30 April 2011

3 Pengemis dan Nasi Bungkus

  • Share
  • [i]
Alkisah ada tiga orang pengemis yang sedang beristirahat sambil merebahkan diri di sebuah emperan toko. Mereka memutuskan berhenti sejenak karena malam sudah begitu larut, ditambah hujan yang turun sangat deras sejak siang hari. Lelah, lapar dan lesu telah membuat mata mereka mengantuk, dan langsung terlelap dalam mimpi.


Saat terbangun dari tidur keesokan harinya, ketiga pengemis itu dikejutkan oleh tiga bungkus nasi hangat yang telah diletakkan oleh seseorang pada saat mereka masih tertidur. Entah siapa yang meletakkan, bagi mereka hal itu tidak begitu penting. Yang ada di pikiran mereka hanyalah nasi hangat itu tentu sangat nikmat disantap.

Pengemis pertama merasa senang luar biasa. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyantap nasi bungkus tersebut dengan lahapnya. Perutnya memang kosong, sejak kemarin belum terisi makanan. Setelah selesai menikmati hidangan nasi bungkus dan merasa kenyang, dia pun kembali tidur.


Pengemis kedua juga merasa senang, namun di dalam hatinya terus bertanya, siapakah gerangan orang yang telah bermurah hati mau memberi mereka rezeki di pagi hari ini. Namun saat ia membuka bungkus nasi dan hanya menemukan nasi dengan lauk sebutir telur dan sedikit sayur, ia agak kecewa. Dia mengguman hati, "kenapa isi lauknya bukan ayam. Memberikan rejeki kok tanggung-tanggung". Sambil terus bertanya dia pun mulai menikmati dan menghabiskan nasi bungkus tersebut.


Pengemis ketiga, dia juga merasa senang dengan rezeki yang diterimanya pagi itu. Sebelum membuka nasi bungkus itu, terlebih dahulu ia mengangkat kedua belah tangannya, dan mengucap syukur kepada Sang Pemberi Rezeki. Dia mendoakan semoga orang yang bermurah hati dan memberikan nasi bungkus itu diberikan rezeki yang berlebih oleh Sang Pencipta. Setelah selesai berdoa, barulah dia nikmati nasi terebut dengan lahap.


Dengan menggunakan analogi di atas, saya mengajak Anda untuk memilih, dari ketiga pengemis tersebut mana yang paling Anda sukai? Pasti jawaban Anda adalah pengemis ketiga.
Cerita di atas mengajarkan kita bagaimana kita perlu bersyukur pada saat menerima pemberian orang. Menurut orang bijak, yang membuat kita banyak tenggelam dalam derita adalah, kurangnya mensyukuri nikmat yang telah dikaruniakan.


Marilah kita nikmati segala karunia dengan penuh rasa syukur. Selain akan menjadi amal, syukur akan membuat hidup lebih ringan dan indah. Syukur akan nikmat ini lebih besar dari seluruh harta dunia dan seisinya.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya, sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, dan jauh dari stres. Berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

(Adi Sumanto/dila)

0 comments: