Bookmark and Share
Tampilkan postingan dengan label art. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label art. Tampilkan semua postingan

28 Juni 2020

Tutorial Printer Sharing via LAN beserta troubleshooting-nya


Agar Printer dapat digunakan oleh komputer-komputer dalam satu jaringan maka perlu dilakukan beberapa pengaturan seperti dibawah ini :

1. Klik Start Menu>Device & Printers

2. Klik Kanan pada printer yang akan disharing>Printer Properties

3. Klik Tab Sharing>Share this Printer>Apply

Jika muncul pesan error seperti dibawah ini
"Printer settings could not be saved. Operation could not be completed (error 0x000006d9)." 

Mengatasi Error Printer Sharing
- Klik Start Menu> ketik Services.msc kemudian tekan Enter
 
- Kemudian dobel klik Window Firewall

- Ubah Startup type dari Disabled menjadi Automatic, kemudian restart komputer




4. Setelah komputer direstart, ulangi lagi dari langkah 1-3
- Klik Start Menu>Device & Printers
- Klik Kanan pada printer yang akan disharing>Printer Properties
- Klik Tab Sharing>Share this Printer>Apply

Jika muncul pesan error seperti dibawah ini :

Printer settings could not be saved. Operation could not be completed (error 0x00000001)
Ulangi lagi langkah no 3, 
Mengatasi Error Printer Sharing
- Klik Start Menu> ketik Services.msc kemudian tekan Enter
- Kemudian dobel klik Window Firewall
- Ubah Startup type dari Automatic menjadi Disabled, kali ini komputer enggak perlu direstart
sekarang coba sharing kembali printer seperti carano 1 - 3, maka sudah tidak muncul lagi pesan error dan printer dan pada icon printer yang di sharing tadi telah muncul tambahan berupa icon 2 orang

Seting Printer Sharing dari sisi Server telah berhasil dilakukan, sekarang kita lakukan pengaturan di sisi client agar bisa menggunakan printer yang terhubung di server 

1. Klik Start Menu>Devices & Printers
Klik Add printer


2. Klik Add a network, wireless or Bluetooth printer

3. Tunggu beberapa saat hingga printer yang telah di sharing muncul, kemudian klik Next


4. Maka komputer akan terhubung ke printer jaringan dan otomatis mendonload serta menginstal drivernya


5. Setelah selesai klik Next kemudian Finish



6. Sekarang chek di Device & Printer, maka telah muncul icon Printer Jaringan, dan printer siap digunakan



Catatan:
troubleshooting seting printer jaringan tutorial ini agak mbulet, terutama saat seting window firewall, kesanya bolak balik dan useless, tapi percayalah trik diatas really work, karena tutorial ini dibuat bukan sekedar copy paste blog orang, tapi memang kami buat sebagai catatan saat kami mengalami masalah error seting printer jaringan dan akhirnya berhasil diatasi dengan cara diatas.

15 Mei 2011

Jemek Supardi, Manusia Tanpa Kata

Ia lahir dari kelam. Sekitar tiga puluh tahun lalu, Pardi Kampret, yang kini dikenal dengan nama Jemek Supardi, tumbuh di tengah keributan terminal Prawirotaman, Yogyakarta, terminal utama Kota Gudeg saat itu. Malamnya adalah temaram lampu Stasiun Tugu. Siangnya adalah keringat tukang parkir di sepanjang Jalan Malioboro.
Lelaki kurus, berambut gondrong dengan jidat membotak itu mengakrabi kawasan kelam kotanya. Seperti penghuni lain dunia itu, dia hidup dengan mencopet di Sekatenan, mencuri perhiasan mayat, judi cliwik, main kartu, dan bergaul dengan pelacur di rel kereta api.

Karena kehidupan demikian, lelaki kelahiran Pakem, Sleman, Yogyakarta, 4 Maret 1953 itu hanya sempat tamat SMP setelah tujuh kali ganti sekolah, lulus SD setelah tak naik kelas tiga kali, dan tiga bulan mengecap Jurusan Seni Lukis Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia. Namun, jalan hidupnya berubah ketika dia mengenal kesenian.

Terang Teater
Pertengahan 1970-an, Yogya adalah kota seni yang dinamis. Malioboro dipenuhi seniman berambut gondrong dan urakan. Di situlah orang-orang seperti Presiden Malioboro Ashadi Siregar, Landung Simatupang, Rendra, Emha Ainun Najib, Adi Kurdi, dan Linus Suryadi Agustinus nongkrong. Jemek heran melihat mereka dan curiga mereka sama seperti dia, bajingan berbahaya yang harus diwaspadai. Tapi setelah tahu mereka seniman--sebagian dari Bengkel Teater Rendra--Jemek muda mulai tertarik.

Sikap seniman yang egaliter dan terbuka terhadap orang pinggiran menjadi ruang baru bagi Jemek. Teater kemudian mulai digelutinya dengan bergabung di sejumlah kelompok, seperti Teater Alam, Teater Dinasty, dan Teater Boneka. Namun, Jemek bukanlah seniman yang kuat menghapal. Teater yang bersandar pada dialog tidak cocok untuknya. Dia paling-paling kebagian figuran yang tak perlu dialog. Namun, dari sinilah dia mengembangkan seni peran yang belakangan diketahuinya sebagai pantomim. Dia pun rajin menonton pentas pantomim dari luar negeri yang pentas di sana, termasuk empu pantomim Prancis, Marcel Marceau, yang dikaguminya.

Pergaulan dan diskusinya dengan para seniman telah menggemburkan tanah kesenian di batinnya. "Lingkungan ini seakan-akan merestui dia berkarya," kata Edi Haryono, pimpinan Bela Studio dan anggota Bengkel Teater Rendra yang masa itu kamar kostnya rajin disinggahi Jemek. Dari sekadar berpantomim pendek mengisi beberapa acara, akhirnya Jemek pentas tunggal pada 1979 di Seni Sono, Yogya. Lalu puluhan karya lahir dan pantomim menjadi nadi hidupnya.





SENI KEHIDUPAN
Biografi kehidupannya itu lalu diringkasnya dalam sebuah pentas pantomim Teman Makan Teman yang menjadi bagian pergelaran "50 Tahun Jemek Supardi, Berkesenian Tanpa Kata" oleh Jemek dan MiM teater di Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta, 5-6 Maret. Tiga orang pemain termasuk Jemek kompak menyampaikan biografi itu dengan gerakan-gerakan dinamis dan lucu serta iringan musik yang cukup keras. "Ini menggambarkan berbagai macam sisi kehidupan saya, tidak hanya yang baik tapi juga tidak baiknya," kata Jemek.
Selain nomor itu, selama dua jam Jemek mementaskan lima karya lain, Halusinasi Seorang Pelukis, Selamat Datang Jakarta, Dokter Bedah, Tukang Cukur dan Kesaksian Udin. Ia didukung tiga pemain pantomim Broto, Asita, dan Win Mukti serta peran pembantu Keken, Kuncoro JP dan Guntur Songgolangit.

