Bookmark and Share
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

02 Mei 2011

Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono


Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono :
Air selokan
Aku ingin
Akulah si telaga
Angin, 1
Angin, 2
Angin, 3
Atas kemerdekaan
Berjalan ke barat waktu pagi hari
Buat ning
Bunga, 1
Bunga, 2
Bunga, 3
Cara membunuh burung
Cermin, 1
Cermin, 2
Dalam doa
Dalam bis
Dalam diri ku
Di sebuah halte bis
Di atas batu
Dua peristiwa dalam satu sajak dua bagian
Gadis kecil
Gonggong anjing
Hatiku selembar daun
Hujan bulan juni
Hutan kelabu
Kami bertiga
Kepompong itu
Ketika jari-jari bunga terluka
Ketika menunggu bis kota, malam-malam
Kisah
Kukirimkan padamu
Kuterka gerimis
Lirik untuk lagu pop
Mata pisau
Pada suatu hari nanti
Pada suatu pagi
Perahu kertas
Peristiwa pagi tadi
Pertapa
Pesan
Pesta
Puisi cat air untuk rizki
Sajak kecil tentang cinta
Sajak nopember
Sajak subuh
Sajak telur
Selamat pagi indonesia
Seruling
Setangan kenangan
Sihir hujan
Sonet: x
Sudah kutebak
Tajam hujanmu
Tekukur
Telinga
Tentang matahari
Tuan
Yang fana adalah waktu




-------------

AIR SELOKAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.

Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.

Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:

"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"

Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

AKU INGIN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

AKULAH SI TELAGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

ANGIN, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, "hei siapa ini yang mendadak di depanku?"

angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi
-- sampai pagi tadi:

ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di tengah bising-bising ini tanpa Hawa

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

ANGIN, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

ANGIN, 3
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

"Seandainya aku bukan ......
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,
menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.

"Seandainya aku . . . ., ."
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.

"Seandainya ......
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

ATAS KEMERDEKAAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari yang ketujuh tiba
sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu :
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah

Horison
Thn III, No. 8
Agustus 1968
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

DI TANGAN ANAK-ANAK
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung . yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan; di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.
"Tuan, jangan kauganggu permainanku ini."
Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,
1982.

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan


BUAT NING
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

pasti datangkah semua yang di tunggu
detikdetik berjajar pada mistar yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu

januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tibatiba kita bergegas pada jemputan itu
***


BUNGA, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

(i)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padangwaktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca berdenyut ketikanampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas padang itu;
malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, "Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!"

(ii)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-selageraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar dan setelah api ....

Teriaknya, "Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!"

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

BUNGA, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik
taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata
jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya -- tak ada
alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin
menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu
kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya
selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan menjelma
pendar-pendar di permukaan kolam

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

BUNGA, 3
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah berwarna coklat ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di pintu
tak ada sahutan

seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya mengeras di empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika terdengar ada yang memaksa membuka pintu
lalu terdengar seperti gema "hai, siapa gerangan yang telah membawa pergi jasadku?"

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

CARA MEMBUNUH BURUNG
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

bagaimanakah cara membunuh burung yang suka berkukuk bersama teng-teng jam dinding yang tergantung sejak kita belum dilahirkan itu?

soalnya ia bukan seperti burung-burung yang suka berkicau setiap pagi meloncat dari cahaya ke cahaya di sela-sela ranting pohon jambu (ah dunia di antara bingkai jendela!)

soalnya ia suka mengusikku tengah malam, padahal aku sering ingin sendirian
soalnya ia baka

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

CERMIN, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

cermin tak pernah berteriak;
ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

CERMIN, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

mendadak kau mengabut dalam kamar, mencari dalam cermin;
tapi cermin buram kalau kau entah di mana, kalau kau mengembun dan menempel di kaca, kalau kau mendadak menetes dan tepercik ke mana-mana;
dan cermin menangkapmu sia-sia

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


DALAM DOA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

saat tiada pun tiada
aku berjalan (tiada
gerakan, serasa
isyarat) kita pun bertemu
sepasang tiada
tersuling (tiada
gerakan, serasa
nikmat): Sepi meninggi.


DALAM BIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

langit di kaca jendela bergoyang
terarah kemana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada
***

DALAM DIRI KU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

dalam diriku mengalir
sungai panjang
darah namanya

dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya

dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya

dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya
***



DI SEBUAH HALTE BIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkanmu di sana. Kau memang tak pernah berumah, dan hujan tua itu kedengaran terengah batuk-batuk dan tampak putih.

Pagi harinya anak-anak sekolah yang menunggu di halte bis itu melihat bekas-bekas darah dan mencium bau busuk. Bis tak kunjung datang. Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu. Mereka menjadi kesal dan, bagai para pemabok, berjalan sempoyongan sambil melempar-lemparkan buku dan menjerit-jerit menyebut-nyebut namamu.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



DI ATAS BATU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana ke mari
ia pandang sekeliling : matahari yang hilang - timbul di sela goyang daun-daunan, jalan setapak yang mendaki tebing kali, beberapa ekor capung
-- ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


DUA PERISTIWA DALAM SATU SAJAK DUA BAGIAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

1
sehabis langkah-langkah kaki: hening
siapa?
barangkali si pesuruh yang tersesat dan gagal menemukan tempat- tinggalmu padahal sejak semula sudah diikutinya jejakmu
padahal harus lekas-lekas disampaikannya pesan itu padamu

2
seolah-olah kau harus segera mengucapkan sederet kata
yang pernah kaukenal artinya,
yang membuatmu terkenang akan batang randu alas tua
yang suka menjeritjerit kalau sarat berbunga

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

GADIS KECIL
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibas tangis
di pinggir pagar, ada pohon
dan seokor burung
***

GONGGONG ANJING
untuk Rizki
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

gonggong anjing itu mula-mula lengket di lumpur
lalu merayapi pohon cemara dan tergelincir terbanting di atas rumah
menyusup lewat celah-celah genting
bergema dalam kamar demi kamar
tersuling lewat mimpi seorang anak lelaki
siapa itu yang bernyanyi bagai bidadari?" tanya sunyi

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

HATIKU SELEMBAR DAUN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

HUJAN BULAN JUNI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
***

HUTAN KELABU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kau pun kekasihku
langit di mana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan rindu ini
temaram kepadaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalan hutan
lalu kelabu menabuh nyanyian
***

KAMI BERTIGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

dalam kamar ini kami bertiga :
Aku, pisau dan kata –
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata
***

KEPOMPONG ITU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kepompong yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan

kepompong itu juga mendengar rohmu yang bermimpi dan meninggalkan tubuhmu: melepaskan diri lewat celah pintu, melayang di udara dingin sambil bernyanyi dengan suara bening dan bermuatan bau bunga

dan kepompong itu hanya bisa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan-kiri, belum saatnya ia menjelma kupu-kupu; dan, kau tahu , ia tak berhak bermimpi

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KETIKA JARI-JARI BUNGA TERLUKA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

ketika jarijari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulubulu mata

suatu pagi, di sayap kupukupu
di sayap warna, suara burung
di rantingranting cuaca
bulubulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bungabunga rekah

ketika jarijari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit meyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulubulu mata
***


KETIKA MENUNGGU BIS KOTA, MALAM-MALAM
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

"Hus, itu bukan anjing; itu capung!" katanya. Tapi capung tak pernah terbang malam, bukan? Capung tak suka ke tempat sampah
-- biasanya ia hinggap di ujung daun rumput waktu pagi hari,

dan kalau ada gadis kecil akan menangkapnya ia pun terbang ke balik pagar sambil mendengarkan suara "aahh!" Tubuhnya mungil, bukan?

Sedangkan yang kulihat tadi jelas anjing kampung yang ekornya buntung, menjilatjilat tempat sampah yang di seberang halte itu, mengelilinginya,
lalu kencing di sudutnya.

Hanya saja, aku memang tak melihat ke mana gaibnya.

"Itu capung!" katanya. Sayang sekali bahwa kau merasa tak melihat apa pun di seberang sana tadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KISAH
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu. Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi.

Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.

Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu. la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.

Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KUKIRIMKAN PADAMU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.

Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KUTERKA GERIMIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Kuterka gerimis mulai gugur
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu
Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu

Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

LIRIK UNTUK LAGU POP
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan yang gerimis
-- pandangmu adalah seru butir air tergelincir dari duri mawar (begitu nyaring!); swaramu adalah kertap bulu burung yang gugur (begitu hening!)

aku pun akan memecah pelahan dan bertebaran dalam hutan; berkilauan serbuk dalam kabut
-- nafasmu adalah goyang anggrek hutan yang mengelopak (begitu tajam!)

aku akan berhamburan dalam grimis dalam seru butir air dalam kertap bulu burung dalam goyang anggrek
-- ketika hutan mendadak gaib

jangan pejamkan matamu:

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

MATA PISAU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

mata pisau itu tak berkejap menatapmu
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu


PADA SUATU HARI NANTI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam baitbait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi diantara larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di selasela huruf sajak ini
kau tak akan letihletihnya kucari
***

PADA SUATU PAGI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

maka pada suatu pagi hari
ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu.
Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik
dan lorong sepi
agar ia bisa berjalan sendiri saja
sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit
berteriak-teriak
mengamuk memecahkan cermin
membakar tempat tidur.
Ia hanya ingin menangis lirih saja
sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik
di lorong sepi pada suatu pagi.
***


PERAHU KERTAS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.

"Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,

"Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit."

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

PERISTIWA PAGI TADI
kepada GM

Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.

Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, Ialu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.

Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu tentang aku yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulans dan meninggal sesampai di rumah sakit.

Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa itu.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

PESAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya.

Kami saling mencinta, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.

Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan .....

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

PESTA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

pesta berlangsung sederhana. Sedikit tangis, basa-basi itu; tinggal bau bunga gemetar pada tik-tok jam, ingin mengantarmu sampai ke tanah-tanah sana yang sesekali muncul dalam mimpi-mimpinya
. . . di sumur itu, si Pembunuh membasuh muka, tangan, dan kakinya

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

PUISI CAT AIR UNTUK RIZKI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telpon itu, "aku rindu, aku ingin mempermainkanmu! "

kabel telpon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas, "jangan berisik, mengganggu .
hujan!"

hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,
hardiknya, 'lepaskan daun itu!"

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SAJAK KECIL TENTANG CINTA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu(mu) harus menjadi aku
***

SAJAK NOPEMBER
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Siapa yang akan berbicara untuk kami
siapa yang sudah tahu siapa sebenarnya kami ini
bukanlah rahasia yang mesti diungkai dari kubur
yang berjejal
bukanlah tuntutan yang terlampau lama mengental
tapi siapa yang bisa memahami bahasa kami
dan mengerti dengan baik apa yang kami katakan

siapa yang akan berbicara atas nama kami
yang berjejal dalam kubur
bukanlah pujian-pujian kosong yang mesti dinyanyikan
bukanlah upacara-upacara palsu yang mesti dilaksanakan
tapi siapa yang sanggup bercakap-cakap dengan kami

siapa yang bisa paham makna kehendak kami
kami yang telah lahir dari ibu-ibu yang baik dan sederhana
ibu-ibu yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus
tanpa dicatat namanya
kepada Ibu yang lebih besar dan agung :
ialah Tanah Air

kami telah menyusu dari pada bunda yang tabah
yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus
untuk pergi lebih dahulu
apakah kau dengan para bunda itu mencari kubur kami
apakah kau dengar para bunda itu memanggil nama kami
mereka hanya berkaata : akan selalu kami lahirkan anak-anak yang baik
tanpa mengeluh serta putus asa

di Solo dua orang dalam satu kuburan
di Makasar sepuluh orang dalam satu kuburan
di Surabaya seribu orang dalam satu kuburan
dan kami tidak menuntut nisan yang lebih baik
tapi katakanlah kepada anak cucu kami;

di sini telah dikubur pamanmu, ayahmu, saudaramu
bertimbun dalam satu lobang
dan tiada yang tahu siapa nama mereka itu satu-persatu

tambur yang paling besar telah ditabuh
dan orang-orang pun keluar untuk mengenangkan kami
terompet yang paling lantang ditiup
dan mereka berangkat untuk menangiskan nasib kami dulu
kami pun bangkit dari kubur
memeluki orang-orang itu dan berkata : pulanglah
kami yang mati muda sudah tentram, dan jangan
diusik oleh sesal yang tak keruan sebabnya

kami hanya berkelahi dan sudah itu : mati
kami hanya berkelahi untukmu, untuk mereka
dan hari depan, sudah itu : mati

orang-orang pun menyiramkan air bunga yang wangi saat itu
tanpa tahu siapa kami ini
tiada mereka dengarkan ucapan terimakasih kami yang tulus
tiada mereka dengarkan salam kami bagi yang tinggal
tiada mereka lihatkah senyum kami yang cerah
dan sudah itu : mati

siapa berkata bahwa kami telah musnah
siapa berkata
kami kenal nama-namamu di mesjid di gereja di jalan di pasar
kami kenal nama-namamu di gunung di lembah di sawah
di ladang dan di laut, meskipun kalian
tiada menyadari kehadiran kami

siapa berkata bahwa kami telah musnah
siapa berkata
tanah air adalah sebuah landasan
dan kami tak lain baja yang membara hancur
oleh pukulan

ialah kemerdekaan
kemarin giliran kami
tapi besok mesti tiba giliranmu
kalau saja kau masih mau tahu ucapan terimakasih
terhadap tanah tempatmu selama ini berpijak
hidup dan mengerti makna kemerdekaan
dan kami adalah baja yang membara di atas landasan
dibentuk oleh pukulan : ialah kemerdekaan
(mungkin besok tiba giliranmu)

siapa yang tahu cinta saudara, paman dan bapa
siapa yang bisa merasa kehilangan saudara, paman dan bapak
ingat untuk apa kamu pergi
siapa yang pernah mendengar bedil, bom dan meriam
siapa yang sempat melihat luka, darah dan bangkai manusia
ingat kenapa kami tak kembali
begitu hebatkah kemerdekaan itu hingga kami korbankan
apa saja untuknya

jawablah : ya
begitu agungkah ia hingga kami tak berhak menuntut apa-apa

jawab lagi : ya
sudah kau dengarkah suara sepatu kami tengah malam hari

datang untuk memberkati anak-anak yang tidur
sebab merekalah yang kelak harus bisa mempergunakan

bahasa dan kehendak kami
sudah kau dengarkah suara napas kami
menyusup ke dalam setiap rahim bunda yang subur
sebab kami selalu dan selalu lahir kembali

selalu dan selalu berkelahi lagi
mungkin pernah kau kenal kami dahulu, mungkin juga tidak
mungkin pernah kau jumpa kami dahulu, mungkin juga tidak

tapi toh tak ada bedanya:
kami telah memulainya
dan kalian sekarang yang harus melanjutkannya

dan memang tak ada bedanya :
kalau hari itu bagi kami adalah saat penghabisan
bagimu adalah awal pertaruhan
awal dari apa yang terlaksana kemarin, kini besok pagi

meski kami pernah kau kenal atau tidak
meski kami pernah kau jumpa atau tidak
kami adalah buruh, pelajar, prajurit dan bapa tani
yang tak sempat mengenal nama masing-masing dengan baik
kami turun dari kampung, benteng, ladang dan gunung
lantaran satu harapan yang pasti
walau tak pernah kembali


kami hanyalah kubur yang rata dengan tanah dan tak bertanda
kami hanyalah kerangka-kerangka yang tertimbun dan tak punya nama
tapi hari ini doakan sesuatu yang pantas bagi kami
agar Tuhan yang selalu mendengar bisa mengerti dan
mengeluarkan ampun

kami adalah mayat-mayat yang sudah lebur dalam bumi
tapi adukan segala yang pantas tentang diri kami ini
agar tak lagi mengembara arwah kami
kami telah lahir, hidup dan berkelahi : dan mati
kami telah mati

lahir dari para ibu yang mengerti untuk apa kami lahir di sini
hidup di bumi yang mengerti semangat yang menjalankan kami
kami telah berkelahi; dan mati
tapi siapakah yang bisa menterjemahkan bahasa hati kami
dan mengatakannya kepada siapa pun

tapi siapakah yang bisa menangkap bahasa jiwa kami
yang telah mati pagi sekali
dan berjalan tanpa nama dan tanda
dalam satu lobang kubur
kami telah lahir dan selalu lahir

selalu dan selalu lahir dari para bunda yang tabah
selalu dan selalu berkelahi
di mana dan kapan saja

biarkan kami bicara lewat suara anak-anak
yang menyanyikan lagu puja hari ini
biarkanlah kami bicara lewat kesunyian suasana
dari orang-orang yang mengheningkan cipta hari ini

