18 Mei 2011

The End Is The Beginning (Story of: STEVE JOBS)

Ceramah Bermanfaat dari Steve Jobs (Pendiri Apple)

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah.
Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.



Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik
Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah.
Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.
Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya.
Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang:
"kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat?"
Mereka menjawab: “Tentu saja.”
Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA.
Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi. Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah.
Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya yang hanya pegawai rendahan habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya.
Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya.
Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka.
Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik.
Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.
Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai.
Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya.
Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan.
Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya.
Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga.
Saya beri Anda satu contoh:
Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.
Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik.
Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah.
Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.
Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang.
Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.
Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun.
Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan.
Kami baru meluncurkan produk terbaik kami – Macintosh – satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat.
Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi.
Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya.
Dalam satu tahun pertama, semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan.
Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang.
Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.
Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.
Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya – saya gagal mengambil kesempatan.
Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya.
Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley.
Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya.
Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.
Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya.
Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas.
Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.
Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya.
Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia.
Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple.
Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple.
Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan.
Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai.
Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. Pekerjaan
Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai.
Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukan nya.
Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya.
Jadi, teruslah mencari sampai ketemu.
Jangan berhenti.

Cerita Ketiga Saya: Kematian
Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri:
“Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.
Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar.
Karena hampir segala sesuatu semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada.
Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa.
Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan.
Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati.
Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang.
Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.
Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut.
Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor.
Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana , mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi.
Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.
Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:
Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya.
Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan.
Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir  untuk digantikan yang muda.
Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.
Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain.
Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain.
Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda.
Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan.
Semua hal lainnya hanya nomor dua.
Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog”, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya.
Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park , dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya.
Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid.
Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat.
Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir.
Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda.
Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang.
Di bawahnya ada kata-kata: Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh).
Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka.
Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu.
Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu.
Stay Hungry. Stay Foolish.


(Diterjemahkan oleh Dewi Sri Takarini, alumni sebuah perguruan tinggi di Australia )
 
BONUS :
When you take a risk and step out of the norm, you run the risk and
sometimes you fail.
But you only fail if you give up.
(J Peterman)

adaptasi artikel dari : http://bayex.wordpress.com

15 Mei 2011

Jemek Supardi, Manusia Tanpa Kata

Ia lahir dari kelam. Sekitar tiga puluh tahun lalu, Pardi Kampret, yang kini dikenal dengan nama Jemek Supardi, tumbuh di tengah keributan terminal Prawirotaman, Yogyakarta, terminal utama Kota Gudeg saat itu. Malamnya adalah temaram lampu Stasiun Tugu. Siangnya adalah keringat tukang parkir di sepanjang Jalan Malioboro.
Lelaki kurus, berambut gondrong dengan jidat membotak itu mengakrabi kawasan kelam kotanya. Seperti penghuni lain dunia itu, dia hidup dengan mencopet di Sekatenan, mencuri perhiasan mayat, judi cliwik, main kartu, dan bergaul dengan pelacur di rel kereta api.

Karena kehidupan demikian, lelaki kelahiran Pakem, Sleman, Yogyakarta, 4 Maret 1953 itu hanya sempat tamat SMP setelah tujuh kali ganti sekolah, lulus SD setelah tak naik kelas tiga kali, dan tiga bulan mengecap Jurusan Seni Lukis Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia. Namun, jalan hidupnya berubah ketika dia mengenal kesenian.

Terang Teater
Pertengahan 1970-an, Yogya adalah kota seni yang dinamis. Malioboro dipenuhi seniman berambut gondrong dan urakan. Di situlah orang-orang seperti Presiden Malioboro Ashadi Siregar, Landung Simatupang, Rendra, Emha Ainun Najib, Adi Kurdi, dan Linus Suryadi Agustinus nongkrong. Jemek heran melihat mereka dan curiga mereka sama seperti dia, bajingan berbahaya yang harus diwaspadai. Tapi setelah tahu mereka seniman--sebagian dari Bengkel Teater Rendra--Jemek muda mulai tertarik.

Sikap seniman yang egaliter dan terbuka terhadap orang pinggiran menjadi ruang baru bagi Jemek. Teater kemudian mulai digelutinya dengan bergabung di sejumlah kelompok, seperti Teater Alam, Teater Dinasty, dan Teater Boneka. Namun, Jemek bukanlah seniman yang kuat menghapal. Teater yang bersandar pada dialog tidak cocok untuknya. Dia paling-paling kebagian figuran yang tak perlu dialog. Namun, dari sinilah dia mengembangkan seni peran yang belakangan diketahuinya sebagai pantomim. Dia pun rajin menonton pentas pantomim dari luar negeri yang pentas di sana, termasuk empu pantomim Prancis, Marcel Marceau, yang dikaguminya.

Pergaulan dan diskusinya dengan para seniman telah menggemburkan tanah kesenian di batinnya. "Lingkungan ini seakan-akan merestui dia berkarya," kata Edi Haryono, pimpinan Bela Studio dan anggota Bengkel Teater Rendra yang masa itu kamar kostnya rajin disinggahi Jemek. Dari sekadar berpantomim pendek mengisi beberapa acara, akhirnya Jemek pentas tunggal pada 1979 di Seni Sono, Yogya. Lalu puluhan karya lahir dan pantomim menjadi nadi hidupnya.