Hendro Suseno, penanggung jawab pagelaran itu, mengatakan Jemek memiliki berbagai sisi unik. Masa lalunya yang keras dan kelam tidak mematikan kreativitasnya, tapi justru sebaliknya, sehingga dapat menghasilkan karya-karya kreatif yang lekat dengan pengalaman pribadinya. Halusinasi Seorang Pelukis, misalnya, diilhami kehidupan isterinya, pelukis Freda Mairayanti. Di situ Jemek berperan sebagai pelukis yang menggambar seorang penari dan berkhayal penari itu benar-benar ada. Tema ini tampaknya semacam variasi dari karyanya terdahulu, Pelukis Yang Terjebak Imajinasinya (1995).
Sedangkan Kesaksian Udin merupakan karya lama dari Trilogi Kekuasaan-nya (dua lainnya, Pisowanan dan Kotak-kotak) yang pernah ditampilkan pada 1997 di Solo dan Yogya. Kesaksian Udin merupakan rekaman pantomim tentang Udin, wartawan Yogya yang kematiannya masih misterius hingga kini. Pada 1997 pula Dokter Bedah dipentaskan. Pada pentas peringatan 50 tahunnya, dengan sedikit pembaharuan, karya itu mengisahkan dokter yang membedah pasien dengan gergaji dan menemukan kabel, telepon genggam, jam weker, dan bom di dalamnya.

Pantomim Jemek sering sensasional. Dia misalkan berpantomim di tempat tak lazim, di jalan, kuburan, kereta api, dan Rumah Sakit Jiwa Magelang. Dia juga membuat heboh ketika pantomim tak disertakan dalam agenda Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 1997. Lantas, dengan pakaian pantomim--kaos hitam-hitam dan muka putih--dia berangkat dari rumahnya di Jl. Katamso dan naik becak ke Pasar Seni FKY. Tapi, satuan petugas keamanan di Benteng Vredeburg mencegat dan menggelandangnya. Dia lalu menggelar pantomim Pak Jemek Pamit Pensiun di sepanjang Malioboro. Jalan itu pun macet total.
Dia juga pernah berpantomim sepanjang Yogyakarta-Jakarta bolak-balik naik kereta api. Saat maraknya aksi mahasiswa menuntut Presiden Soeharto mundur, Jemek menggelar aksi diam dari Yogya hingga Jakarta.

Jemek jadi buah bibir ketika menggelar Bedah Bumi (1998). Di pentas itu dia "mati" dan "dikubur" di Makam Kintelan tempat para Pahlawan Revolusi dimakamkan. Jemek menyewa 10 tukang becak untuk membawa 10 peti mati, satu peti berisi dirinya. Di makam, peti-peti diturunkan dan seorang rois membacakan doa orang mati. Lalu Jemek muncul dari peti, melepas kostumnya hingga tinggal berkain putih, lalu berkeliling makam, bertanya pada nisan-nisan di mana liang kuburnya.
Bagi Jemek, aksinya di luar ruangan itu karena keprihatinannya terhadap pantomim yang masih dipandang sebelah mata. "Itu cara saya mempopulerkan pantomim sebagai kesenian menarik dan bisa bicara tentang apa saja termasuk realitas sosial dan politik," kata Jemek yang kini rambutnya bagian depan dipangkas habis hingga mirip pemeran film silat dari Cina, Jet Lee.

Namun, pantomim macam apa yang dilakoninya? Edi Haryono menilai pantomim Jemek berbeda dari pengertian Barat. "Dia berangkat dari alamiah, naluriah, bukan persentuhan dengan teknik," kata Edi. Baginya, pantomim Jemek mirip dengan seni tradisi mbarang yang dulu pernah hidup di kampung-kampung Jawa Tengah.
Yang patut dikagumi dari Jemek adalah kekonsistennya dalam berpantomim. "Saya suprise, karena kesenian baginya bukan soal coba-coba tapi hidup itu sendiri," kata Edi. 

Sumber: 

15 Februari 2011

LAUT BIRU

.
.
.
.
.

Sampan kecil

Dengan sampan kecil aku coba mengarungi lautan,
mengharap belas kasihan angin agar sampanku tetap melaju kedepan.
Coba taklukan rasa takut, walau cemas mencengkram.
Teriakan burung- burung laut, entah ejekan atas ketidak berdayaanku
atau lengkingan pemberi semangat atas kenekatan hatiku.
Sampan kecil jiwaku...
tanpa bekal yang cukup aku coba mencari pelabuhan entah dimana...

mamechang at 15/03/05 11:20 PM


sukaku belum tentu sukamu

sering aku bercerita tentang betapa mengasikkan ketika berada ditengah laut,
menjelajahi hutan atau keluar masuk kampung- kampung kumuh.
sebagian teman ku bertanya apa yang aku cari...
aku jawab tidak aku cari apa-apa,
tapi aku selalu menemukan.

aku temukan keramahan dengan ketulusan,
aku temukan kekuatan tanpa kesombongan,
aku temukan wajah-wajah lelah namun tetap tersenyum,
aku temukan kesedihan namun bukan untuk meminta belas kasihan,
aku bertemu guru yang tidak mengurui....

mamechang at 16/03/05 2:01 AM


tempatku bermain

Siang itu di perkampungan nelayan muara baru cilincing jakarta utara.
Udara begitu panas, padahal bulan ini oktober yang seharusnya banyak hujan.
Pengab, panas dan bau amis....begitu yang kami temui setiap hari...

tapi inilah rumah kami.

Rumah kami yang sempit dan berhimpitan namun berhalaman maha luas
karena halaman kami adalah lautan.
halaman tempat kami bermain menghabiskan waktu,
tempat kami belajar mengenal laut
sebelum kami mengarunginya.

mamechang at 17/03/05 3:15 AM 


carousel di atas sampah


mamechang at 23/03/05 10:00 AM


Yen ingtawang

mamechang at 24/03/05 12:42 PM 


Yang Lalu

pernah kita jalan beriringan
tapi kita tak sampai tujuan
ternyata jalan kita bukan jalan yang sama
sampai akhirnya kita putuskan melepas gengaman tangan kita

kenangan manis dijalan yang kita lalui
bagai mimpi yang tak mungkin terulangi
walau ada kepedihan untuk sebuah perpisahan
tetapi aku berharap semua ini adalah suatu awal kebaikan

biarlah hanya waktu
untuk menjawab semua pertanyaanku
biarkan takdir
menentukan sesuatu yang akhir...