Sementara bendera yang kami tegakkan dahulu berkibar
atas rasa bangga kami yang sederhana
biarkanlah kami bicara hari ini
lewat suara anak-anak yang menyanyikan lagu puja
lewat kesunyian suasana orang-orang yang mengheningkan cipta

Gelora
Th III, No 19
( Nopember 1962)

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

SAJAK SUBUH
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Waktu mereka membakar gubuknya awal subuh itu ia baru saja bermimpi tentang mata air. Mereka berteriak, "Jangan bermimpi!" dan ia terkejut tak mengerti.

Sejak di kota itu ia tak pernah sempat bermimpi. Ia ingin sekali melihat kembali warna hijau dan mata air, tetapi ketika untuk pertama kalinya. Ia bermimpi subuh itu, mereka membakar tempat tinggalnya.

"Jangan bermimpi!" gertak mereka.

Suara itu terpantul di bawahjembatan dan tebing-tebing sungai. Api menyulut udara lembar demi lembar, lalu meresap ke pori-pori kulitnya. Ia tak memahami perintah itu dan mereka memukulnya, "Jangan bermimpi! "

Ia rubuh dan kembali bermimpi tentang mata air dan .....

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SAJAK TELUR
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap burung
semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari memecah udara dingin

memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai
merindukan telur
Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,
1982.

SELAMAT PAGI INDONESIA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam
kerja yang sederhana;
bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan
tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;
kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.
seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.
aku pun pergi bekerja, menaklukan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng
kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit, o anak jaman
yang megah,
biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu
wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,
para perepuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.
Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil;
terasa benar : aku tak lain milikmu

Basis
Thn. XV - 4
Januari 1965

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

SERULING
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Seruling bambu itu membayangkan ada yang meniupnya, menutup-membuka lubang-lubangnya, menciptakan pangeran dan putri dari kerajaan-kerajaan jauh yang tak terbayangkan merdunya ....

Ia meraba-raba lubang-lubangnya sendiri yang senantiasa menganga.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SETANGAN KENANGAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Siapakah gerangan yang sengaja menjatuhkan setangan di lorong yang berlumpur itu. Soalnya, tengah malam ketika seluruh kota kena sihir menjelma hutan kembali, ia seperti menggelepar- gelepar ingin terbang menyampaikan pesan kepada Rama tentang rencana ....

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


SIHIR HUJAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.

Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


SONET: X
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

siapa menggores di langit biru
siapa meretas di awan lalu
siapa mengkristal kabut itu
siapa mengertap di bunga layu
siapa cerna di warna ungu
siapa bernafas di detak waktu
siapa berkelebat setiap kubuka pintu
siapa mencair di bawah pandangku
siapa terucap di celah kata-kataku
siapa mengaduh di baying-bayang sepiku
siapa tiba menjemputku berburu
siapa tiba-tiba menyibak cadarku
siapa meledak dalam diriku
: Siapa aku
***


SUDAH KUTEBAK
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Sudah kutebak kedatanganmu. Seperti biasanya,
kau berkias tentang sepasang ikan yang menyambar-nyambar umpan sedikit demi sedikit,
menggosok-gosokkan tubuh di karang-karang,
menyambar, berputar-putar membuat lingkaran,
menyambar, mabok membentur batu-batuan.
Kutebak si pengail masih terkantuk-kantukdi tepi sungai itu.
Sendirian.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


TAJAM HUJANMU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.




TEKUKUR

Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Kautembak tekukur itu. Ia tak sempat terkejut, beberapa lembar bulunya lepas; mula-mula terpencar di sela-sela jari angin, satu-dua lembar sambar-menyambar sebentar, lalu bersandar pada daun-daun rumput. "Kena!" serumu.

Selembar bulunya ingin sekali mencapai kali itu agar bisa terbawa sampai jauh ke hilir, namun angin hanya meletakkannya di tebing sungai. "Tapi ke mana terbang burung luka itu?" gerutumu.

Tetes-tetes darahnya melayang : ada yang sempat melewati berkas- berkas sinar matahari, membiaskan wama merah cemerlang, lalu jatuh di kuntum-kuntum bunga rumput.

"Merdu benar suara tekukur itu," kata seorang gadis kecil yang kebetulan lewat di sana; ia merasa tiba-tiba berada dalam sebuah taman bunga.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

TELINGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

"Masuklah ke telingaku," bujuknya.
Gila
ia digoda masuk ke telinganya sendiri
agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci -- setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.

"Masuklah," bujuknya.
Gila ! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.




TENTANG MATAHARI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh,
adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata :
"Ini matahari! Ini matahari!"
Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.

TUAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang ke luar.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


YANG FANA ADALAH WAKTU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.






PERTAPA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Jangan mengganggu:
aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah gua, atau sebutir telur, atau. sepatah kata -- ah, apa ada bedanya. Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar, sudah merupakan benih, sudah mencapai makna -- masih beranikah kau menyapaku, Saudara?

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

sumber:
http://danakaryabakti-indonesianpoems.blogspot.com
http://josephinemaria.wordpress.com
http://theindonesianwriters.wordpress.com



15 Februari 2011

LAUT BIRU

.
.
.
.
.

Sampan kecil

Dengan sampan kecil aku coba mengarungi lautan,
mengharap belas kasihan angin agar sampanku tetap melaju kedepan.
Coba taklukan rasa takut, walau cemas mencengkram.
Teriakan burung- burung laut, entah ejekan atas ketidak berdayaanku
atau lengkingan pemberi semangat atas kenekatan hatiku.
Sampan kecil jiwaku...
tanpa bekal yang cukup aku coba mencari pelabuhan entah dimana...

mamechang at 15/03/05 11:20 PM


sukaku belum tentu sukamu

sering aku bercerita tentang betapa mengasikkan ketika berada ditengah laut,
menjelajahi hutan atau keluar masuk kampung- kampung kumuh.
sebagian teman ku bertanya apa yang aku cari...
aku jawab tidak aku cari apa-apa,
tapi aku selalu menemukan.

aku temukan keramahan dengan ketulusan,
aku temukan kekuatan tanpa kesombongan,
aku temukan wajah-wajah lelah namun tetap tersenyum,
aku temukan kesedihan namun bukan untuk meminta belas kasihan,
aku bertemu guru yang tidak mengurui....

mamechang at 16/03/05 2:01 AM


tempatku bermain

Siang itu di perkampungan nelayan muara baru cilincing jakarta utara.
Udara begitu panas, padahal bulan ini oktober yang seharusnya banyak hujan.
Pengab, panas dan bau amis....begitu yang kami temui setiap hari...

tapi inilah rumah kami.

