite untuk ngechek kualitas & kelakuan anak buahnya. karena nggak mungkin kami beli tinta tersebut ditoko lain selain distributor resmi.
Dengan kejadian ini kami berpikir untuk ganti tinta dengan brand terkenal yang distribusi luas & kualitasnya terjamin, mmmm... pilih tinta mana ya, Dataprint atau Blue print?? ada saran??

Ok marah-marahnya kelar sekarang dah tenang, mbalik lagi ke topik ya...
- 13 - 20 Maret 2015 (printer counter 79824)
Gejala awalnya adalah kertas seringkali terlipat sehingga bikin head stuck/jam, kertas harus dilepas secara manual (masalah ini bisa diatasi sendiri dengan cara menempelkan selutape dibawah sepanjang lintasan head printer), Selalu bermasalah jika menarik kertas foto tebal.
Kemudian setelah beberapa saat berlanjut seluruh indikator blinking, printer macet, masuk di bengkel, sempat hampir divonis mati mainboard, akhirnya setelah menjalani rawat inap seminggu dan dilakukan pemeriksaan mendalam, ketemu masalahnya ternyata di penarik kertas - kena biaya Rp. 70.000,-

- 1 Oktober 2015 (printer counter 112437)
Gejala awal hasil print bergaris parah sekali, dicleaning bolak-balik nggak ngefek sama sekali, akhirnya head malah mati. ganti Head Printer Epson L210 kena biaya Rp. 575.000,- di solo (ck..ck..ckk biaya yang sangat mahal, cukup buat beli 1 printer baru merk lain)

- 4 Desember 2015 (printer counter 126455)
saat dipakai ngeprint timbul suara berisik (mungkin berasal dari penarik kertas) kemudian printer nge-jam, nggak bisa buat ngeprint sama sekali, sebenarnya masalahnya paling di mekanik penarik kertasnya. karena males bolak-balik ke bengkel, serta mengingat usia printer yang udah 2 tahun & print counter yang telah mencapai 126.455, dengan pertimbangan bahwa sudah banyak komponen yang aus sehingga biaya maintenance yang sudah tidak ekonomis maka kami putuskan untuk mengistirahatkan dan ganti dengan printer baru.(R.I.P EPSON L210 - 2013-2015)

10. EPSON L220
Hari itu 5 Desember 2015, liat pameran komputer di Diamond Solo, sekalian nyari printer buat pengganti L210 yang ngadat. akhirnya dapat EPSON L220 dengan harga Rp. 2.100.000,-

Review:
L220 Tampilan fisik tak beda jauh dengan Epson L210, cuman pada L220 pada tabung tintanya sekarang tak lagi pakai tombol putar transport yang berfungsi untuk menutup tinta saat printer sedang dipindahkan. dengan tidak adanya tombol transport tersebut maka kita tak perlu repot mutar-muter saat mau dipindahkan, serta mengurangi kesalahan yang menyebabkan kerusakan ketika lupa untuk menormalkan kembali tombol tersebut, dan printer digunakan untuk mencetak, sehingga head kehabisan tinta dan panas.
Software scan sama dengan L210

(+) Kecepatan print lebih tinggi dibanding Epson L210
(+) Hasil Print sangat bagus
(+) Telah dilengkapi dengan scanner dan bisa berfungsi seperti mesin fotocopy
(+) Sistem Infus original, sehingga masalah tinta macet seperti pada printer infus abal-abal sama sekali belum pernah kami temui (selama ini).
(+) Cara pengisian tinta sangat mudah (tanpa serial number, tekan 3 detik tombol segitiga merah indikator warna orange, maka lampu indikator akan mati dan printer bisa digunakan kembali.)
(+) Tanpa katup pengunci Transport
(+) Tampilan Rapi (dibanding printer infus  modifan toko)
(+) Pada menu printer properties sudah ada counter / penghitung jumlah yang telah diprint (printing preferences>Maintenance>Printer & option information)