SENI KEHIDUPAN
Biografi kehidupannya itu lalu diringkasnya dalam sebuah pentas pantomim Teman Makan Teman yang menjadi bagian pergelaran "50 Tahun Jemek Supardi, Berkesenian Tanpa Kata" oleh Jemek dan MiM teater di Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta, 5-6 Maret. Tiga orang pemain termasuk Jemek kompak menyampaikan biografi itu dengan gerakan-gerakan dinamis dan lucu serta iringan musik yang cukup keras. "Ini menggambarkan berbagai macam sisi kehidupan saya, tidak hanya yang baik tapi juga tidak baiknya," kata Jemek.
Selain nomor itu, selama dua jam Jemek mementaskan lima karya lain, Halusinasi Seorang Pelukis, Selamat Datang Jakarta, Dokter Bedah, Tukang Cukur dan Kesaksian Udin. Ia didukung tiga pemain pantomim Broto, Asita, dan Win Mukti serta peran pembantu Keken, Kuncoro JP dan Guntur Songgolangit.

Hendro Suseno, penanggung jawab pagelaran itu, mengatakan Jemek memiliki berbagai sisi unik. Masa lalunya yang keras dan kelam tidak mematikan kreativitasnya, tapi justru sebaliknya, sehingga dapat menghasilkan karya-karya kreatif yang lekat dengan pengalaman pribadinya. Halusinasi Seorang Pelukis, misalnya, diilhami kehidupan isterinya, pelukis Freda Mairayanti. Di situ Jemek berperan sebagai pelukis yang menggambar seorang penari dan berkhayal penari itu benar-benar ada. Tema ini tampaknya semacam variasi dari karyanya terdahulu, Pelukis Yang Terjebak Imajinasinya (1995).
Sedangkan Kesaksian Udin merupakan karya lama dari Trilogi Kekuasaan-nya (dua lainnya, Pisowanan dan Kotak-kotak) yang pernah ditampilkan pada 1997 di Solo dan Yogya. Kesaksian Udin merupakan rekaman pantomim tentang Udin, wartawan Yogya yang kematiannya masih misterius hingga kini. Pada 1997 pula Dokter Bedah dipentaskan. Pada pentas peringatan 50 tahunnya, dengan sedikit pembaharuan, karya itu mengisahkan dokter yang membedah pasien dengan gergaji dan menemukan kabel, telepon genggam, jam weker, dan bom di dalamnya.

Pantomim Jemek sering sensasional. Dia misalkan berpantomim di tempat tak lazim, di jalan, kuburan, kereta api, dan Rumah Sakit Jiwa Magelang. Dia juga membuat heboh ketika pantomim tak disertakan dalam agenda Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 1997. Lantas, dengan pakaian pantomim--kaos hitam-hitam dan muka putih--dia berangkat dari rumahnya di Jl. Katamso dan naik becak ke Pasar Seni FKY. Tapi, satuan petugas keamanan di Benteng Vredeburg mencegat dan menggelandangnya. Dia lalu menggelar pantomim Pak Jemek Pamit Pensiun di sepanjang Malioboro. Jalan itu pun macet total.
Dia juga pernah berpantomim sepanjang Yogyakarta-Jakarta bolak-balik naik kereta api. Saat maraknya aksi mahasiswa menuntut Presiden Soeharto mundur, Jemek menggelar aksi diam dari Yogya hingga Jakarta.

Jemek jadi buah bibir ketika menggelar Bedah Bumi (1998). Di pentas itu dia "mati" dan "dikubur" di Makam Kintelan tempat para Pahlawan Revolusi dimakamkan. Jemek menyewa 10 tukang becak untuk membawa 10 peti mati, satu peti berisi dirinya. Di makam, peti-peti diturunkan dan seorang rois membacakan doa orang mati. Lalu Jemek muncul dari peti, melepas kostumnya hingga tinggal berkain putih, lalu berkeliling makam, bertanya pada nisan-nisan di mana liang kuburnya.
Bagi Jemek, aksinya di luar ruangan itu karena keprihatinannya terhadap pantomim yang masih dipandang sebelah mata. "Itu cara saya mempopulerkan pantomim sebagai kesenian menarik dan bisa bicara tentang apa saja termasuk realitas sosial dan politik," kata Jemek yang kini rambutnya bagian depan dipangkas habis hingga mirip pemeran film silat dari Cina, Jet Lee.

Namun, pantomim macam apa yang dilakoninya? Edi Haryono menilai pantomim Jemek berbeda dari pengertian Barat. "Dia berangkat dari alamiah, naluriah, bukan persentuhan dengan teknik," kata Edi. Baginya, pantomim Jemek mirip dengan seni tradisi mbarang yang dulu pernah hidup di kampung-kampung Jawa Tengah.
Yang patut dikagumi dari Jemek adalah kekonsistennya dalam berpantomim. "Saya suprise, karena kesenian baginya bukan soal coba-coba tapi hidup itu sendiri," kata Edi. 

Sumber: 

04 Mei 2011

Apa sih yang dipikirkan Cewek saat Diajak Cowok Kenalan.?