Rumah kami yang sempit dan berhimpitan namun berhalaman maha luas
karena halaman kami adalah lautan.
halaman tempat kami bermain menghabiskan waktu,
tempat kami belajar mengenal laut
sebelum kami mengarunginya.

mamechang at 17/03/05 3:15 AM 


carousel di atas sampah


mamechang at 23/03/05 10:00 AM


Yen ingtawang

mamechang at 24/03/05 12:42 PM 


Yang Lalu

pernah kita jalan beriringan
tapi kita tak sampai tujuan
ternyata jalan kita bukan jalan yang sama
sampai akhirnya kita putuskan melepas gengaman tangan kita

kenangan manis dijalan yang kita lalui
bagai mimpi yang tak mungkin terulangi
walau ada kepedihan untuk sebuah perpisahan
tetapi aku berharap semua ini adalah suatu awal kebaikan

biarlah hanya waktu
untuk menjawab semua pertanyaanku
biarkan takdir
menentukan sesuatu yang akhir...


mamechang at 04/04/05 5:35 AM


Menambal Senja

beberapa hari aku lihat senja begitu suram,
seakan matahari terburu-buru untuk pulang,
tanpa sempat meninggalkan kesan dengan warna jingganya.
untung masih aku simpan secarik senja yang semestinya ku berikan buat kamu,
tapi tak apalah biar kujahit secarik senja ini di ufuk barat sana,
biar semua orang bisa menikmati...
toh kamu pun bisa tetap menikmati nya pula, kalau mau!...

mamechang at 08/04/05 11:54 AM




 ucapan terbuka

Ketika rantai telah ditambatkan,
bahterapun akan kau labuhkan,
bagai kuda-kuda yang terikat pedati
Larimu tak akan kencang lagi
walau punggungmu dilecut cemeti


Maaf atas ketidakhadiranku di hari bahagiamu. bukan berat kaki melangkah, bukan pula aku berhati gundah.pikirku tak hadirku tak akan mengurangi bahagiamu

mamechang at 26/04/05 8:27 AM



Engga perlu

Apa yang membuatmu pagi ini bertandang ke tempatku?
Yang jelas bukan lah rindu...

Tak perlu sumringah di depanku
Tak usah senyum ramah kau laburkan di wajahmu

Kakiku langkah terseok...
Harga diri yang terseret-seret...


mamechang at 11/05/05 2:01 AM




Perahu kayu

Perahu kayu lapuk tetap kucoba untuk melaju, sementara tangan ku kian sibuk mendayung menyibak ombak . Bocor dilambung perahu kini kian lebar bagai borok yang terus meradang , ribuan ikan-ikan teri mengkerikiti seakan berharap aku tenggelam dan menggagalkan mengetahui rahasia yang ingin aku ketahui di tengah samudra sana.
Tak ingin aku berdamai dengan penghalang-penghalangku, sebab hanya melemahkan usahaku.
Andai aku tidak berhasil aku lebih suka terkubur di dasar lautan dan dilupakan.
30 tahun sudah perjalanan perahu lapuk ini, makin terlihat kelapukannya tapi semakin terbiasa menembus ombak, walau belum aku temukan apa yang ku cari di samudra luas ini tapi ku coba artikan setiap gelombang yang terlewati, berharap itu sebuah pesan.
Pagi ini setelah badai semalam, laut cerah dengan tarian tarian kecil ombak menyiratkan ku untuk melaju lebih cepat menuju mentari yang baru saja terbit . Walau tak ada kicau merdu burung pagi atau tetesan embun segar, hanya keheningan yang terciptakan.
Aku berdoa kepada Pencipta laut agar tak datangkan badai untuk ku, berpesan pada-Nya agar angin memihak ku.
Setelah terampasnya kebebasan lalu kau ciptakan kebisingan di sekitarku tetap lah sepi terasa dihati, kini aku kumpulkan kembali kebebasan itu kemudian aku leburkan diri ini dalam keheningan yang tidak bisu.
Dalam kegelapan malam samudra terlihat kerlipan mengundang banyak pelabuhan, memanggil dengan keramahan semu, keramaian sepi kemudian mencoba menggairahkan cinta tetapi sesungguhnya hanya nafsu. Memang kadang tak mampu aku berpaling dari keindahan pelabuhan-pelabuhan itu, beruntung menara suar Mu slalu mengingatkan arahku yang sebenarnya.
Perahu lapuk yang kini tak bertambat, hanya berjalan mengikuti arus hatinya hingga suatu saat ada pelabuhan yang menerima keadaan apa adanya, disana lah mungkin aku turunkan sauh dan ikatkan tambang penambat.

mamechang at 16/05/05 2:12 AM 


Cerite dari tetangge sebelah 1


Neng...biar kate betawi pindah di pulau sumatra,
cinte abang kagak bakal pinde kelaen ati...
ibarat kate abang udah cinte mati ama neng...
kalo eneng kagak percaye, bole ambil golok terus beset dade abang deh!
liat di dalem hati abang ada name neng ditulis disitu

(hehehe Ntu rayuan waktu cinte lagi anget2nye)

mamechang at 31/05/05 6:16 AM 




buat gadis kecil di padang rumput

Gadis kecil berdiri di padang rumput berilalang.
Matahari masih condong di timur, pagi yang cerah
Angin bertiup, mengusap pipi merahnya
Hatinya penuh kerinduan, kerinduan yang tak terpenuhi selama tujuh tahunan

Sampaikan rasa rinduku Wahai Kekasih Platonisku
Sambut hembusan angin yang ada di sana
Cium bau hangat yang tertangkap
Lihat pemandangan yang serba biru dan teramat indah
Dengar suara ombak dan angin yang sangat menggila merasuki hati
Rasakan lembutnya pasir dan basah air asin yang datang dan pergi seakan mempermainkan lara yang penuh derita menahan sesak?

Jauh beratus kilo meter, sang kekasih platonis tersentak
Seakan dentuman angin berisi pesan menerpanya...
Dia termenung di antara birunya laut yang membius hati...

Gadis di padang rumput berilalang...
Apabila kau merindukan tempat ini, kau harus datang sendiri ke sini...
Satu-satunya penawar rasa rindumu hanya ada di sini...
Bersabarlah dalam rasa rindumu, karena tempat ini tetap menantimu sampai kapan pun
Dia akan setia, sama sekali tak bergeming, sampai waktunya kaki kecilmu melangkah di atas pasir lembutnya ?

Hembusan angin berbau garam, ocehan burung laut seakan menyanyikan lagu Selamat Datang, percikan air di lunas perahu, semua adalah lakon dalam panggung alam yang jadi juara festival, di mana semua juri dan penontonnya memberikan penghormatan tertinggi

Gadis kecilku, aku berada di tengah laut yang biru, tiada apa-apa lagi, hanya kedamaian?

Gadis kecilku,di tengah lautan biru aku tuliskan kisah-kisahku, dalam setiap alenia gelombang kutulis dengan tinta warna mentari jingga.

Gadis kecilku, terbacakah tulisanku? atau kau terlalu jauh untuk menatapnya?...
jangan kau risaukan itu...akupun tak sabar untuk mengayuh sampanku ketepi, kemudian membisikkan kisah-kisah ini ditelingamu...

Maafkan aku gadis kecilku,aku tahu ceritaku bukan segala-galanya, karena begitu sulit kugambarkan dengan kata-kataku yang terbatas...dan tentulah banyak kisah yang lebih menarik telah kau dengar di atas padang ilalang sana...

Gadis kecilku,akan selalu kutulis kisah-kisahku di tengah laut sana, ber aleniakan gelombang,bertintakan jingganya mentari...berharap suatu saat kau datang dan membaca dan merasakan sendiri keindahannya...

Buat Temanku Andra...

mamechang at 13/06/05 7:00 AM


Salah mencintai?

Salah Mencintai?
pernahkah...
jangan sampai itu terjadi...
hati2lah.karena cinta adalah energi yang sangat besar dalam hidup ini...
jangan buang energi itu sia-sia untuk salah mencintai...
jangan membohongi untuk cinta,
jangan mencampur adukkan nafsu dengan cinta...
cukup jujur dan apa adanya...

(hasil pemikiran dari wc tadi pagi...eeee..preets! ah..lega,
aku lepaskan engkau pagi ini dengan senyum seperti aku lepaskan engkau tempo hari...)

mamechang at 15/06/05 12:50 PM


 

sang Layar

Angin sejuk yang terhembus perlahan
membangkitkan apa yang seharusnya aku pendam
aku pernah merasakan angin yang sama waktu lalu...
ternyata angin sejuk penghantar badai kesedihan semata.

kini angin itu datang lagi
walau dari arah yang berbeda
mulanya aku menikmati...
tapi kini aku ketakutan

dalam hati bertanya-tanya...
kau kah angin yang datang waktu lalu?
walau kini datang dari arah yang berbeda...
ataukah kau angin yang benar-benar baru?

semoga kau bukan angin putingbeliung
yang begulung-gulung mengekang diriku
semoga juga bukan badai
yang menerbangkan batu-batu tajam menghujam diriku

karena aku lah layar yang pernah terkoyak

mamechang at 19/07/05 5:26 PM


pengembara laut dan padang rumput

desau bisikan angin laut
lembut nan merayu membelai bunga2 di padang rumput
melenakan gadis kecilku
yang terbaring diantara kelopak bunga
sang angin adalah pengembara laut
ulurkan tangan merengkuh hatinya
usapan lembut,menepis galau
mari melayang bersamaku
singgah di surga2 kecil sekedar berteriak
tapi sayangku, kita harus kembali
aku harus menyambangi laut menjemput ombak
"bawa aku" pinta gadis kecilku...
sang angin terdiam...

mamechang at 05/09/05 9:07 AM



mari duduk di sebelahku

Dik, silahkan duduk di sebelahku...
kita iringi mentari yang akan tenggelam dengan mata kita
tak usah kita berkata-kata
cukup dengarkan kesunyian kemudian artikan dalam hati
dan, jika malam telah merengkuh bumi
akan kunyalakan pelita kecil untukmu
sekedar menepis kelamnya kabut malam
juga sebagai petunjuk jalan untuk pulang
mari ku genggam tanganmu

mamechang at 07/09/05 1:18 PM



aaaaaarrrrggghhhhh....

aaaaaaarrrrrgggggghhhhhhh
saat ini aku ingin terbang
tapi sayapku terikat kencang
ku coba tabah seperti karang
walau sembari menggerang...
aaaaarrrrrrgggggghhhhh
berteriak
serak...
sesak...
meledak....

sayang, aku butuh angin silir-silir hembusan nafasmu
atau merdunya cekikik suara tawamu
aku butuh...


mamechang at 08/09/05 6:53 AM



buat Eliza

Eliza,
sepenggal cerita yang kubisikkan lewat angin pagi
semoga tidak mengusikmu yang masih bersembunyi di balik selimut
Eliza,
mau kah kau sampaikan maafku pada gadis kecil dipadang rumput
katakan padanya bahwa aku harus membayar rasa rinduku pada sang laut
pagi ini rinduku pada ombak, pada angin berbau garam, teriakan burung camar, kecipak ikan dilaut dalam, memanggilku begitu kuat.
Eliza,
aku telah berada ditepiannya
siapkan dayung hasrat
leburkan diri dalam ombak

mamechang at 20/09/05 8:51 AM



kaum coro

apapun namanya,
coro, kecoak, cocroach...
tetep kinclong walaupun ennga' mandi
tapi tetep bau walau habis gigitin sabun mandi


Tempat pembuangan akhir adalah tempat kami
WC, got dan tempat sampah...


mamechang at 21/11/05 11:08 AM



Angin Dalam Botol

kau simpan angin dalam botol?...percuma sayangku...yang tersimpan hanya kehampaan
angin yang tak dapat kamu miliki...biarkanlah semilirnya membelai rambutmu
biarkanlah ia gugurkan daun-daun agar tanah berhumus
biarkanlah dia menyapu laut agar ciptakan ombak
kau..tak mungkin miliki sang angin...
karena begitu kau menyumbatnya dia tak akan berguna
yang kau lihat hanya kehampaan dalam botol..

mamechang at 29/11/05 5:04 AM


tanak nasi

Mbok Rasmi bangun pagi
nanak nasi
beras antri
dan harus antri lagi
hari ini
walau ia hampir mati
desak-desakan demi ganjal perut
yang pagi ini
akan dia buang dikakus

mamechang at 13/01/06 9:23 AM






disini aku dapat damaiku

berdiri di ujung lunas perahu
angin menerpa dadaku yang tak berbaju
tanggalkan segala keterikatan
dari hidup yg penuh batasan

maaf tak kubawa dirimu dalam setiap petualanganku
maaf atas cerita-cerita yang membosankan
tentang angin, laut dan karang
yang aku dongengkan buatmu

disini aku dapatkan damaiku
diantara gulungan ombak
diantara kesendirian yang tak sepi


mamechang at 24/02/06 6:44 AM



Perempuanku...

Perempuanku...
maukah kau tanam bibit cinta di hatimu?
bibit yang ada di gemgaman tanganku akan kuserahkan padamu...
bibit kecil berbertuk serupa hati adalah tanaman cinta.bibit ini cuma satu,
karena aku hanya punya satu hati untuk satu cinta,

tanam ini di hatimu agar hati kita saling bertaut,

tolong pupuk dengan harapan,
jangan biarkan daunnya tanggal oleh angin godaan,
jangan biarkan batangnya patah oleh ketidak setiaan...

Perempuanku...
tanaman ini akan menjalar di tiap aliran darahmu, dengan bunga-bunganya yang wangi membuat perasaanmu nyaman, buahnya yang manis dengan rasa kecupan, pelukan dan belai lembut...


mamechang at 04/04/06 5:24 AM









Gw posting artikel ini semata-mata karena gw suka ama puisi & ilustrasi2-nya, gw sama sekali g' mengenal penulisnya, blog penulisnya pun gw dapetin secara g' sengaja, ketika sedang googling mencari gambar kecoak tapi malah nyasar ke blog ini.
info tentang penulisnya g' banyak yg bisa gw dapetin, kelihatanya blog ini ditulis saat era kejayaan friendster (2005-2008) sebelum tergilas oleh twitter & facebook.


Author : mamechang
http://mame.blog.friendster.com/
http://www.ebloggy.com/blog.php?username=mame&id=1&start=0

22 Juni 2010

Puisi-Puisi Umbu landu Paranggi


Berikut ini adalah beberapa Puisi-Puisi Umbu landu Paranggi



Sajak Kecil

I
Dengan mencintai
Puisi-puisi ini
Sukma dari sukmaku
Terbukalah medan laga
Sekaligus kubu
Hidup takkan pernah aman
Kapan dan di mana pun
Selamanya terancam bahaya
Dan kebenaran sunyi itu
Penawar duka bersahaja
Selalu risau menggembara
Mustahil seperti misteri
Bayang-bayang rahasia
Bayang-bayang bersilangan
Bayang lintas bayang
Pelintasanku

II
Dengan mempercayai
Kata kata kata
Yang kutulis ini
Jiwa dari jiwaku
Jadilah raja diraja
Sekaligus budak belian
Sebuah kerajaan
Purbani
Lebih dari napasku
Bernama senantiasa
Nasibmu
Umbu landu peranggi

Ibunda Tercinta

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
Duka derita dan senyum yang abadi
Tertulis dan terbaca, jelas kata-kata puisi
Dari ujung ranbut sampai telapak kakinya
Perempuan tua itu sentiasa bernama:
Korban, terima kasih, restu dan ampunan
Dengan tulus setia telah melahirkan
Berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia
Perempuan tua itu senantiasa bernama:
Cinta kasih sayang, tiga patah kata purba
Di atas pundaknya setiap anak tegak berdiri
Menjangkau bintang-bintang dangan hatinya dan janjinya.