(-) Harga Relatif mahal jika dibanding printer injet lainya (Desember 2015 di solo = Rp. 2.100.000,-)
(-) Kecepatan lebih lambat dibanding Canon & HP
(-) Untuk melakukan fotocopy harus satu-satu, tidak bisa langsung banyak sekaligus.
(-) Tinta Asli masih memakai Tinta jenis Dye yang gampang luntur jika terkena air
(-)Warning message / peringatan tinta habis membingungkan, udah diisi tinta tapi ga ada window form buat isi serial numbernya, dan lampu orange tetap berkedip, solusinya gunakan terus hingga muncul peringatan lagi dan tidak bisa digunakan untuk ngeprint, kemudian tekan selama kurang lebih 3 detik tombol segitiga merah / indikator warna orange, maka lampu indikator akan mati dan printer bisa digunakan kembali.
(-) Pembuatan saluran pembuangan tintanya agak ribet bila dibanding Epson L100, karena harus buka 1 sekrup yang disegel epson = hilang garansi :-(
(-) Persiapan Scan lebih lambat dibanding Epson L210, saat pakai L210 setelah selesai preview, langsung tekan tombol Scan, maka proses scan langsung jalan, tapi L220 harus nunggu lampu indikator power hijau berhenti berkedip dulu, baru bisa tekan tombol scan, jika menekan tombol scan kemudian OK saat lampu hijau masih berkedip maka akan timbul bunyi DUEENG dan ada peringatan this product is warming up or in use.
 

5 Desember 2015 - Print Counter EPSON L220 = 0
Beli printer baru saat pameran di diamond solo seharga Rp. 2.100.000,-

9 Maret 2016 - Print Counter EPSON L220 = 16.983
Indikator tinta dan kertas ngeblink warna oranye, printer tidak dapat digunakan, karena waste ink pad penuh dan harus direset.
googling kesana kemari, banyak tutorial copy paste abal-abal cara reset printer epson L220, setelah didownload ternyata enggak bisa digunakan, woalah jebule mereka adalah para bloger tukang copy paste penembak keyword, tanpa pernah nyobain terlebih dahulu materi artikel tutorial sampahnya.
akhirnya setelah beberapa ratus jurus berlalu berhasil nemuin WIC reseter, yang harus online dan mbayar, tapi dengan memasukkan password trial berhasil direset 10% doank. tapi lumayan nolonglah disaat darurat, akhirnya printer dapat digunakan dengan normal kembali.

28 Juni 2016 - Print Counter EPSON L220 =  33.674
hasil print bergaris, di cleaning bola-bali masih agak bergaris, kemudian di power ink flushing sekalian aja, masih sedikit bergaris, coba dicleaning lagi, badalaaaaa... malah jadi ngblink oranye, dan printer ngadat karena waste ink pad full.
jika dulu googling belum ada reseter yang cocok untuk L220, maka dengan sedikit gambling bahwa udah 3 bulan mosok belum ada reseter yang mujarab, akhirnya dimulailah pencarian ini, dan hasilnya sama dengan 3 bulan lalu, belom ada reseter yang cocok di internet, yang ada malah para tukang reseter online yang dikerjakan jarak jauh di remote dengan teamviewer, flexihub, ultraviewer dan software sejenis lainya.
keinget 3 bulan lalu pernah berhasil reset dengan WIC reseter trial, akhirnya nyoba lagi, dan hasilnya gatot gatal alias gagal total, ternyata WIC reseter itu ngerecord entah ip address atau serial number printer kita, jadi versi trialnya cuman dapat dipake ngereset sekali doank, itupun cuman 10% (meski hanya 10% tapi lumayan juga lho, bisa digunakan ngeprint 33.674-16.983=16.691 lembar)
sebenarnya kalau pengen cepet bisa pilih jasa tukang reseter online tersebut, tapi berhubung pengen nge chek-upkan printer sekalian bikin pembuangan tinta & bersih-bersih printer, makanya bawa aja ke bengkel langganan, reset+bikin pembuangan tinta+bersih-bersih printer kena Rp.80.000,-






==================================
Kesimpulan Terakhir:
Secara umum masalah printer hanya seputar cartridge & tinta, makanya jika nekad pingin pakai sistem infus modifan, cari teknisi yang betul-betul handal berpengalaman, bukan cuman yang bisa masang asal-asalan & jualan doank, ntar kalo biaya maintenance over budget nyesel loh....  :-)

Dari sekian banyak printer yang telah kami gunakan selama ini (2007 - 2016) dengan rata-rata pengeprint-an + 100-150 lempar per hari akhirnya kami sangat puas dengan kinerja printer EPSON L100 , L210 & L220, terlepas dari harga printer serta tinta original yang relatif mahal, tapi dengan printer ini, masalah-masalah seputar printer rewel, tinta macet, sampai tangan belepotan tinta karena coba benerin printer yg lg ngadat, tidak pernah kami alami selama ini, dan Alhamdulilah, selama ini meski kami selalu menggunakan tinta original yang notabene harganya 6-7 kali lipat lebih mahal dari tinta infus biasa, tetapi ternyata masih profit juga.
Semoga nantinya Epson juga bikin Epson Stylus Office TX300F versi infus original... wuihh.. pasti keren tuh.. printer all in one (Print, Scan, Copy, Fax) cuocok tenan buat small office atau UKM.