Apa sih kira-kira yang dipikirkan cewek saat diajak cowok kenalan? Nah, bagi yang penasaran silahkan baca postingan ini. Memang cewek itu misterius, dan saya akan membagi sedikit rahasia salah satu dari kemisteriusan cewek. Penasaran? . . .


Bila diajak kenalan di tempat “out of nowhere” :
  1. Mau ngapain sih ini orang?
  2. Jangan-jangan member MLM
  3. Jangan-jangan mau dihipnotis
Bila yang diajak kenalan “cewek matre” :
  1. Itu kantong tebel isinya duit bukan ya
  2. Pakaiannya kok urakan?
  3. Kayaknya anak pejabat
  4. Mobilnya apaan ya
Bila ngajak kenalan “cewek yang lagi sibuk” :
  1. Waduh menghalangi aja nih cowok
  2. Gw damprat juga nih cowok
Bila ngajak kenalan “cewek pemikir” :
  1. Entar kalau gw tolak, gw dianggap somse ga ya?
  2. Entar kalau gw terima, jangan2 gw dibawa ke hotel?
  3. Entar kalau kenalan, kira-kira nyokap setuju ga ya gw ma cowok ini?
  4. Entar kalau kenalan, terus jadian terus menikah, kira-kira cowok ini bisa jadi pencari nafkah yang baik enggak ya?
Bila yang diajak kenalan “cewek cantik dan seksi” :
  1. Wah ini cowok lumayan juga, boleh deh diajak kenalan gw.
  2. Wah dasar udah jelek, PD HIDUP lagi! Cabut aja ah!
Tetapi, ada baiknya anda sebagai cowok jangan mengajak kenalan cewek di tempat umum, sangat riskan, bisa-bisa digebukin massa karena disangka penjahat kelamin.

Tips dapetin Cewek Cakep meski tampang Pas-pasan.. (mau..??)

Tulisan ini merupakan intisari dari seorang yang pasti dari ahlinya dan salah satu pick up artist yang hebat
Modal dia ?? Ga bisa dbilang bagus juga, Tampang pas-pas-an lah standard ga bisa dibilang jelek juga,
Punya banyak Duit, ya bayangin aja seorang anak kost sama seorang freshgraduate worker, jadi kira-kira duit nya perbulan segitu, dipotong bayar kost dsb..
Jadi klo ente2 yang ngerasa lebih baik daripada dia, harusnya bisa dapetin yang lebih baik dari doi, hehe Dah kebayang kan ya, nah ini dia intisarinya : Dibaca yah, jangan cuma melolototin gambar-nya doang!
.
.
1. Kenali Potensi Diri Elu
Ok banyak yang bilang cewe itu jinak-jinak merpati, artinya asal loe punya umpan yang cukup juga elu bisa dengan gampank naklukin cewek…Pertanyaannya apa modal elu ? dompet kering, tampank pas-passan ?? nah berat kan Tapi coba kenalin lagi potensi diri elu, Walaupun keabsahan teori ini masih diragukan, tapi kalo dilihat dari metadata nya 68% ini bukan rekayasa * Koq gua serasa roy sukro sih.
Coba aja lu tanya ibu-ibu di pasar atau tante-tante di mall, mending dikasih kandang ayam 1,5 × 1,2 meter atau berlian nyang segede uprit, mereka pasti pilih yang kecilnya kan terkecuali cewek yg lu tanya memang ada sedikit keturunan blasteran peranakan ayam bekisar mungkin teori di atas gak berlaku en dia lebih milih kandang daripada berlian.
Serius dikit jek, yang di maksud hal kecil itu mungkin elu gak sadar ada bakat atau talenta terpendam yang sebenernya bisa bikin cewek suka tapi elu nya kagak nyadar, elu malah sibuk nyesalin diri karena terlahir dengan tampang ibarat casing henpon sisa reject plus keinjek. Gak ada gunanya kita eh elu sesalin coy.
Coba sekali kali berpikir kemampuan apa yang gak dimiliki orang lain yang bisa bikin elu terlihat istimewa di mata cewek. Gua bilang kemampuan ye bukan kelainan, so lupakan saja ide kalo elu merasa tiap liat genangan aer serasa kolam liat renang, en mulut elu berbusa pantat nungging pengen berenang en elu sebut itu sebuah kemampuan.
.
.
2. Cewek Seneng Sama Cowok Yang Romantis
Beberapa cewek lebih suka terhadap cowok yang punya selera seni. Tanya aja sama ibu-ibu di pasar atau tante-tante di mall apakah mereka lebih naksir elu yang penampilan cuma segitu gitunya di tambah cuman bisa tepuk tangan di pinggir angkot sambil nyanyi gak jelas kaya kumur kumur
” rasa rasanya ku telah keliruuu memilih kamyu sebagai pembantuku..uler berbisa ..uler berbisa..cinta ini eh uler ini membunuhku..*ini lagunya de masip atawa hello sih ”
Atau mereka bakal pilih Indra Brugman atawa Budi Anduk yang ngamen sambil mainin gitar flamenco nya dengan vokal yang agak agak di bikin falseto gitu?. Tentu mereka pilih Budi Anduk kan. Kacian deh luu.*bentar..bentar..kayaknya gua ambil perumpamaan yang salah
Maksudnya gini coy, segimanapun parahnya penampilan elu, cewek teteup bakal memandang elu punya ‘nilai lebih’ kalo elu ada sedikit selera atau sense of art. Karena orang yang suka dengan seni identik dengan sifat romantis dan keindahan. Belajar main gitar keq, bikin puisi keq,belajar ngerayu keq. Semisal kayak gini :
Elu : “ Sayang…tar malam cobalah pandangi bulan barang sejenak“
Cewek : “ Kenapa mas ? “
Elu : “ Tiap mas kangen kamu, mas selalu lihat bulan, mas pengen tiap kamu kangen juga lihat bulan, karena dalam keindahan bulan kulihat dirimu ‘
Cewek :” So sweeeed “* geer level satu, mata udah kedap kedip,senyum senyum
Elu :” Lihatlah di ujung rerumputan hijau sana, kulihat keteduhan, seperti keteduhan yang kulihat di matamu ”
Cewek :” Ahhhh! so sweet bangedz.. *geer level empat,mata merah,idung mimisan,untuk beberapa kasus terjadi iritasi ringan”
Elu :” Lihatlah batu yang di ujung situ, batu besar itu begitu kokoh, legam, tak berbentuk! kasar! . Namun dalam ketegarannya tak akan tergoyahkan oleh angin dan hujan sedikitpun“
Cewek :” Yang item sebelah mana ? itu kan mamah lagi jemur kasur…’
.
.
3. Hoby Cowok Ada Nilainya Di Mata Cewek
Jangan salah coy, hobi yang positif membuat kita lebih mudah bagi cewek untuk memahami siapakita.Coba tanya ibu ibu yang di pasar.. lho! ibu ibunya koq pada gak ada sih sekarang!!! elu nanya mulu sih! Kampret!
Poinnya, cewek akan lebih mudah memahami siapa elu kalo elu sendiri terlihat interest atau tertarik pada suatu hal, kalo elu suka bersepeda, naik gunung, sedikit banyak mereka menilai ada sportifitas dalam diri elu, kalo elu suka memelihara binatang, mereka bisa menilai bahwa elu adalah type cowok yang perhatian.
Mulailah cari hoby yang kira kira cocok buat elu. Memelihara binatang ide yang bagus, cari binatang di pet shop sesuai dengan budget seperti iguana, burung, kucing, Anjing pokoknya apapun itu yang penting dimana kalo elu lagi jalan sama peliharaan mereka bakal berpikir