mamechang at 04/04/05 5:35 AM


Menambal Senja

beberapa hari aku lihat senja begitu suram,
seakan matahari terburu-buru untuk pulang,
tanpa sempat meninggalkan kesan dengan warna jingganya.
untung masih aku simpan secarik senja yang semestinya ku berikan buat kamu,
tapi tak apalah biar kujahit secarik senja ini di ufuk barat sana,
biar semua orang bisa menikmati...
toh kamu pun bisa tetap menikmati nya pula, kalau mau!...

mamechang at 08/04/05 11:54 AM




 ucapan terbuka

Ketika rantai telah ditambatkan,
bahterapun akan kau labuhkan,
bagai kuda-kuda yang terikat pedati
Larimu tak akan kencang lagi
walau punggungmu dilecut cemeti


Maaf atas ketidakhadiranku di hari bahagiamu. bukan berat kaki melangkah, bukan pula aku berhati gundah.pikirku tak hadirku tak akan mengurangi bahagiamu

mamechang at 26/04/05 8:27 AM



Engga perlu

Apa yang membuatmu pagi ini bertandang ke tempatku?
Yang jelas bukan lah rindu...

Tak perlu sumringah di depanku
Tak usah senyum ramah kau laburkan di wajahmu

Kakiku langkah terseok...
Harga diri yang terseret-seret...


mamechang at 11/05/05 2:01 AM




Perahu kayu

Perahu kayu lapuk tetap kucoba untuk melaju, sementara tangan ku kian sibuk mendayung menyibak ombak . Bocor dilambung perahu kini kian lebar bagai borok yang terus meradang , ribuan ikan-ikan teri mengkerikiti seakan berharap aku tenggelam dan menggagalkan mengetahui rahasia yang ingin aku ketahui di tengah samudra sana.
Tak ingin aku berdamai dengan penghalang-penghalangku, sebab hanya melemahkan usahaku.
Andai aku tidak berhasil aku lebih suka terkubur di dasar lautan dan dilupakan.
30 tahun sudah perjalanan perahu lapuk ini, makin terlihat kelapukannya tapi semakin terbiasa menembus ombak, walau belum aku temukan apa yang ku cari di samudra luas ini tapi ku coba artikan setiap gelombang yang terlewati, berharap itu sebuah pesan.
Pagi ini setelah badai semalam, laut cerah dengan tarian tarian kecil ombak menyiratkan ku untuk melaju lebih cepat menuju mentari yang baru saja terbit . Walau tak ada kicau merdu burung pagi atau tetesan embun segar, hanya keheningan yang terciptakan.
Aku berdoa kepada Pencipta laut agar tak datangkan badai untuk ku, berpesan pada-Nya agar angin memihak ku.
Setelah terampasnya kebebasan lalu kau ciptakan kebisingan di sekitarku tetap lah sepi terasa dihati, kini aku kumpulkan kembali kebebasan itu kemudian aku leburkan diri ini dalam keheningan yang tidak bisu.
Dalam kegelapan malam samudra terlihat kerlipan mengundang banyak pelabuhan, memanggil dengan keramahan semu, keramaian sepi kemudian mencoba menggairahkan cinta tetapi sesungguhnya hanya nafsu. Memang kadang tak mampu aku berpaling dari keindahan pelabuhan-pelabuhan itu, beruntung menara suar Mu slalu mengingatkan arahku yang sebenarnya.
Perahu lapuk yang kini tak bertambat, hanya berjalan mengikuti arus hatinya hingga suatu saat ada pelabuhan yang menerima keadaan apa adanya, disana lah mungkin aku turunkan sauh dan ikatkan tambang penambat.

mamechang at 16/05/05 2:12 AM 


Cerite dari tetangge sebelah 1


Neng...biar kate betawi pindah di pulau sumatra,
cinte abang kagak bakal pinde kelaen ati...
ibarat kate abang udah cinte mati ama neng...
kalo eneng kagak percaye, bole ambil golok terus beset dade abang deh!
liat di dalem hati abang ada name neng ditulis disitu

(hehehe Ntu rayuan waktu cinte lagi anget2nye)

mamechang at 31/05/05 6:16 AM 




buat gadis kecil di padang rumput

Gadis kecil berdiri di padang rumput berilalang.
Matahari masih condong di timur, pagi yang cerah
Angin bertiup, mengusap pipi merahnya
Hatinya penuh kerinduan, kerinduan yang tak terpenuhi selama tujuh tahunan

Sampaikan rasa rinduku Wahai Kekasih Platonisku
Sambut hembusan angin yang ada di sana
Cium bau hangat yang tertangkap
Lihat pemandangan yang serba biru dan teramat indah
Dengar suara ombak dan angin yang sangat menggila merasuki hati
Rasakan lembutnya pasir dan basah air asin yang datang dan pergi seakan mempermainkan lara yang penuh derita menahan sesak?

Jauh beratus kilo meter, sang kekasih platonis tersentak
Seakan dentuman angin berisi pesan menerpanya...
Dia termenung di antara birunya laut yang membius hati...

Gadis di padang rumput berilalang...
Apabila kau merindukan tempat ini, kau harus datang sendiri ke sini...
Satu-satunya penawar rasa rindumu hanya ada di sini...
Bersabarlah dalam rasa rindumu, karena tempat ini tetap menantimu sampai kapan pun
Dia akan setia, sama sekali tak bergeming, sampai waktunya kaki kecilmu melangkah di atas pasir lembutnya ?

Hembusan angin berbau garam, ocehan burung laut seakan menyanyikan lagu Selamat Datang, percikan air di lunas perahu, semua adalah lakon dalam panggung alam yang jadi juara festival, di mana semua juri dan penontonnya memberikan penghormatan tertinggi

Gadis kecilku, aku berada di tengah laut yang biru, tiada apa-apa lagi, hanya kedamaian?

Gadis kecilku,di tengah lautan biru aku tuliskan kisah-kisahku, dalam setiap alenia gelombang kutulis dengan tinta warna mentari jingga.

Gadis kecilku, terbacakah tulisanku? atau kau terlalu jauh untuk menatapnya?...
jangan kau risaukan itu...akupun tak sabar untuk mengayuh sampanku ketepi, kemudian membisikkan kisah-kisah ini ditelingamu...

Maafkan aku gadis kecilku,aku tahu ceritaku bukan segala-galanya, karena begitu sulit kugambarkan dengan kata-kataku yang terbatas...dan tentulah banyak kisah yang lebih menarik telah kau dengar di atas padang ilalang sana...

Gadis kecilku,akan selalu kutulis kisah-kisahku di tengah laut sana, ber aleniakan gelombang,bertintakan jingganya mentari...berharap suatu saat kau datang dan membaca dan merasakan sendiri keindahannya...

Buat Temanku Andra...

mamechang at 13/06/05 7:00 AM


Salah mencintai?

Salah Mencintai?
pernahkah...
jangan sampai itu terjadi...
hati2lah.karena cinta adalah energi yang sangat besar dalam hidup ini...
jangan buang energi itu sia-sia untuk salah mencintai...
jangan membohongi untuk cinta,
jangan mencampur adukkan nafsu dengan cinta...
cukup jujur dan apa adanya...

(hasil pemikiran dari wc tadi pagi...eeee..preets! ah..lega,
aku lepaskan engkau pagi ini dengan senyum seperti aku lepaskan engkau tempo hari...)

mamechang at 15/06/05 12:50 PM


 

sang Layar

Angin sejuk yang terhembus perlahan
membangkitkan apa yang seharusnya aku pendam
aku pernah merasakan angin yang sama waktu lalu...
ternyata angin sejuk penghantar badai kesedihan semata.

kini angin itu datang lagi
walau dari arah yang berbeda
mulanya aku menikmati...
tapi kini aku ketakutan

dalam hati bertanya-tanya...
kau kah angin yang datang waktu lalu?
walau kini datang dari arah yang berbeda...
ataukah kau angin yang benar-benar baru?

semoga kau bukan angin putingbeliung
yang begulung-gulung mengekang diriku
semoga juga bukan badai
yang menerbangkan batu-batu tajam menghujam diriku

karena aku lah layar yang pernah terkoyak

mamechang at 19/07/05 5:26 PM


pengembara laut dan padang rumput

desau bisikan angin laut
lembut nan merayu membelai bunga2 di padang rumput
melenakan gadis kecilku
yang terbaring diantara kelopak bunga
sang angin adalah pengembara laut
ulurkan tangan merengkuh hatinya
usapan lembut,menepis galau
mari melayang bersamaku
singgah di surga2 kecil sekedar berteriak
tapi sayangku, kita harus kembali
aku harus menyambangi laut menjemput ombak
"bawa aku" pinta gadis kecilku...
sang angin terdiam...

mamechang at 05/09/05 9:07 AM



mari duduk di sebelahku

Dik, silahkan duduk di sebelahku...
kita iringi mentari yang akan tenggelam dengan mata kita
tak usah kita berkata-kata
cukup dengarkan kesunyian kemudian artikan dalam hati
dan, jika malam telah merengkuh bumi
akan kunyalakan pelita kecil untukmu
sekedar menepis kelamnya kabut malam
juga sebagai petunjuk jalan untuk pulang
mari ku genggam tanganmu

mamechang at 07/09/05 1:18 PM



aaaaaarrrrggghhhhh....

aaaaaaarrrrrgggggghhhhhhh
saat ini aku ingin terbang
tapi sayapku terikat kencang
ku coba tabah seperti karang
walau sembari menggerang...
aaaaarrrrrrgggggghhhhh
berteriak
serak...
sesak...
meledak....

sayang, aku butuh angin silir-silir hembusan nafasmu
atau merdunya cekikik suara tawamu
aku butuh...


mamechang at 08/09/05 6:53 AM



buat Eliza

Eliza,
sepenggal cerita yang kubisikkan lewat angin pagi
semoga tidak mengusikmu yang masih bersembunyi di balik selimut
Eliza,
mau kah kau sampaikan maafku pada gadis kecil dipadang rumput
katakan padanya bahwa aku harus membayar rasa rinduku pada sang laut
pagi ini rinduku pada ombak, pada angin berbau garam, teriakan burung camar, kecipak ikan dilaut dalam, memanggilku begitu kuat.
Eliza,
aku telah berada ditepiannya
siapkan dayung hasrat
leburkan diri dalam ombak

mamechang at 20/09/05 8:51 AM



kaum coro

apapun namanya,
coro, kecoak, cocroach...
tetep kinclong walaupun ennga' mandi
tapi tetep bau walau habis gigitin sabun mandi


Tempat pembuangan akhir adalah tempat kami
WC, got dan tempat sampah...


mamechang at 21/11/05 11:08 AM



Angin Dalam Botol

kau simpan angin dalam botol?...percuma sayangku...yang tersimpan hanya kehampaan
angin yang tak dapat kamu miliki...biarkanlah semilirnya membelai rambutmu
biarkanlah ia gugurkan daun-daun agar tanah berhumus
biarkanlah dia menyapu laut agar ciptakan ombak
kau..tak mungkin miliki sang angin...
karena begitu kau menyumbatnya dia tak akan berguna
yang kau lihat hanya kehampaan dalam botol..

mamechang at 29/11/05 5:04 AM


tanak nasi

Mbok Rasmi bangun pagi
nanak nasi
beras antri
dan harus antri lagi
hari ini
walau ia hampir mati
desak-desakan demi ganjal perut
yang pagi ini
akan dia buang dikakus

mamechang at 13/01/06 9:23 AM






disini aku dapat damaiku

berdiri di ujung lunas perahu
angin menerpa dadaku yang tak berbaju
tanggalkan segala keterikatan
dari hidup yg penuh batasan

maaf tak kubawa dirimu dalam setiap petualanganku
maaf atas cerita-cerita yang membosankan
tentang angin, laut dan karang
yang aku dongengkan buatmu

disini aku dapatkan damaiku
diantara gulungan ombak
diantara kesendirian yang tak sepi


mamechang at 24/02/06 6:44 AM



Perempuanku...

Perempuanku...
maukah kau tanam bibit cinta di hatimu?
bibit yang ada di gemgaman tanganku akan kuserahkan padamu...
bibit kecil berbertuk serupa hati adalah tanaman cinta.bibit ini cuma satu,
karena aku hanya punya satu hati untuk satu cinta,

tanam ini di hatimu agar hati kita saling bertaut,

tolong pupuk dengan harapan,
jangan biarkan daunnya tanggal oleh angin godaan,
jangan biarkan batangnya patah oleh ketidak setiaan...

Perempuanku...
tanaman ini akan menjalar di tiap aliran darahmu, dengan bunga-bunganya yang wangi membuat perasaanmu nyaman, buahnya yang manis dengan rasa kecupan, pelukan dan belai lembut...


mamechang at 04/04/06 5:24 AM









Gw posting artikel ini semata-mata karena gw suka ama puisi & ilustrasi2-nya, gw sama sekali g' mengenal penulisnya, blog penulisnya pun gw dapetin secara g' sengaja, ketika sedang googling mencari gambar kecoak tapi malah nyasar ke blog ini.
info tentang penulisnya g' banyak yg bisa gw dapetin, kelihatanya blog ini ditulis saat era kejayaan friendster (2005-2008) sebelum tergilas oleh twitter & facebook.


Author : mamechang
http://mame.blog.friendster.com/
http://www.ebloggy.com/blog.php?username=mame&id=1&start=0

22 Juni 2010

Puisi-Puisi Umbu landu Paranggi


Berikut ini adalah beberapa Puisi-Puisi Umbu landu Paranggi



Sajak Kecil

I
Dengan mencintai
Puisi-puisi ini
Sukma dari sukmaku
Terbukalah medan laga
Sekaligus kubu
Hidup takkan pernah aman
Kapan dan di mana pun
Selamanya terancam bahaya
Dan kebenaran sunyi itu
Penawar duka bersahaja
Selalu risau menggembara
Mustahil seperti misteri
Bayang-bayang rahasia
Bayang-bayang bersilangan
Bayang lintas bayang
Pelintasanku

II
Dengan mempercayai
Kata kata kata
Yang kutulis ini
Jiwa dari jiwaku
Jadilah raja diraja
Sekaligus budak belian
Sebuah kerajaan
Purbani
Lebih dari napasku
Bernama senantiasa
Nasibmu
Umbu landu peranggi

Ibunda Tercinta

Perempuan tua itu senantiasa bernama:
Duka derita dan senyum yang abadi
Tertulis dan terbaca, jelas kata-kata puisi
Dari ujung ranbut sampai telapak kakinya
Perempuan tua itu sentiasa bernama:
Korban, terima kasih, restu dan ampunan
Dengan tulus setia telah melahirkan
Berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia
Perempuan tua itu senantiasa bernama:
Cinta kasih sayang, tiga patah kata purba
Di atas pundaknya setiap anak tegak berdiri
Menjangkau bintang-bintang dangan hatinya dan janjinya.

1965

Melodia

Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali
Bertahan
Karena kehidupan pun sanggup merangkum duka gelisah
Kehidupan
Baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi
Suara-suara luar sana
Sewaktu-waktu berjaga dan pergi, membawa
Langkah ke mana saja
Karena kesetiaanlah maka jinak mata dan hati
Penggembara
Dalam kamar berkisah, taruhan jernih memberi arti
Kehadirannya
Membukakan diri, bergumul dan menyeri hari-hari
Tergesa berlalu
Meniup deras usia, mengitari jarak dalam gempuran
Waktu
Takkan jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi
Dan rindu menyanyi
Dalam kerja berlumur suka-duka, hikmah pengertian
Melipur damai
Begitu berarti kertas-kertas dibawah bantal,
Penanggalan penuh coretan
Selalu sepenanggungan, mengadu padaku dalam
Manja bujukan
Rasa-rasanya padalah dengan dunia sendiri manis,
Bahagia sederhana
Di rumah kecil papa, tapi bergelora hidup kehidupan
Dan jiwa
Kadang seperti terpencil, tapi bergairah bersahaja
Harapan dan impian
Yang teguh mengolah nasib dengan urat biru di dahi
Dan kedua tangan


Solitude

dalam tangan sunyi
jam dinding masih bermimpi
di luar siang menguap jadi malam
tiba-tiba musim mengkristal rindu dendam

dalam detik-detik, dalam genggaman usia
mengombak suaramu jauh menggema
menggigilkan jemari, hati pada kenangan
bayang-bayang mengusut jejakmu, mendera kekinian

seberkas cahaya dari menara waktu
menembus tapisan untung nalang nasibmu
di luar tiba-tiba angin, lalu gerimis berderai
dalam gaung kumandang bait demi bait puisi


Sabana

memburu fajar
yang mengusir bayang-bayangku
menghadang senja
yang memanggil petualang

sabana sunyi
di sini hidupku
sebuah gitar tua
seorang lelaki berkuda

sabana tandus
mainkan laguku
harum nafas bunda
seorang gembala berpacu

lapar dan dahaga
kemarau yang kurindu
dibakar matahari
hela jiwaku risau
karena kumau lebih cinta
hunjam aku ke bibir cakrawala


Di Sebuah Gereja Gunung

lonceng kecil yang bertalu, memanggil-manggil belainya
di tengah kesunyian, minggu pagi yang cerah
mereka pun berduyunlah ke sana: warga petani dan gembala
dalam dandanan sederhana, bangkit dari kampung, lembah
bukit dan padang-padang sepi

hidup dan kehidupan mereka di tanah warisan itu, telah terpanggil
dan lonceng gereja lalang di lereng gunung itu menuntun setia
dalam galau kesibukan mereka sehari-hari tak pernah lupa
panggilan minggu: di sini mereka, dalam gereja lalang dan bambu
—berpadu memanjat doa dan terima kasih bagi kehidupan
—bagi kebutuhan hari ini, hari depan datanglah ketenteraman
—di antara sesama, pada malapetaka menimpa dunia ini
—pertikaian peperangan, damailah di surga di bumi ini: mazmur mereka

keyakinan yang telah terpatri, bersemi, tak terikat ruang dan waktu
juga dalam gereja lalang ini, terpencil jauh dan sunyi
jauh dari genteng, kegaduhan listrik serta deru oto
tak mengenal surat kabar, jam radio ataupun televisi
tapi keyakinan, pegangan mereka adalah harapan dan kerinduan yang samamentari dan bulan yang bersinar di mana pun—
dan tuhan mendengar seru doa mereka



Percakapan Selat

Pantai berkabut di sini, makin berkisah dalam tatapan
Sepi yang selalu dingin gumam terbantun di buritan
Juluran lidah ombak di bawah kerjap mata, menggoda
Dimana-mana, dimana-mana menghadang cakrawala
Laut bersuara di sisi, makin berbenturan dalam kenangan
Rusuh yang sampai, gemas resah terhempas di haluan
Pusaran angin di atas geladak, bersabung menderu
Dimana-mana, dimana-mana mengepung dendam rindu
Menggaris batas jaga dan mimpikah cakrawala itu
Mengarungi perjalanan rahasia cintakah penumpang itu
Namun membujuk jua langkah, pantai, mega lalu burung-burung
Mungkin sedia yang masuk dalam sarang dendam rindu
Saat langit luputkan cuaca dan laut siap pasang



Kata, Kata, Kata

Kenangkanlah gumam pertama
Pertemuan tak terduga
Di suatu kota pantai
Di suatu hari kemarau
Di suatu keasingan rindu
Di suatu perjalanan biru

Kenangkanlah bisikan pertama
Risau pertarungan kembara
Duka percintaan sukma
Rahasia perjanjian sunyi
Kenangkanlah percakapan pertama

Gugusan waktu, napas dan peristiwa
Mungkin hanya angin, daun dan debu
Pesona terakhir nyanyian sajakku

Baca Juga :
Umbu landu Paranggi

Umbu Landu Paranggi


Syahdan pada waktu periode akhir 60an sampai pertengahan tahun 70 an, ada sosok yang sedemikian di hormati di kawasan Malioboro dan sekitarnya. Jika generasi flower generation di Amerika memiliki Simon & Garfunkel atau Bob Dylan. Di Jogjakarta siapa yang tak mengenal Umbu Landu Paranggi – raja sesungguhnya kawasan Malioboro.
Saya tak mengalami jaman jaman tersebut selalu bertanya tanya kepada mereka yang mengenal sosok gondrong itu, yang garis wajahnya seperti kuda sumba yang keras. Membuat penasaran apa yang membuatnya begitu begitu heroik dan menjadi sumber oase dari sastrawan, penulis, tukang becak sampai pelacur di seputaran Malioboro.

Jalannya hidupnya konon misterius – ada yang bilang nomaden - dan biasa berjalan dari tempat nongkrongnya di Malioboro utara sambil menyapa orang orang dan menulis puisi. Ia selalu mengajar orang menulis sastra ,membimbingnya dalam Persada Studi Klub di Koran Pelopor Jogja. Ia memperhatikan pertumbuhan puisi, menjaga dan menumbuhkan sastrawan sastrawan baru yang kini mungkin anda banyak mengenalnya, seperti Emha Ainun Najib, Linus Suryadi sampai musisi Ebiet G Ade.

Ya, keahlian sebagai penulis puisi membuat ia peka dengan manusia dan kehidupan sekitarnya. Sehingga ustad Umbu, - demikian Emha menjulukinya – karena integritasnya kepada lingkungan dan sastra, juga sangat peduli dengan orang orang kecil.
Pernah suatu ketika ia menghampiri seorang pemungut sampah dan mengajaknya bicara. Kemudian ia mengajari baca tulis, serta mengangkat derajatnya menjadi tukang becak. Setahun berselang kepada teman temannya ia menunjuk tukang becak itu yang sedang istirahat membaca Koran.
“ lihat tahun depan ia akan bisa menulis puisi “. Umbu memang selalu percaya bahwa manusia pada hakekatnya memiliki potensi yang sama.

Umbu adalah orang yang rendah hati. Pakde Umar Kayam begitu pulang dari Amerika terkaget kaget melihat betapa halusnya perikata sosok manusia ini. Padahal Umbu bukan orang Jawa. Ia berasal dari tanah Sumba , Nusa Tenggara Barat. Ia juga tak pernah mau tulisannya diterbitkan. Ia hanya mendorong murid muridnya maju dan menjadi sastrawan kelas atas. Ia cukup bangga sebagai begawan yang memperhatikan dari jauh.
Barangkali ini yang dinamakan sebagai penggerak swadaya masyarakat tanpa pamrih. Ia mungkin bisa sejajar dengan Romo Mangun yang juga menjadi pahlawan bagi masyarakat kali code. Bahwa kadang kadang dalam masyarakat dibutuhkan orang orang waras yang tak peduli untuk mengajarkan atau memberikan sesuatu. Apapun bentuknya. Hanya satu tujuannya, membawa ke wujud kehidupan yang lebih baik.

Umbu tak pernah puas. Suatu saat ia menghilang. Alasannya ia hendak menengok padang rumput savanna di kampungnya , Sumba. Seketika Jogja kehilangan denyut nadi kehidupan sastra yang tadi bergairah. Mungkin ia merasa sudah cukup meninggalkan 1000 penulis puisi dengan diantaranya 300 yang berbakat.
Ia memilih menetap di Bali. Ia menjadi brahmana Umbu disana, mendorong pertumbuhan sastra di pulau dewata. Ia tetap menggelandang, tidur beratap langit dan menyimpan uangnya di dalam tanah.
Kita bisa mencontoh Umbu. Menjadi mata air dimana saja, tidak harus dibatasi sekat budaya, agama dan manusia. 


Nama :
Umbu Landu Parangi

Lahir :
Sumba, Nusa Tenggara Timur,
10 Agustus 1943

Pendidikan :
SD dan SMP di Sumba, NTT,
SMA Bopkri 1 Yogyakarta,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM (tidak tamat),
Universitas Janabadra jurusan Sosiologi

Profesi :
Pendiri Persada Studi Klub (PSK),
Redaktur kebudayaan Pelopor Yogyakarta (1966-1975),
Redaktur harian Bali Post, Bali

Karya :
Tonggak,
Bonsai’s Morning,
Teh Ginseng

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Umbu_Landu_Paranggi
http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/umbu.html 
http://katakamidotcom.wordpress.com/2010/02/03/umbu/ 
http://blog.imanbrotoseno.com/?p=277

Puisi-puisi Umbu Landu Paranggi


Baca Juga :
Kumpulan Puisi

Biografi Penyair

21 Maret 2010

Kumpulan Puisi GOJEK JS


  • Puisi Pat Gulipat
  • Siapa Hendak Gugat
  • Bola
  • Mati Sia-Sia
  • Ada Neraka Di Televisi
  • Sangalas Sangalima
  • Puisi Tanpa Minyak Wangi
  • Sepak Bola Liga Kuning
  • Preman Dan Mimpinya
  • Andai-Andai Naik Kelas
  • Menuju Terminal Kematian
  • Rindu Demokrasi
  • Beda Pendapat


PUISI PAT GULIPAT

pat pat pat gulipat
malam jumat main jimat
gadis manis hendak kupikat
randha ompong malah terjerat

dengarkan
aku punya jampi-jampi
bisa bikin kaya tanpa korupsi

caranya
para pinter jangan keblinger
para bodoh jangan ceroboh

sebab
sepandai-pandai bajing meloncat
bajingan lebih pandai melompat

orang-orang di seberang sana
menyembelih rembulan
untuk pesta nanti malam
pesta tanpa resepsi
menggelar aneka hiburan
ada dansa ca...ca...ca...
ada joget tra...la...la...la

paling menarik mainan srikat-srikut
yang berpangkat siap menyikat
yang takut mesti disikut

ada pula dolanan gobak sodor
perempuan menggobak laki-laki
laki-laki menyodor perempuan
perempuan laki-laki
saling gobak saling sodor

hong wilaheng...hong wilaheng
sapi dianggap banteng
bila mami nyeleweng
papi juga dhegleng
anaknya diseruduk celeng

anak-anak tanpa benih kasih
hasil perkawinan ala gobak sodor
mereka malas pergi sekolah
di kelas tak ada narkotika
buku pelajaran penuh hafalan
dan gambar para pahlawan
ilmu berhitung
menambah bingung
para guru kian murung
menghitung gaji yang buntung

pat pat pat gulipat
malam jumat main jimat
dunia nyaris kiamat
biar hidup tak kuwalat sebar zakat
rajin tirakat
dijamin selamat
donya akherat