Kami sangat salut akan langkah inovatif pihak EPSON bersama tim Unit Reaksi Cepat-nya yang sigap merespon pasar dengan mengeluarkan Printer Infus Original pertama di dunia, besar harapan kami Produsen printer lainya (HP & Canon) kelak juga akan mengeluarkan produk serupa.
Gak usah malu kalau disebut tiru-tiru Epson, toh dulu puluhan tahun Honda single fighter merajai blantika permotoran di indonesia dengan teknologi motor  4 tak-nya yang irit & ramah lingkungan, kemudian pabrikan lain pun (Suzuki, Yamaha, Kawasaki) akhirnya rame-rame ngikut berkompetisi meramaikan pasar motor 4 tak, 
atau inovasi kymco dengan jetmatic, skuter matic tanpa giginya, yang pada akhirnya pabrikan ini malah gulung tiker dilibas oleh Honda, Suzuki & Yamaha yang dateng blakangan membawa pasukan maticnya...
serta steve job yang pertama ngenalin sistem operasi PC yang berbasis grafis (GUI) saat yang lain masih CLI serta dengan iPOD yang merevolusi penjualan musik dari kaset/CD ke sistem online atapun peluncuran iphone handphone  full touch screen pertama kali di dunia, yang sekarang kesemuanya itu menjadi trend dan booming serta ditiru kompetitor
yah mungkin inilah yang disebut revolusi industri, suatu penemuan / inovasi dan sukses akan ditiru pihak lain yang akhirnya terjadi persaingan usaha...
Ayo kalian pasti bisa, yang penting saingan secara sehat, lak yo ngono to...!!

------------
Update 2016
Akhirnya doa kita terkabul mas broo & mbak sist sekalian, kesuksesan Epson seri L dengan infus originalnya ternyata bikin kompetitor Epson (Canon, HP & Brother) pada  kegatelan semua, ngikutin jejak epson bikin printer Original Ink Tank Series: 


CANON G series (Canon PIXMA G1000 & G2000) 
HP GT Series (HP Deskjet GT5820) 

   Brother DCP-T500W dan Brother DCP-T700

Tapi anehnya harganya kok mirip dengan Epson L Series (apakah mereka juga nerapin sistem kartel kayak produsen motor matik kita? pada sepakat, kompromi bikin produk sejenis tapi dengan harga yang nyaris seragam),
but it's OK, yang penting sekarang kita punya lebih banyak opsi milih printer yang joss gandoz.
dan yang penting mereka produsen printer itu akhirnya nyadar nggak lagi menitikberatkan fokus penjualan pada sparepart (cartridge/head) tapi pada tinta original, percayalah pasti laku, karena user corporate (perbankan, kantor-kantor BUMN maupun Perusahaan swasta nasional / multinasional) pasti milihnya tinta ori, kalo ternyata dalam prakteknya diisi tinta merk lain, bisa dipastikan ada oknum yang lagi coba-coba kurupsi tuh hehehe.... tinta non ori tuh cocoknya ya buat UKM

mmmm... akankah terulang kembali sejarah kymco sodara-sodara?
saran buat Epson sang pelopor jangan berhenti terus berinovasi jangan sampai sejarah motor/matic terulang kembali di dunia perprinteran...!!!


----------

Tambahan
Berikut ini adalah perbandingan umum antara printer HP, Epson dan Canon:
sumber: http://id.answers.yahoo.com

>> HP.
  1. Untuk Print Out relatif cepat
  2. Untuk print gamBar lebih bagus pakai Inkjet paper, klu Glossy kurang bagus, berpendar.. kadang pecah!
  3. Di beberapa printer, bisa memakai 1 catrid saja...
  4. Harga refill di refill center ataupun isi sendiri, relatif murah..
  5. Harga catrid original berkisar 140rb keatas...
  6. Print head dengan Sirkuit ada di catrid, jadi klu ada masalah dengan headnya, kamu ganti catrid aja, ga usah repot service kya Epson atw canon..
  7. Perawatan relatif gampang, seminggu print 1 lembar..