1965

Melodia

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali
Bertahan
Karena kehidupan pun sanggup merangkum duka gelisah
Kehidupan
Baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi
Suara-suara luar sana
Sewaktu-waktu berjaga dan pergi, membawa
Langkah ke mana saja
Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati
Penggembara
Dalam kamar berkisah, taruhan jernih memberi arti
Kehadirannya
Membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari
Tergesa berlalu
Meniup deras usia, mengitari jarak dalam gempuran
Waktu
Takkan jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi
Dan rindu menyanyi
Dalam kerja berlumur suka-duka, hikmah pengertian
Melipur damai
Begitu berarti kertas-kertas dibawah bantal,
Penanggalan penuh coretan
Selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam
Manja bujukan
Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis,
Bahagia sederhana
Di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan
Dan jiwa
Kadang seperti terpencil, tapi bergairah bersahaja
Harapan dan impian
Yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi
Dan kedua tangan


Solitude

dalam tangan sunyi
jam dinding masih bermimpi
di luar siang menguap jadi malam
tiba-tiba musim mengkristal rindu dendam

dalam detik-detik, dalam genggaman usia
mengombak suaramu jauh menggema
menggigilkan jemari, hati pada kenangan
bayang-bayang mengusut jejakmu, mendera kekinian

seberkas cahaya dari menara waktu
menembus tapisan untung nalang nasibmu
di luar tiba-tiba angin, lalu gerimis berderai
dalam gaung kumandang bait demi bait puisi


Sabana

memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
menghadang senja
yang memanggil petualang

sabana sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkuda

sabana tandus
mainkan laguku
harum nafas bunda
seorang gembala berpacu

lapar dan dahaga
kemarau yang kurindu
dibakar matahari
hela jiwaku risau
karena kumau lebih cinta
hunjam aku ke bibir cakrawala


Di Sebuah Gereja Gunung

lonceng kecil yang bertalu, memanggil-manggil belainya
di tengah kesunyian, minggu pagi yang cerah
mereka pun berduyunlah ke sana: warga petani dan gembala
dalam dandanan sederhana, bangkit dari kampung, lembah
bukit dan padang-padang sepi

hidup dan kehidupan mereka di tanah warisan itu, telah terpanggil
dan lonceng gereja lalang di lereng gunung itu menuntun setia
dalam galau kesibukan mereka sehari-hari tak pernah lupa
panggilan minggu: di sini mereka, dalam gereja lalang dan bambu
—berpadu memanjat doa dan terima kasih bagi kehidupan
—bagi kebutuhan hari ini, hari depan datanglah ketenteraman
—di antara sesama, pada malapetaka menimpa dunia ini
—pertikaian peperangan, damailah di surga di bumi ini: mazmur mereka

keyakinan yang telah terpatri, bersemi, tak terikat ruang dan waktu
juga dalam gereja lalang ini, terpencil jauh dan sunyi
jauh dari genteng, kegaduhan listrik serta deru oto
tak mengenal surat kabar, jam radio ataupun televisi
tapi keyakinan, pegangan mereka adalah harapan dan kerinduan yang samamentari dan bulan yang bersinar di mana pun—
dan tuhan mendengar seru doa mereka



Percakapan Selat

Pantai berkabut di sini, makin berkisah dalam tatapan
Sepi yang selalu dingin gumam terbantun di buritan
Juluran lidah ombak di bawah kerjap mata, menggoda
Dimana-mana, dimana-mana menghadang cakrawala
Laut bersuara di sisi, makin berbenturan dalam kenangan
Rusuh yang sampai, gemas resah terhempas di haluan
Pusaran angin di atas geladak, bersabung menderu
Dimana-mana, dimana-mana mengepung dendam rindu
Menggaris batas jaga dan mimpikah cakrawala itu
Mengarungi perjalanan rahasia cintakah penumpang itu
Namun membujuk jua langkah, pantai, mega lalu burung-burung
Mungkin sedia yang masuk dalam sarang dendam rindu
Saat langit luputkan cuaca dan laut siap pasang



Kata, Kata, Kata

Kenangkanlah gumam pertama
Pertemuan tak terduga
Di suatu kota pantai
Di suatu hari kemarau
Di suatu keasingan rindu
Di suatu perjalanan biru

Kenangkanlah bisikan pertama
Risau pertarungan kembara
Duka percintaan sukma
Rahasia perjanjian sunyi
Kenangkanlah percakapan pertama

Gugusan waktu, napas dan peristiwa
Mungkin hanya angin, daun dan debu
Pesona terakhir nyanyian sajakku

Baca Juga :
Umbu landu Paranggi

Umbu Landu Paranggi


Syahdan pada waktu periode akhir 60an sampai pertengahan tahun 70 an, ada sosok yang sedemikian di hormati di kawasan Malioboro dan sekitarnya. Jika generasi flower generation di Amerika memiliki Simon & Garfunkel atau Bob Dylan. Di Jogjakarta siapa yang tak mengenal Umbu Landu Paranggi – raja sesungguhnya kawasan Malioboro.
Saya tak mengalami jaman jaman tersebut selalu bertanya tanya kepada mereka yang mengenal sosok gondrong itu, yang garis wajahnya seperti kuda sumba yang keras. Membuat penasaran apa yang membuatnya begitu begitu heroik dan menjadi sumber oase dari sastrawan, penulis, tukang becak sampai pelacur di seputaran Malioboro.

Jalannya hidupnya konon misterius – ada yang bilang nomaden - dan biasa berjalan dari tempat nongkrongnya di Malioboro utara sambil menyapa orang orang dan menulis puisi. Ia selalu mengajar orang menulis sastra ,membimbingnya dalam Persada Studi Klub di Koran Pelopor Jogja. Ia memperhatikan pertumbuhan puisi, menjaga dan menumbuhkan sastrawan sastrawan baru yang kini mungkin anda banyak mengenalnya, seperti Emha Ainun Najib, Linus Suryadi sampai musisi Ebiet G Ade.

Ya, keahlian sebagai penulis puisi membuat ia peka dengan manusia dan kehidupan sekitarnya. Sehingga ustad Umbu, - demikian Emha menjulukinya – karena integritasnya kepada lingkungan dan sastra, juga sangat peduli dengan orang orang kecil.
Pernah suatu ketika ia menghampiri seorang pemungut sampah dan mengajaknya bicara. Kemudian ia mengajari baca tulis, serta mengangkat derajatnya menjadi tukang becak. Setahun berselang kepada teman temannya ia menunjuk tukang becak itu yang sedang istirahat membaca Koran.
“ lihat tahun depan ia akan bisa menulis puisi “. Umbu memang selalu percaya bahwa manusia pada hakekatnya memiliki potensi yang sama.

Umbu adalah orang yang rendah hati. Pakde Umar Kayam begitu pulang dari Amerika terkaget kaget melihat betapa halusnya perikata sosok manusia ini. Padahal Umbu bukan orang Jawa. Ia berasal dari tanah Sumba , Nusa Tenggara Barat. Ia juga tak pernah mau tulisannya diterbitkan. Ia hanya mendorong murid muridnya maju dan menjadi sastrawan kelas atas. Ia cukup bangga sebagai begawan yang memperhatikan dari jauh.
Barangkali ini yang dinamakan sebagai penggerak swadaya masyarakat tanpa pamrih. Ia mungkin bisa sejajar dengan Romo Mangun yang juga menjadi pahlawan bagi masyarakat kali code. Bahwa kadang kadang dalam masyarakat dibutuhkan orang orang waras yang tak peduli untuk mengajarkan atau memberikan sesuatu. Apapun bentuknya. Hanya satu tujuannya, membawa ke wujud kehidupan yang lebih baik.

Umbu tak pernah puas. Suatu saat ia menghilang. Alasannya ia hendak menengok padang rumput savanna di kampungnya , Sumba. Seketika Jogja kehilangan denyut nadi kehidupan sastra yang tadi bergairah. Mungkin ia merasa sudah cukup meninggalkan 1000 penulis puisi dengan diantaranya 300 yang berbakat.
Ia memilih menetap di Bali. Ia menjadi brahmana Umbu disana, mendorong pertumbuhan sastra di pulau dewata. Ia tetap menggelandang, tidur beratap langit dan menyimpan uangnya di dalam tanah.
Kita bisa mencontoh Umbu. Menjadi mata air dimana saja, tidak harus dibatasi sekat budaya, agama dan manusia. 