‘ Ah so sweet banget, walaupun mukanya sangar tapi dia penyayang kayaknya ‘
Tapi beberapa kasus memang ada juga cewek cewek yang bilang
’ Aih kucingnya lucu ya..tapi kasian kalo digigit ma yang punya tar kucingnya sakit tetanus gimana’, sabar ya coy, kadang pemikiran cewek memang sempit gak rasional.
.
.
Tips Memilih Binatang Piaraan yang paling cocok:
  • Jangan pilih binatang yang susah dicari atau di rawat seperti babon atau orang utan misalnya. Selain para cewek nanti kesulitan mengidentifikasi yang mana yang piaraan en yang mana yang miara, miara binatang seperti ini butuh biaya tinggi. Lu gak mau kan duit buat apel atawa jalan jalan abis buat beli pisang sehari sampe 3 tandan cuman buat belain piaraan elu. Lama lama uang makan elu abis juga, yang ada elu ikut makan pisang juga, ya udeh..memang jodoh deh kalian..*sambil di iringi lagu ‘pisang ini membunuhku (de masip) elu makan pisang sama babon..suap suapan…ceileeee..
  • Jangan pilih binatang yang bisa menimbulkan kehebohan, oke deh elu melihara tawon memang unik juga biaya pemeliharaan rendah. Elu jalan jalan bawa sarang tawon, jangan harap cewek bilang ‘ah co cweeet’..nyang ada mereka bilang “pait..paiiit!! Paiiit pergi sana!! Paiiitt..paiiit”
  • Jangan pilih binatang yang terlalu besar ukurannya untuk dijadikan peliharaan. Kerbau misalnya, selain dia memang temannya pak petani di sawah, ukurannya itu gak pas buat di ajak jalan jalan, en bisa sangat merepotkan kalo piaraan elu udah akrab dengan elu sebagai pemilik, kebayang kalo elu naek angkutan umum duduk di depan en piaraan elu gak mau duduk di belakang pengennya bareng terus di depan.
Belum lagi kalo misalnya kerbau yang elu piara udah akrab.Kalo udah akrab kan suka ada cemburu cemburuan gitchu. Liat orang lain bawa iguana di templokin di pundak tar elu juga yang berabe. Gua gak bisa ngebayangin kerbau merajuk pengen nemplok di pundak elu. Jadi lebih baik hapus saja binatang ini dari daftar pilihan binatang yang mau elu piara.
Kalo dengan binatang darat elu gak suka, boleh deh nyoba miara ikan di aquarium. Cuman buat para cewek untuk bisa tau bahwa elu penyayang binatang musti ajak dia ke rumah, usahain jangan sampe elu yang bawa akuarium ke luar untuk niat jalan-jalan. Yang ada cewek bilang “bang bang!! Ikan cupangnya berapaan!!…….idih ikan sapunya lucu ya kaya muka abang!! “
.
Kalo cara di atas masih kagak mempan buat narik perhatian cewek, mungkin bisa cari alternatif hoby yang lain. Dimana dengan hoby itu elu ma cewek dinilai punya nilai lebih gak sekedar dinilai dari penampilan or tampang elu doang jek.
Lupakan niat hoby ngumpulin botol plastik atau gelas aqua, gak lucu kalo misal elu pas nganter cewek ke terminal atau lagi di Damri elu kayak sakaw karena ngeliat botol aqua en gelas plastik dimana mana membuat naluri hoby terpanggil untuk ngumpulinnya. Elu tar malah lebih sibuk dengan hoby daripada tujuan semula buat cari perhatian cewek . Yang ada elu malah nyuruh cewek elu nyariin karung buat ngumpulin, gak romantis lagih.
Untuk ngejalanin hoby mengkoleksi, cari barang yang memang bernilai en wajar untuk di koleksi, bisa perangko, koin, pemantik, jam tangan. Tapi jangan pernah mengkoleksi celana dalam nenek, mengkoleksi jerawat, ataupun mengkoleksi celana dalam yang di pake polisi Brimob.
.
.
4. Cewek Suka Cowok Yang Cerdas
 Cerdas disini bukan brati kalo ada cewek cantik elu deketin dia sambil ngomong
’Mba cantiiik, tau gak kalo 467 dikali 800 di bagi dua itu sama dengan 186800 lhoo………ehem!! “ dan berharap cewek itu berlinang air mata sambil berkata
“Oh kamu cerdas banget , dibalik susunan wajahmu yang terlalu banyak komponen dengan muatan variabel acak ini ternyata tersimpan pemikiran cemerlang, kenalin aku luna maya, ai lap yuu, kimpoiin aku please’’ enggak mungkin deh!!!
Jadi cowok cerdas, cewek dengan bangga bakal nyeritain elu dengan semua kecerdasan elu di depan temennya juga di depan bokap nyokapnya. Ini bisa jadi nilai lebih. Karena dia bisa ngandelin elu dalam kondisi sesulit apapun. Setidaknya kalo elu maen ke rumah itu cewek, bokapnya gak semena mena nyuruh elu mijetin bokapnya, jadi bokapnya pun tau seperti apa cowok yang ngedatengin anaknya. Gua bisa kasih petunjuk gimana gimana nya kalo misal elu dateng ngapel ke rumah bokapnya beserta segala kemungkinannya.
Bokap :“ Ooh..njadi ini toh budi yang suka diceritain sama Luna yaa”
Elu :” Iya oomm * dengan muka geer level tujuh “
Bokap :” .. Kuliah di mana bud? “
Elu :” Universitas Tawa Sutra jurusan Sastra mesin om.. “
Bokap :” Oh disana….” *sebenernya dalam kepalanya gak ngebayangin apa apa
Tiba tiba lampu rumah cewek lu mati. ’ Pret! ”
Bokap :” Mamahh! ..teleponin PLN!, rumah kita mati lagi lampunya deh”
Di sini waktu yang tepat elu tunjukin kemampuan.
Elu :” Oh biar sama saya aja om gapapa, saya nyalain lagi ya“
Bokap :” Gak usah bud, repot lho mesti naek ke atas, apalagi di atas banyak setrum”
Elu :” Gapapa omm..udah biasaa koq” *biasa kesetrum maksudnya
Bokap :” …kalo gitu om gak memaksa, ternyata luna memang pandai mencari cowok ya” *kalo bokap nya mengucapkan kata kata seperti itu sambil seperti menahan mual itu hal yang wajar,perhatikan kata katanya,bukan ekspresinya.
Yes!!..elu udah dapet poinnya coy, bokap nya aja udah ngasih restu
Lima menit…sepuluh menit..lima belas menit elu masih di atas atap..buzzz!! Asep putih kemana mana, dengan muka cool sedikit gosong dan rambut kriwil elu turun ke bawah pergi ke ruang tamu lagi, jangan lupa jaga wibawa.
Bokap :” Gimana bud, udah nyala ?”
Elu :” nya…nya…nyala om! ”
Bokap :” Wah wah kamu canggih juga ya “ *sambil muka dia penuh selidik sebenernya elu di atas benerin listrik atau abis berkelahi ama kucing beranak sih liat muka gosong berasap kayak gitu.
Elu :” ..I ii ya..makasih om “
Bokap :” Tapi koq masih gelap ya, Mamaa!! Dah nyala beluum di belakang! “
Mama :” Nyalaaa pah!! “
Bokap :” Ya udaah, bikinin minum buat Budi ya Lunaa “
Mama :” Nyalaaa paah !! “
Bokap :” Iyaaaa..gak usah keras keras gitu, nyalain lampunya sekarang ya “
Mama :” Nyalaa paaahh!!..Apii! ..nyalaaa!! Kebakaraan paah!”
Samber gledek!!! Ternyata salah nyambungin kabel di atas rumah coy, dua kamar dari total lima kamar di rumah itu abis kebakar gak bersisa! , apa yang mau elu lakuin?
Stey kull!! Bersikap jantan!! Minta maaf untuk nunjukin kalo elu sebagai cowok sejati.
Elu :” Maaf oom, maaf kan saya “
Bokap :” Gapapa koq…” * jangan liat muka bokapnya yang merah melotot, beberapa cowok memang macem macem ekspresinya ketika dimintai maaf.
Elu :” Maaf om meja kayunya kebakar “
Bokap :” Ah..gapapa..toh cuma meja,bisa bikin lagi”
Elu :” Tapi di atas meja kan ada TV Plasma punya om…ikut kebakar juga” *kalimat terakhir usahakan di ucapkan dengan nada rendah dalam ketukan empat per empat
Bokap :” Hah !!! “
Elu :” Om ganteng deh kalo lagi marah “
Bokap :” Gapapa koq..untung cuman tv aja yaa ..Ha ha ha ha “ *usahain elu ikut ketawa tapi usahain mata elu gak lepas dari tangan bokapnya apakah dia memgang benda mengkilap terhunus.
Elu :” Maafin juga Seprei punya Om yang di garasi ikut terbakar habis “
Bokap :” Ah gapapa…cuman seprei aja koq, di pasar baru juga banyak kan..hahaha“
Elu :” Iya om..sepreinya kan asalnya buat nutupin mobil om..jadi ya mobilnya ngikut juga”
.
.
Sampai disini ada dua kemungkinan Bokap nya cewek elu mo ngomong apa
1 . Bokap :” Hah…maca ciiihhh…iihh co cweeet “
Ini normal koq, bbrp ekspresi kemarahan bisa menimbulkan ekspresi kegilaan sementara
2. Bokap :” Hah..kampret Lu ye!! Cari mati lu ye dateng kemari, rumah gua udah elu bikin kebakaran, tadi tv gua,sekarang mobil gua!!gua bunuh lu !!”
Untuk dua opsi di atas gua udah gak bisa ngasih solusi, mungkin pada level ini elu bisa pertimbangkan kembali buat pulang en miara kerbau seperti di atas untuk memikat cewek.
Atau kemungkinan lain
3. Bokap : “ Hah!!..hiks!! Hiks!!*cuma terisak kayak dewi persik.
.
Gua yakin sampe level ini elu merasa gak nyaman, di tandai pengen pipis atau pun buang air besar, sedangkan kondisi rumah masih gelap. Jangan cemas coy. Pake kecerdasan elu. Pamit untuk ke kamar mandi karena sakit perut sekalian nenangin diri atas musibah yang menimpa elu.
Masuklah ke kamar mandi gelap perlahan. Apalagi dalam kondisi sakit perut jangan sampe panik coy. Tutup pintu kamar mandi pelan pelan, Tarik nafas dalam dalam sambil ngebiarin retina mata elu beradaptasi dalam kegelapan kamar mandi. Tenangin diri dari semua kejadian tadi. Buka celana elu. Dengan segala kecerdasan elu pasti tau dimana letak gantungan celana kan? gantungan celana biasanya di tempatin di belakang pintu ataupun ada cantelan yang sekiranya gampang di raih tangan buat gantungin baju.
Sekarang tinggal cari dimana kira kira posisi wc nya, gunain keahlian elu dalam bidang arsitektur en design gimana orang mendesign kamar mandi dalam tata letak. Kalo dilihat dari pintu masuk enggak mungkin wc disimpen di lokasi keliatan dari luar coy, jadi kemungkinan ada di posisi kiri atau kanan elu, en biasanya wc di buat berdampingan dengan bak mandi supaya orang gampang ambil aer sesudah buang hajat. Gunain kecerdasan elu dengan memakai tangan buat meraba raba dimana posisi bak mandi, kalo posisi bak ada di kiri berarti wc nya ada di sampingnya di sebelah kiri, begitu juga sebaliknya.karena gak mungkin wc dengan bak mandi bersebrangan. Oke!! Jadi elu sekarang bisa jongkok dengan tenang di sebelah mana kan, nikmatin acara buang hajat sambil merencanakan apa kira kira rencana berikutnya,selama yang elo mau. Ah!! Jadi orang cerdas memang enak coy.