SIAPA HENDAK GUGAT

mata pejam
mulut bungkam
hati beku
lidah kelu
angin malas bertiup ranting rapuh takut jatuh

siapa hendak gugat ?
tatkala pengadilan melepas durjana sebab tak satu pun punya nyali untuk beri kesaksian
pula engkau sang pujangga

solo, 1994


BOLA

(nostalgia pada TT)

engkaukah wanitaku
lincah dan gesit bagai bola

menggelinding berlari
di lapangan hati
kudepak dari lini tengah
wasit acungkan kartu kuning

engkaukah wanitaku
lincah dan gesit bagai bola

menggoda kaki-kaki sukma
bermain di tanah basah becek
sungguh sulit menguasaimu
hingga datang turun minum

engkau kian binal dan nakal
makin licin semisal belut
pada babak kedua
adakah tendangan pinalti
mengkoyak-koyak gawang jiwa

engkaukah wanitaku
lincah dan gesit bagai bola

gol belum tercetak
peluit panjang tak jua datang
kuasakan perang antar suporter
hentikan permainan asmara

solo, 1994



MATI SIA-SIA

kemarin
penyair mati tertimpa rembulan
hari ini
penyair mati ditelan hutan
esok
penyair mati diterkam ombak

apa yang kalian cari
wahai para pengrajin kata
mati tertindih mimpi sia-sia

tak ada kemunafikan di atas langit
tak ada perselingkuhan di tengah rimba
tak ada ketimpangan di lepas laut

solo, 1994



ADA NERAKA DI TELEVISI

sorga tak punya jendela
kita tak tahu apa isinya

tapi kita punya televisi
yang menayangkan isi neraka

solo. 1994


SANGALAS SANGALIMA

Anemahi jaman edan
wong edan padha dum-duman
kang eling diwaspadani
Wus genah kersaning Allah
sak edan-edane wong kaliren
luwih edan wong kuwaregen

1995


PUISI TANPA MINYAK WANGI

Ada puisi tercecer di laci
bau tahi sapi
Siapa penyairnya?
Jangan dikunyah
puisi beracun kayak roti marie
Jangan direnung
puisi tanpa minyak wangi
menyulut anarki
Ada puisi tercecer di laci
bau tahi sapi
Panggil polisi
biar digebuki
Pasti mengaku
siapa penyairnya

solo, 1994


 SEPAKBOLA LIGA KUNING

Kehidupan adalah arena sepakbola ketika tanah lapang dibangun toko – pabrik – supermarket - parkantoran. Maka dimaklumkan bersepakbola di sembarang tempat. Adegan tendang-tendangan terjadi di ruang seminar kampus - gedung kesenian-pasar dan kantor polisi sebagai manifestasi "dari kemerdekaan berserikat berkumpul dan bersepakbola.
Telah terjadi pertandingan seru antara kesebalasan pejabat melawan dharma wanita di sebuah kamar hotel. Babak pertama tim bapakbapak tak kuasa menandingi kehebatan ibuibu. Setelah turun minum para pejabat tampil bergairah cenderung beringas. Bola ditendang jauh melangit tak kembali ke lapangan maka apa saja yang bentuknya menyerupai bola disepak-digasakdisundul-diremasremas. Serangan dilancarkan tim pejabat berkalikali mengoyak gawang lawan namun wasit tentukan ibuibu sebagai pemenangnya. Belakangan diketahui bapakbapak terlibat kasus doping ada yang memakai obat benkwat-jamu untuk pakde bahkan membuat ramuan tiga dimensi :ciu dioplos temulawak dan pil koplo.
Paling menarik kompetisi antara kesebelasan. mahasiswa melawan tentara dilangsungkan di ruang interograsi. Menit pertama para mahasiswa babakbelur menjadi sasaran tendangan beruntun yang dilancarkan secara tidak sengaja. Wasit acungkan dua kartu merah untuk tentara karena diketahui tidak membawa senjata api dan lima kartu merah untuk mahasiswa yang terbukti menerima duit dari sebuah lsm luar negeri. Para pemain dua kesebelasan samasama mengenakan kostum kuning juga wasit-petugas keamanan-hakim garis-penjual tisue dan seluruh penonton diwajibkan mengenakan kuning-kuning. Awak angkutan umum yang membawa para suporter terkenakewajiban itu. Becak-dokar-bemo dan biskota pokoknya segala jenis kendaraan harus berwarna kuning termasuk mobil plat hitam plat merah harus diganti plat kuning. Sebelumnya, panitia melalui siaran radio-televisi-koran dan majalah menganjurkan kepada masyarakat agar selama seminggu tidak menggosok gigi.

Di luar arena pertandingan seorang penjahat memakai kaos merah lari terbiritbirit dikejar polisi berseragam wereng cokelat. Penjahat melompat tembok stadion disusul polisi keduanya kejarkejaran di lapangan. Lihat adegan itu seluruh penonton mulai rakyat kecil-cendikiawan-senimanbudayawan-pengusaha-birokrat-politikus-bandar judi hingga penjual es lilin serentak menyanyikan lagu kebangsaan :
"Ole ole ole ole ole ole.    Ole oloe ole ole ole ole.
Ole ole ole ole ole ole. ..
Penjahat berlari makin kencang keluar lapangan mencari tempat ngumpet masuk ke wc dekat tribun samping kiri. Polisi mendobrak pintu lantas bergelut di kamar kecil yang berwarna kuning pula. Penjahat berkaos merah dan polisi berseragam wereng cokelat keluar dari wc samasama menjadi kuning karena belepotan tinja. Sungguh sulit membedakan siapa preman siapa polisi karena keduanya samasama kuning.
"Ole ole ole ole ole ole. Ole ole ole ole ole ole:'

Indonesia. 1995




PREMAN DAN MIMPINYA

lahir kala matahari terbelah lima
hasil kawin silang antara wayang dan ketoprak
nongol lewat rahim Batari Durga
berkan kejantanan Menakjingga
Supreman namanya
sebut saja Preman
jangan sekali-kali memanggil Su !
Menjadi perampok adalah pilihan hidup
ketika durjana disembah bagai berhala
Preman pewaris bangsa perkasa
kakek moyang Badranaya
nenek moyang Putri Shima
pakde moyang Dasamuka
bibi moyang Ken Dedes
paman moyang Baladewa
tante moyang Halo Kalinyamat
Mimpi menjadi presiden
memang cita-cita sejak belia

- Oih
Akulah Preman
merapat dermaga bersama ombak dan badai
dikawal selusin pemabuk dan seribu kupu-kupu

Pelabuhan sejarah hatinya resah
bumi gundah langit gelisah
Masa depan telah berlangsung kemarin
hari ini tak mampu membunuh masa lalu

- Akulah Preman
anak cucu Kiageng Sela
setengah abad mengembara di laut lepas
Kembali ke kampung halaman
menjadi pemimpin di tanah leluhur
melanjutkan jejak Ken Arok
benggol maling merebut tahta Tunggul Ametung
Betapa menyenangkan brandalan jadi raja
bayangkan bila penyair menjadi presiden

rakyat kelaparan dijejali puisi
bila serdadu menjadi ratu
rakyat diberi sepatu dan peluru
Kebanggaan penyair ketika menjadi pujangga
kebanggaan tentara ketika menjadi senapati