Nama :
Umbu Landu Parangi

Lahir :
Sumba, Nusa Tenggara Timur,
10 Agustus 1943

Pendidikan :
SD dan SMP di Sumba, NTT,
SMA Bopkri 1 Yogyakarta,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM (tidak tamat),
Universitas Janabadra jurusan Sosiologi

Profesi :
Pendiri Persada Studi Klub (PSK),
Redaktur kebudayaan Pelopor Yogyakarta (1966-1975),
Redaktur harian Bali Post, Bali

Karya :
Tonggak,
Bonsai’s Morning,
Teh Ginseng

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Umbu_Landu_Paranggi
http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/umbu.html 
http://katakamidotcom.wordpress.com/2010/02/03/umbu/ 
http://blog.imanbrotoseno.com/?p=277

Puisi-puisi Umbu Landu Paranggi


Baca Juga :
Kumpulan Puisi

Biografi Penyair

21 Maret 2010

Kumpulan Puisi GOJEK JS


  • Puisi Pat Gulipat
  • Siapa Hendak Gugat
  • Bola
  • Mati Sia-Sia
  • Ada Neraka Di Televisi
  • Sangalas Sangalima
  • Puisi Tanpa Minyak Wangi
  • Sepak Bola Liga Kuning
  • Preman Dan Mimpinya
  • Andai-Andai Naik Kelas
  • Menuju Terminal Kematian
  • Rindu Demokrasi
  • Beda Pendapat


PUISI PAT GULIPAT

pat pat pat gulipat
malam jumat main jimat
gadis manis hendak kupikat
randha ompong malah terjerat

dengarkan
aku punya jampi-jampi
bisa bikin kaya tanpa korupsi

caranya
para pinter jangan keblinger
para bodoh jangan ceroboh

sebab
sepandai-pandai bajing meloncat
bajingan lebih pandai melompat

orang-orang di seberang sana
menyembelih rembulan
untuk pesta nanti malam
pesta tanpa resepsi
menggelar aneka hiburan
ada dansa ca...ca...ca...
ada joget tra...la...la...la

paling menarik mainan srikat-srikut
yang berpangkat siap menyikat
yang takut mesti disikut

ada pula dolanan gobak sodor
perempuan menggobak laki-laki
laki-laki menyodor perempuan
perempuan laki-laki
saling gobak saling sodor

hong wilaheng...hong wilaheng
sapi dianggap banteng
bila mami nyeleweng
papi juga dhegleng
anaknya diseruduk celeng

anak-anak tanpa benih kasih
hasil perkawinan ala gobak sodor
mereka malas pergi sekolah
di kelas tak ada narkotika
buku pelajaran penuh hafalan
dan gambar para pahlawan
ilmu berhitung
menambah bingung
para guru kian murung
menghitung gaji yang buntung

pat pat pat gulipat
malam jumat main jimat
dunia nyaris kiamat
biar hidup tak kuwalat sebar zakat
rajin tirakat
dijamin selamat
donya akherat


SIAPA HENDAK GUGAT

mata pejam
mulut bungkam
hati beku
lidah kelu
angin malas bertiup ranting rapuh takut jatuh

siapa hendak gugat ?
tatkala pengadilan melepas durjana sebab tak satu pun punya nyali untuk beri kesaksian
pula engkau sang pujangga

solo, 1994


BOLA

(nostalgia pada TT)

engkaukah wanitaku
lincah dan gesit bagai bola

menggelinding berlari
di lapangan hati
kudepak dari lini tengah
wasit acungkan kartu kuning

engkaukah wanitaku
lincah dan gesit bagai bola

menggoda kaki-kaki sukma
bermain di tanah basah becek
sungguh sulit menguasaimu
hingga datang turun minum

engkau kian binal dan nakal
makin licin semisal belut
pada babak kedua
adakah tendangan pinalti
mengkoyak-koyak gawang jiwa

engkaukah wanitaku
lincah dan gesit bagai bola

gol belum tercetak
peluit panjang tak jua datang
kuasakan perang antar suporter
hentikan permainan asmara

solo, 1994



MATI SIA-SIA

kemarin
penyair mati tertimpa rembulan
hari ini
penyair mati ditelan hutan
esok
penyair mati diterkam ombak

apa yang kalian cari
wahai para pengrajin kata
mati tertindih mimpi sia-sia

tak ada kemunafikan di atas langit
tak ada perselingkuhan di tengah rimba
tak ada ketimpangan di lepas laut

solo, 1994



ADA NERAKA DI TELEVISI

sorga tak punya jendela
kita tak tahu apa isinya

tapi kita punya televisi
yang menayangkan isi neraka

solo. 1994


SANGALAS SANGALIMA

Anemahi jaman edan
wong edan padha dum-duman
kang eling diwaspadani
Wus genah kersaning Allah
sak edan-edane wong kaliren
luwih edan wong kuwaregen

1995


PUISI TANPA MINYAK WANGI

Ada puisi tercecer di laci
bau tahi sapi
Siapa penyairnya?
Jangan dikunyah
puisi beracun kayak roti marie
Jangan direnung
puisi tanpa minyak wangi
menyulut anarki
Ada puisi tercecer di laci
bau tahi sapi
Panggil polisi
biar digebuki
Pasti mengaku
siapa penyairnya

solo, 1994


 SEPAKBOLA LIGA KUNING

Kehidupan adalah arena sepakbola ketika tanah lapang dibangun toko – pabrik – supermarket - parkantoran. Maka dimaklumkan bersepakbola di sembarang tempat. Adegan tendang-tendangan terjadi di ruang seminar kampus - gedung kesenian-pasar dan kantor polisi sebagai manifestasi "dari kemerdekaan berserikat berkumpul dan bersepakbola.
Telah terjadi pertandingan seru antara kesebalasan pejabat melawan dharma wanita di sebuah kamar hotel. Babak pertama tim bapakbapak tak kuasa menandingi kehebatan ibuibu. Setelah turun minum para pejabat tampil bergairah cenderung beringas. Bola ditendang jauh melangit tak kembali ke lapangan maka apa saja yang bentuknya menyerupai bola disepak-digasakdisundul-diremasremas. Serangan dilancarkan tim pejabat berkalikali mengoyak gawang lawan namun wasit tentukan ibuibu sebagai pemenangnya. Belakangan diketahui bapakbapak terlibat kasus doping ada yang memakai obat benkwat-jamu untuk pakde bahkan membuat ramuan tiga dimensi :ciu dioplos temulawak dan pil koplo.
Paling menarik kompetisi antara kesebelasan. mahasiswa melawan tentara dilangsungkan di ruang interograsi. Menit pertama para mahasiswa babakbelur menjadi sasaran tendangan beruntun yang dilancarkan secara tidak sengaja. Wasit acungkan dua kartu merah untuk tentara karena diketahui tidak membawa senjata api dan lima kartu merah untuk mahasiswa yang terbukti menerima duit dari sebuah lsm luar negeri. Para pemain dua kesebelasan samasama mengenakan kostum kuning juga wasit-petugas keamanan-hakim garis-penjual tisue dan seluruh penonton diwajibkan mengenakan kuning-kuning. Awak angkutan umum yang membawa para suporter terkenakewajiban itu. Becak-dokar-bemo dan biskota pokoknya segala jenis kendaraan harus berwarna kuning termasuk mobil plat hitam plat merah harus diganti plat kuning. Sebelumnya, panitia melalui siaran radio-televisi-koran dan majalah menganjurkan kepada masyarakat agar selama seminggu tidak menggosok gigi.