>>> Epson
  1. Print out agak lama
  2. Bagus bgd untuk cetak gambar..
  3. Cartridge harus dipasang semua... di beberapa printer, klu 1 catridge/ 1 warna habis, yang lain ga bisa terpakai.. alias ga bisa print out sama sekali!
  4. Harga tinta lumayan nguras..
  5. Harga catrid ori sekitar 160rb keatas..
  6. Print Head ada di Printer, jadi klu print head mampet, kamu harus servis printer kamu,,, ganti catrid ga akan mengatasi masalah..
  7. Perawatan harus rajin.. minimal seminggu 2-3x ngeprint..
  8. tinta sangat boros... karna setiap catrid bergerak ke kanan / kiri saja, dy selalu mmbuang sedikit tinta untuk membasahi headnya...
  9. Ada beberapa yang belum bisa di isi ulang! harus pake original, direset atw di ganti chipnya.

>>> Canon
  1. Print out agak lama
  2. Hasil lumayan untuk cetak gambar
  3. Di beberapa printer, bisa memakai 1 catrid saja... di sebagian lain harus sepasang.. klu 1 catrid ga akan mau ngprint..
  4. Harga refill di refill center ataupun isi sendiri, relatif mahal..
  5. Harga catrid original berkisar 190rb keatas...
  6. Di sebagian printer, print Head ada di Printer, jadi klu print head mampet, kamu harus servis printer kamu,,, ganti catrid ga akan mengatasi masalah, beda dengan yang print head gabung dng catrid, langsung ganti catrid ajah..
  7. Perawatan harus rajin.. minimal seminggu 1-2x ngeprint..
  8. Tinta sangat boros... karna setiap catrid bergerak ke kanan / kiri saja, dy selalu membuang sedikit tinta untuk membasahi headnya...

Catatan:
Artikel ini kami buat adalah murni dari pengalaman sendiri, dan bukanlah artikel komersial (adv.) alias iklan (paling cuman buat manas-manasin produsen printer buat bikin produk yg inovatif hehehe..), dan tidak ada maksud untuk mendiskreditkan pihak/produk perusahaan tertentu, serta maaf jika banyak tata bahasa yang tidak sesuai setandar EYD bahkan seringkali Out Of Topic, wes ben waelah namane juga curhat.. iya toh...
Dan jika ada pihak-pihak yang kurang berkenan terhadap artikel ini mohon maaf dan lahir bathin serta harap maklum aja ya..!

19 comments:

jo mengatakan...

Mas Bro,
Kenapa printer L100 harus di kasih saluran pembuangan tinta?
Saya punya L800 soalnya...barangkali aja memang perlu.

Thanks,
Jo

nuladha segara mengatakan...

trima kasih informasinya. sangat membantu. juga suka dengan cara pemaparannya. kalimat-kalimat oot-nya juga menghibur. joss tenan pokoke, matur sembah nuwun.

X|FiRE net mengatakan...

@Jo: Semua Printer tinta pasti melakukan proses cleaning, dan biasanya tinta buangan hasil cleaning head tersebut ditampung pada pad, nah biar g mbludak maka perlu dikasih saluran pembuangan eksternal, ntar resetnya pake software

@Nuladha segara
Sami-sami bro/sist...

AllYouCanHere mengatakan...

Saya suka tulisannya ^_^
bagi pin bb donk...

Dimitri Medvedev mengatakan...

MakasiH banget tulisannya mas bro. artikelnya sangat b'manfa'at bagi saya.
Thanks

Anonim mengatakan...

terus solusinya piye mas bro ? printer opo seng pas buat warnet ? opo EPSON L100, terakir pakai epson t13x cuma bertahan 5 bulan, indonesia ini kok kelihatan orangnya gak cerdas di kasih barang sampah diam saja, apa kantor ke-3 printer kita demo kalau perlu kita bakar

X|FiRE mengatakan...

Coba aja L100 atau L110 sekalian, hampir 2 tahun ini kami pake L100, baru sekali ganti ASF, selebihnya ga' ribet lagi ngurusin tinta bocor & mampet kayak dulu...

Budi Utomo mengatakan...

Mase,,,, kok printerku suka eror ya? pake HP officejet J3508 All in One printer ngeprintnya luama banget,,,,
pek kesel,,, solusinya donk..

Thanks full
:)

Anonim mengatakan...

mas bro,
numpang nanya sedikit dong hehe. waktu itu ganti ASF HP f2410 nya berapa mas? punya saya kayanya ASF nya yg rusak deh, spare part nya susah banget nyarinya tukang servisnya ga bisa katanya -__-

thanks yo mas

DIKI mengatakan...

Tulisannya bagus, infonya juga bagus. Top markotop.
Ma kasih gan...

Anonim mengatakan...

mas bro gmn cara nyuntik tinta hp D1050 agar bisa dipakai awet?