“Tok, tok tok!!….siapa di dalem ?” Kayaknya suara nyokapnya cewek elu
“Saya tante!!..budi!!” Usahain ngomongnya agak keras,soalnya kali aja mamah nya dia budek.
“Ngapain di sana bud!! Koq lama sekali!! “
“Maaf tante, tadi sakit perut, Lagi BAB tante!!”
“Lho kamar mandi yang ini kan gak ada WC nya, yang ada WC nya kamar mandi yang satu lagi”
Samber Gledek!! Wot de hell !! Jadi selama ini dalam kegelapan kamar mandi, properti elu menumpuk begitu aja di lantai gak ada wc nya!! Gua cuman punya dua solusi, elu keluar pura pura jadi orang gila, atau solusi ke dua elu bunuh diri.




02 Mei 2011

Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono


Kumpulan Puisi Sapardi Djoko Damono :
Air selokan
Aku ingin
Akulah si telaga
Angin, 1
Angin, 2
Angin, 3
Atas kemerdekaan
Berjalan ke barat waktu pagi hari
Buat ning
Bunga, 1
Bunga, 2
Bunga, 3
Cara membunuh burung
Cermin, 1
Cermin, 2
Dalam doa
Dalam bis
Dalam diri ku
Di sebuah halte bis
Di atas batu
Dua peristiwa dalam satu sajak dua bagian
Gadis kecil
Gonggong anjing
Hatiku selembar daun
Hujan bulan juni
Hutan kelabu
Kami bertiga
Kepompong itu
Ketika jari-jari bunga terluka
Ketika menunggu bis kota, malam-malam
Kisah
Kukirimkan padamu
Kuterka gerimis
Lirik untuk lagu pop
Mata pisau
Pada suatu hari nanti
Pada suatu pagi
Perahu kertas
Peristiwa pagi tadi
Pertapa
Pesan
Pesta
Puisi cat air untuk rizki
Sajak kecil tentang cinta
Sajak nopember
Sajak subuh
Sajak telur
Selamat pagi indonesia
Seruling
Setangan kenangan
Sihir hujan
Sonet: x
Sudah kutebak
Tajam hujanmu
Tekukur
Telinga
Tentang matahari
Tuan
Yang fana adalah waktu




-------------

AIR SELOKAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

"Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit," katamu pada suatu hari minggu pagi. Waktu itu kau berjalanjalan bersama istrimu yang sedang mengandung
-- ia hampir muntah karena bau sengit itu.

Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir: campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.

Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu:

"Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu -- alangkah indahnya!"

Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

AKU INGIN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

AKULAH SI TELAGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
-- perahumu biar aku yang menjaganya

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

ANGIN, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

angin yang diciptakan untuk senantiasa bergerak dari sudut ke sudut dunia ini pernah pada suatu hari berhenti ketika mendengar suara nabi kita Adam menyapa istrinya untuk pertama kali, "hei siapa ini yang mendadak di depanku?"

angin itu tersentak kembali ketika kemudian terdengar jerit wanita untuk pertama kali, sejak itu ia terus bertiup tak pernah menoleh lagi
-- sampai pagi tadi:

ketika kau bagai terpesona sebab tiba-tiba merasa scorang diri di tengah bising-bising ini tanpa Hawa

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

ANGIN, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Angin pagi menerbangkan sisa-sisa unggun api yang terbakar semalaman.
Seekor ular lewat, menghindar.
Lelaki itu masih tidur.
Ia bermimpi bahwa perigi tua yang tertutup ilalang panjang
di pekarangan belakang rumah itu tiba-tiba berair kembali.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

ANGIN, 3
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

"Seandainya aku bukan ......
Tapi kau angin!
Tapi kau harus tak letih-letihnya beringsut dari sudut ke sudut kamar,
menyusup celah-celah jendela, berkelebat di pundak bukit itu.

"Seandainya aku . . . ., ."
Tapi kau angin!
Nafasmu tersengal setelah sia-sia menyampaikan padaku tentang perselisihan antara cahaya matahari dan warna-warna bunga.

"Seandainya ......
Tapi kau angin!
Jangan menjerit:
semerbakmu memekakkanku.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

ATAS KEMERDEKAAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kita berkata : jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya : langit dan badai tak henti-henti
di tepinya cakrawala
terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari yang ketujuh tiba
sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu :
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah

Horison
Thn III, No. 8
Agustus 1968
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

DI TANGAN ANAK-ANAK
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takluk pada gelombang, menjelma burung . yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan; di mulut anak-anak, kata menjelma Kitab Suci.
"Tuan, jangan kauganggu permainanku ini."
Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,
1982.

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan


BUAT NING
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

pasti datangkah semua yang di tunggu
detikdetik berjajar pada mistar yang panjang
barangkali tanpa salam terlebih dahulu

januari mengeras di tembok itu juga
lalu desember
musim pun masak sebelum menyala cakrawala
tibatiba kita bergegas pada jemputan itu
***


BUNGA, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

(i)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padangwaktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca berdenyut ketikanampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas padang itu;
malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, "Takut? Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!"

(ii)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-selageraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar dan setelah api ....

Teriaknya, "Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia! Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!"

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

BUNGA, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemilik
taman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata
jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya -- tak ada
alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin
menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu
kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya
selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan menjelma
pendar-pendar di permukaan kolam

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

BUNGA, 3
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah berwarna coklat ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di pintu
tak ada sahutan

seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya mengeras di empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika terdengar ada yang memaksa membuka pintu
lalu terdengar seperti gema "hai, siapa gerangan yang telah membawa pergi jasadku?"

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

CARA MEMBUNUH BURUNG
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

bagaimanakah cara membunuh burung yang suka berkukuk bersama teng-teng jam dinding yang tergantung sejak kita belum dilahirkan itu?

soalnya ia bukan seperti burung-burung yang suka berkicau setiap pagi meloncat dari cahaya ke cahaya di sela-sela ranting pohon jambu (ah dunia di antara bingkai jendela!)

soalnya ia suka mengusikku tengah malam, padahal aku sering ingin sendirian
soalnya ia baka

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

CERMIN, 1
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

cermin tak pernah berteriak;
ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

CERMIN, 2
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

mendadak kau mengabut dalam kamar, mencari dalam cermin;
tapi cermin buram kalau kau entah di mana, kalau kau mengembun dan menempel di kaca, kalau kau mendadak menetes dan tepercik ke mana-mana;
dan cermin menangkapmu sia-sia

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


DALAM DOA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

saat tiada pun tiada
aku berjalan (tiada
gerakan, serasa
isyarat) kita pun bertemu
sepasang tiada
tersuling (tiada
gerakan, serasa
nikmat): Sepi meninggi.