Di luar arena pertandingan seorang penjahat memakai kaos merah lari terbiritbirit dikejar polisi berseragam wereng cokelat. Penjahat melompat tembok stadion disusul polisi keduanya kejarkejaran di lapangan. Lihat adegan itu seluruh penonton mulai rakyat kecil-cendikiawan-senimanbudayawan-pengusaha-birokrat-politikus-bandar judi hingga penjual es lilin serentak menyanyikan lagu kebangsaan :
"Ole ole ole ole ole ole.    Ole oloe ole ole ole ole.
Ole ole ole ole ole ole. ..
Penjahat berlari makin kencang keluar lapangan mencari tempat ngumpet masuk ke wc dekat tribun samping kiri. Polisi mendobrak pintu lantas bergelut di kamar kecil yang berwarna kuning pula. Penjahat berkaos merah dan polisi berseragam wereng cokelat keluar dari wc samasama menjadi kuning karena belepotan tinja. Sungguh sulit membedakan siapa preman siapa polisi karena keduanya samasama kuning.
"Ole ole ole ole ole ole. Ole ole ole ole ole ole:'

Indonesia. 1995




PREMAN DAN MIMPINYA

lahir kala matahari terbelah lima
hasil kawin silang antara wayang dan ketoprak
nongol lewat rahim Batari Durga
berkan kejantanan Menakjingga
Supreman namanya
sebut saja Preman
jangan sekali-kali memanggil Su !
Menjadi perampok adalah pilihan hidup
ketika durjana disembah bagai berhala
Preman pewaris bangsa perkasa
kakek moyang Badranaya
nenek moyang Putri Shima
pakde moyang Dasamuka
bibi moyang Ken Dedes
paman moyang Baladewa
tante moyang Halo Kalinyamat
Mimpi menjadi presiden
memang cita-cita sejak belia

- Oih
Akulah Preman
merapat dermaga bersama ombak dan badai
dikawal selusin pemabuk dan seribu kupu-kupu

Pelabuhan sejarah hatinya resah
bumi gundah langit gelisah
Masa depan telah berlangsung kemarin
hari ini tak mampu membunuh masa lalu

- Akulah Preman
anak cucu Kiageng Sela
setengah abad mengembara di laut lepas
Kembali ke kampung halaman
menjadi pemimpin di tanah leluhur
melanjutkan jejak Ken Arok
benggol maling merebut tahta Tunggul Ametung
Betapa menyenangkan brandalan jadi raja
bayangkan bila penyair menjadi presiden

rakyat kelaparan dijejali puisi
bila serdadu menjadi ratu
rakyat diberi sepatu dan peluru
Kebanggaan penyair ketika menjadi pujangga
kebanggaan tentara ketika menjadi senapati

Ini bukan bagian dari mimpi
sebuah kenyataan tak bisa dipungkiri
senapan sejarah telah menyalak
tiga butir pelor menghantam
tepat pada nasibnya
Tubuh terkapar di atas trotoar
impian tumbang bersimbah darah
Preman telah anumerta
terkubur bersama angan-angan
tapi bajingan belum mati
sebagai raja pada lakon sehari-hari
siap membunuh mimpi-mimpi
di negeri yang selalu curiga

solo. 1995

ANDAI-ANDAI NAIK KELAS

Emak, ketika pesta panen tiba bulan depan
kala saatnya guru membagikan rapor kenaikan kelas
jangan sambat pada dukun untuk menghapus warna merah prestasi tak bisa digapai lewat sesaji dan jampi-jampi

Emak, andai naik kelas dengan ranking pertama
belikan sepatu yang bisa menyala seperti anak-anak kota dengan memakai sepatu berlampu akan menjadi semakin jelas siapa yang harus ditendang dan siapa yang diinjak-injak

Emak, di kelas enam ada guru yang galak bukan kepalang
pada hal nama guru itu diambil dari kitab suci
pernah ada oknum murid yang ditempeleng gundulnya
karena tak bisa menjawab pertanyaan di kelas
ditanya siapa presiden Israel dijawab Liem Sioe Liong
yang benar kan Edy Tanzil !
pernah pula penghapus melayang ke jidat temanku
karena lebih banyak mengenal tabiat Menteri Penerangan namun tak mengetahui siapa nama Menteri Pendidikan

Emak, bila rapor bebas angka merah
kelak aku lebih suka menjadi petani
menggarap sawah di tanah entah milik siapa
bila ada tiga nilai merah ku hendak jadi wartawan
yang mengetahui segala hal namun tak tahu nasib sendiri
bila ada lima nilai merah ku hendak jadi tentara
sebagai tentara sungguh seperti anak balita
potong rambut dan nonton bioskup bayar setengah harga bahkan perwira yang paling sial pun bisa menjadi walikota bila seluruh angka rapor merah membara
tak perlu lagi sistem pendidikan diteruskan
sebab hanya akan melahirkan anak-anak metal
yang gagal menjadi generasi pembayar hutang masa depan

Emak, hama wereng datang menyerang
paceklik menghadang pesta panen batal dilaksanakan
maka rapor kenaikan kelas tak juga disampaikan
anak didik makin gelisah di ruang kelas yang sumpek
dan lembab bagai pasar sayur mayur
murid-murid bertumpuk seperti cabe rawit, kol gepeng, wortel tanpa daun, lombok keriting dan bayam ikatan dilempar ke pasar induk dengan harga menyedihkan
Emaaaaak……"


1995


MENUJU TERMINAL KEMATIAN


kenapa perjalanan terasa melelahkan
terminal kematian tinggal sejengkal
kala kehidupan singgah di halte terakhir
anakanak asongan di balik jendela buram
menjaja buku porno, primbon dan kitab suci
"bekal menuju akherat" teriak mereka

halte terakhir terlewat sudah
kondektur menghampiri tiap penumpang
mengutip amal sebagai tiket perjalanan
ada pendeta mulut komatkamit
ada ulama memilin butir tasbih
mengeja berapa amal terkumpulkan
seorang pencopet tangannya gerayangan
menjarah amal koruptor yang duduk disebelahnya

sejengkal menuju terminal kematian
adakah tersisa waktu buat menghitung dosa
kehidupan bukanlah sandiwara mimbar agama
yang mempertontonkan insyaf dan tobat
pada adagen penghabisan


solo, 1995

RINDU DEMOKRASI

segelas susu dengan telor plus madu
tidak pula demokrasi menjadi sehat
kecuali membiarkan kucingkucing liar
mencakar sampah sampah pertokoan kota
atau membebaskan para buruh mencoret
dinding pabrik tentang upah yang rendah
dan anak anak negeri melampiaskan gelisah
di tembok tembok batas cakrawala
adalah penindasan :
saat dibungkam gonggong anjing
ketika peronda menghardik durjana

solo, 1995

Beda Pendapat

Meoong…
Itu suara kambing
petok.. .petok
itu suara lembu
kaeing... ..kaeing.. ...kaeing
itu suara mahasiswa

kwek... kwek.. .kwek... kwek.. .kwek.. .kwek.. .kwek kwek... kwek.. .kwek... kwek.. .kwek... kwek... kwek kwek.. .kwek.. .kwek... kwek.. .kwek. ..kwek.. .kwek
kwekkwekkwekkwekkwekkwekkwek

apakah itu suara dpr ?



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

BIOGRAFI GOJEK JOKO SANTOSO
Gojek Joko Santoso yang lahir pada 10 -5 -1960 dan meninggal sesaat sebelum genta reformasi membakar Solo. Tepatnya 6-2-1998.
Semasa hidupnya, almarhum mengabdikan diri di Suara Merdeka dengan liputan budaya.
Buku kumpulan puisi yang pernah diterbitkan:
- CERMIN BURAM
- KUDA LUMPING
(mungkin juga masih ada yang lain)
(sori, cuman ini info yang berhasil gw dapet hasil googleng dg keyword "gojek js")

Catatan:
  • terus terang gw muat kumpulan puisi gojek js tanpa seijin keluarga gojek js, tanpa maksud jelek ataupun komersil. (gw ketik semaleman dari buku kumpulan puisi cermin buram, (pengen juga sih nambahin dari buku kuda lumping, tapi buku yang satu ini telah hilang entah kemana)
  • sampai saat artikel ini dimuat (april 2010) sangat susah sekali menemukan hal yang berkaitan dengan nama gojek js, apalagi karya-karyanya. (bahkan google-pun tidak sanggup menemukan keberadaanya)
  • gw hanya g' rela karya2-nya hilang musnah begitu saja (seperti halnya keberadaan gojek js sendiri yg masih menjadi misteri)
  • gw hanya ingin karya-karyanya dan perjuangan gojek js bisa dibaca dan diteruskan oleh generasi selanjutnya,
  • gw hanya ingin, bahwa generasi yang akan datang tahu bahwa di jaman orde baru pernah lahir dari kota solo penyair-penyair "nekad" seperti mereka (gojek js & wiji thukul)

NB:  
buat rekan-rekan yang mempunyai kepedulian yang sama, & punya puisi-puisi gojek yang lain , biografi ataupun fotonya, gw mohon kesediaanya untuk dipost di kolom komentar dibawah ini, untuk kemudian gw tambahkan di artikel ini.

Baca Juga: 

Bookmark and Share