Sapta Kurnia Akbar mengatakan...

Gan mo nanya, apa Canon MP 237, umur catridge nya emang rendah yah? (gampang rusak), soalnya daj 3x ganti catridge hitam dan rata" setiap hasil cetak sekitar 4Rim aja, Kondisi Printer Infusan, Mohon Informasinya n Terimakasih

Rani Silovall mengatakan...

wah padahal pengen punya printer+scanner dari HP yg super murah itu..
gan sekarang pake printer apa? mohon diupdate dong ulasannya..

yulia anti mengatakan...

bermanfaat bgt ulasannya��

Aburasyid mengatakan...

mau tanya mas
kalau pakai printer Canon IP2770 itu maksimal berapa lembar ya dia bisa ngeprint sampai cartridge nya macet.

saya biasa pakai sampai 10 rim baru macet. apa itu termasuk cepat atau lama ya...

terkadang 1x sebulan dah ganti cartridge hitam.

mohon solusinya mas. tq

X | FiRE mengatakan...

@Aburasyid
Maaf kami belum pernah menggunakan printer tersebut, tapi selama kami menggunakan Epson seri L (L100,L210,L220) 10Rim x 500 lembar = 5000 adalah pengeprinan kami rata-rata perbulan, sedangkan masalah head / cartridge muncul setelah pemakaian rata-rata diatas 1 tahun, monggo silahkan disimpulkan sendiri...

Abdulqomar udin mengatakan...

Wah.. salam kenal Mas bro "maaf sy gak tau nama asli sampean" salut dengan cerita berikut pengalamannya... sy pernah jg memakai printer Canon,Epson,brother jg HP semuanya ya cukup memuaskan.. ada kecewa jg senangnya.. asumsi saya sih itu kan mesin ya.. namanya mesinkan untuk membantu pekerjaan manusia..artinyakan manusianya jg yang hrs mau bekerja merawat mesin itu sendiri.. supaya manusianya bisa di bantu sama mesin itu pekerjaannya.. kurang lebih KARMA kali ya...Hehehe

TEGESE NGENE!!
ckckc.. "istilah Jatim"
Jenenge mesin wes kerjo ngaselke DUIT sampe ndorone iso tuku lemah lan omah yo wajarlah neg suatu saat rusak/njaluh servis...(suatu saat yo bukan tiap saat koyo mesinku merk Ce..C...E..= CE**N"ngimbangi sampean hehe)hampir tiap slese print arep print neh hasil e bedo.. seng nggaris lah.. seng banjirlah.. seng blink²

Yaa di nikmatin aja..

Amar Satria Muharram mengatakan...

Artikel yang Sangat Bermanfaat , Menarik , dan detail sekali dan Terupdate sampai sekarang . 2 jam cerita nya baru selesai ni :v .

Oh Iya , aku liat liat ada keluaran printer Epson terbaru yaitu L360 daripada versi sebelumnya yang L350

Dan yang dipertanyakannya Apa bedanya Epson L350 dengan Epson L360 ?
soalnya saya baru saja membeli Epson l360 dibulan Agustus 2016 :D

Anonim mengatakan...

Kalau tidak salah thn 2014 saya menggunakan L110 dengan harga 1.400.000, bertahan sampai 6 bulan dengan counter mencapai 201.200 atau sekitar 400rim, betul kelemahan ada di ASF karena saya dikejar waktu akhirnya sy pindah ke deskjet j1000, printer murah meriah hehehehe sy beli second 250 rebong berikut catridge masih bagus, untuk counter mencapai 112.000 atau 224rim, yang rontok bukan asfnya tapi catridgenya 2x ganti (80+140=220)x 2 = 440rb

Kalkulasinya :
Harga Printer 250.000
Catridge 440.000
Tinta suntik 100.000
Total 790.000 untuk 220rim, jadi per rim 3.590 (Rp.7 per lembar)
Untuk Epson L110
Harga 1.400.000
Tinta 70.000 x 4 = 280.000
Total 1.680.000 untuk 400rim, jadi per rim 4.200 (Rp.8 per lembar)
Hasilnya pilih mana?????

Jelas saya pilih HP, sekarang sudah punya 2 printer D1010 masih beroperasi, yg satu counter sudah 118.720 dan satu lagi 90.887 lebih happy lagi saya pake infus sendiri jadi ga pake suntik menyuntik lagi....eeee kelupaan diatas lemari masih ada lagi 1 buah printer d1010 kondisi baru, buat ban serep..............