Ini bukan bagian dari mimpi
sebuah kenyataan tak bisa dipungkiri
senapan sejarah telah menyalak
tiga butir pelor menghantam
tepat pada nasibnya
Tubuh terkapar di atas trotoar
impian tumbang bersimbah darah
Preman telah anumerta
terkubur bersama angan-angan
tapi bajingan belum mati
sebagai raja pada lakon sehari-hari
siap membunuh mimpi-mimpi
di negeri yang selalu curiga

solo. 1995

ANDAI-ANDAI NAIK KELAS

Emak, ketika pesta panen tiba bulan depan
kala saatnya guru membagikan rapor kenaikan kelas
jangan sambat pada dukun untuk menghapus warna merah prestasi tak bisa digapai lewat sesaji dan jampi-jampi

Emak, andai naik kelas dengan ranking pertama
belikan sepatu yang bisa menyala seperti anak-anak kota dengan memakai sepatu berlampu akan menjadi semakin jelas siapa yang harus ditendang dan siapa yang diinjak-injak

Emak, di kelas enam ada guru yang galak bukan kepalang
pada hal nama guru itu diambil dari kitab suci
pernah ada oknum murid yang ditempeleng gundulnya
karena tak bisa menjawab pertanyaan di kelas
ditanya siapa presiden Israel dijawab Liem Sioe Liong
yang benar kan Edy Tanzil !
pernah pula penghapus melayang ke jidat temanku
karena lebih banyak mengenal tabiat Menteri Penerangan namun tak mengetahui siapa nama Menteri Pendidikan

Emak, bila rapor bebas angka merah
kelak aku lebih suka menjadi petani
menggarap sawah di tanah entah milik siapa
bila ada tiga nilai merah ku hendak jadi wartawan
yang mengetahui segala hal namun tak tahu nasib sendiri
bila ada lima nilai merah ku hendak jadi tentara
sebagai tentara sungguh seperti anak balita
potong rambut dan nonton bioskup bayar setengah harga bahkan perwira yang paling sial pun bisa menjadi walikota bila seluruh angka rapor merah membara
tak perlu lagi sistem pendidikan diteruskan
sebab hanya akan melahirkan anak-anak metal
yang gagal menjadi generasi pembayar hutang masa depan

Emak, hama wereng datang menyerang
paceklik menghadang pesta panen batal dilaksanakan
maka rapor kenaikan kelas tak juga disampaikan
anak didik makin gelisah di ruang kelas yang sumpek
dan lembab bagai pasar sayur mayur
murid-murid bertumpuk seperti cabe rawit, kol gepeng, wortel tanpa daun, lombok keriting dan bayam ikatan dilempar ke pasar induk dengan harga menyedihkan
Emaaaaak……"


1995


MENUJU TERMINAL KEMATIAN


kenapa perjalanan terasa melelahkan
terminal kematian tinggal sejengkal
kala kehidupan singgah di halte terakhir
anakanak asongan di balik jendela buram
menjaja buku porno, primbon dan kitab suci
"bekal menuju akherat" teriak mereka

halte terakhir terlewat sudah
kondektur menghampiri tiap penumpang
mengutip amal sebagai tiket perjalanan
ada pendeta mulut komatkamit
ada ulama memilin butir tasbih
mengeja berapa amal terkumpulkan
seorang pencopet tangannya gerayangan
menjarah amal koruptor yang duduk disebelahnya

sejengkal menuju terminal kematian
adakah tersisa waktu buat menghitung dosa
kehidupan bukanlah sandiwara mimbar agama
yang mempertontonkan insyaf dan tobat
pada adagen penghabisan


solo, 1995

RINDU DEMOKRASI

segelas susu dengan telor plus madu
tidak pula demokrasi menjadi sehat
kecuali membiarkan kucingkucing liar
mencakar sampah sampah pertokoan kota
atau membebaskan para buruh mencoret
dinding pabrik tentang upah yang rendah
dan anak anak negeri melampiaskan gelisah
di tembok tembok batas cakrawala
adalah penindasan :
saat dibungkam gonggong anjing
ketika peronda menghardik durjana

solo, 1995

Beda Pendapat

Meoong…
Itu suara kambing
petok.. .petok
itu suara lembu
kaeing... ..kaeing.. ...kaeing
itu suara mahasiswa

kwek... kwek.. .kwek... kwek.. .kwek.. .kwek.. .kwek kwek... kwek.. .kwek... kwek.. .kwek... kwek... kwek kwek.. .kwek.. .kwek... kwek.. .kwek. ..kwek.. .kwek
kwekkwekkwekkwekkwekkwekkwek

apakah itu suara dpr ?



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

BIOGRAFI GOJEK JOKO SANTOSO
Gojek Joko Santoso yang lahir pada 10 -5 -1960 dan meninggal sesaat sebelum genta reformasi membakar Solo. Tepatnya 6-2-1998.
Semasa hidupnya, almarhum mengabdikan diri di Suara Merdeka dengan liputan budaya.
Buku kumpulan puisi yang pernah diterbitkan:
- CERMIN BURAM
- KUDA LUMPING
(mungkin juga masih ada yang lain)
(sori, cuman ini info yang berhasil gw dapet hasil googleng dg keyword "gojek js")

Catatan:
  • terus terang gw muat kumpulan puisi gojek js tanpa seijin keluarga gojek js, tanpa maksud jelek ataupun komersil. (gw ketik semaleman dari buku kumpulan puisi cermin buram, (pengen juga sih nambahin dari buku kuda lumping, tapi buku yang satu ini telah hilang entah kemana)
  • sampai saat artikel ini dimuat (april 2010) sangat susah sekali menemukan hal yang berkaitan dengan nama gojek js, apalagi karya-karyanya. (bahkan google-pun tidak sanggup menemukan keberadaanya)
  • gw hanya g' rela karya2-nya hilang musnah begitu saja (seperti halnya keberadaan gojek js sendiri yg masih menjadi misteri)
  • gw hanya ingin karya-karyanya dan perjuangan gojek js bisa dibaca dan diteruskan oleh generasi selanjutnya,
  • gw hanya ingin, bahwa generasi yang akan datang tahu bahwa di jaman orde baru pernah lahir dari kota solo penyair-penyair "nekad" seperti mereka (gojek js & wiji thukul)

NB:  
buat rekan-rekan yang mempunyai kepedulian yang sama, & punya puisi-puisi gojek yang lain , biografi ataupun fotonya, gw mohon kesediaanya untuk dipost di kolom komentar dibawah ini, untuk kemudian gw tambahkan di artikel ini.

Baca Juga: 

Bookmark and Share