DALAM BIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

langit di kaca jendela bergoyang
terarah kemana wajah di kaca jendela
yang dahulu juga
mengecil dalam pesona

sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat
waktu henti ia tiada
***

DALAM DIRI KU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

dalam diriku mengalir
sungai panjang
darah namanya

dalam diriku menggenang
telaga darah
sukma namanya

dalam diriku meriak
gelombang suara
hidup namanya

dan karena hidup itu indah
aku menangis sepuas-puasnya
***



DI SEBUAH HALTE BIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkanmu di sana. Kau memang tak pernah berumah, dan hujan tua itu kedengaran terengah batuk-batuk dan tampak putih.

Pagi harinya anak-anak sekolah yang menunggu di halte bis itu melihat bekas-bekas darah dan mencium bau busuk. Bis tak kunjung datang. Anak-anak tak pernah bisa sabar menunggu. Mereka menjadi kesal dan, bagai para pemabok, berjalan sempoyongan sambil melempar-lemparkan buku dan menjerit-jerit menyebut-nyebut namamu.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.



DI ATAS BATU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

ia duduk di atas batu dan melempar-lemparkan kerikil ke tengah kali
ia gerak-gerakkan kaki-kakinya di air sehingga memercik ke sana ke mari
ia pandang sekeliling : matahari yang hilang - timbul di sela goyang daun-daunan, jalan setapak yang mendaki tebing kali, beberapa ekor capung
-- ia ingin yakin bahwa benar-benar berada di sini

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


DUA PERISTIWA DALAM SATU SAJAK DUA BAGIAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

1
sehabis langkah-langkah kaki: hening
siapa?
barangkali si pesuruh yang tersesat dan gagal menemukan tempat- tinggalmu padahal sejak semula sudah diikutinya jejakmu
padahal harus lekas-lekas disampaikannya pesan itu padamu

2
seolah-olah kau harus segera mengucapkan sederet kata
yang pernah kaukenal artinya,
yang membuatmu terkenang akan batang randu alas tua
yang suka menjeritjerit kalau sarat berbunga

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

GADIS KECIL
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang payung
tangan kirinya mengibas tangis
di pinggir pagar, ada pohon
dan seokor burung
***

GONGGONG ANJING
untuk Rizki
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

gonggong anjing itu mula-mula lengket di lumpur
lalu merayapi pohon cemara dan tergelincir terbanting di atas rumah
menyusup lewat celah-celah genting
bergema dalam kamar demi kamar
tersuling lewat mimpi seorang anak lelaki
siapa itu yang bernyanyi bagai bidadari?" tanya sunyi

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

HATIKU SELEMBAR DAUN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

HUJAN BULAN JUNI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
***

HUTAN KELABU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kau pun kekasihku
langit di mana berakhir setiap pandangan
bermula kepedihan rindu ini
temaram kepadaku semata
memutih dari seribu warna
hujan senandung dalan hutan
lalu kelabu menabuh nyanyian
***

KAMI BERTIGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

dalam kamar ini kami bertiga :
Aku, pisau dan kata –
kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya
tak peduli darahku atau darah kata
***

KEPOMPONG ITU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kepompong yang tergantung di daun jambu itu mendengar kutukmu yang kacau terhadap hawa lembab ketika kau menutup jendela waktu hari hujan

kepompong itu juga mendengar rohmu yang bermimpi dan meninggalkan tubuhmu: melepaskan diri lewat celah pintu, melayang di udara dingin sambil bernyanyi dengan suara bening dan bermuatan bau bunga

dan kepompong itu hanya bisa menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan-kiri, belum saatnya ia menjelma kupu-kupu; dan, kau tahu , ia tak berhak bermimpi

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KETIKA JARI-JARI BUNGA TERLUKA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

ketika jarijari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulubulu mata

suatu pagi, di sayap kupukupu
di sayap warna, suara burung
di rantingranting cuaca
bulubulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bungabunga rekah

ketika jarijari bunga terbuka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit meyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulubulu mata
***


KETIKA MENUNGGU BIS KOTA, MALAM-MALAM
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

"Hus, itu bukan anjing; itu capung!" katanya. Tapi capung tak pernah terbang malam, bukan? Capung tak suka ke tempat sampah
-- biasanya ia hinggap di ujung daun rumput waktu pagi hari,

dan kalau ada gadis kecil akan menangkapnya ia pun terbang ke balik pagar sambil mendengarkan suara "aahh!" Tubuhnya mungil, bukan?

Sedangkan yang kulihat tadi jelas anjing kampung yang ekornya buntung, menjilatjilat tempat sampah yang di seberang halte itu, mengelilinginya,
lalu kencing di sudutnya.

Hanya saja, aku memang tak melihat ke mana gaibnya.

"Itu capung!" katanya. Sayang sekali bahwa kau merasa tak melihat apa pun di seberang sana tadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KISAH
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu. Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi.

Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi.

Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu. la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.

Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KUKIRIMKAN PADAMU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

kukirimkan padamu kartu pos bergambar, istriku,
par avion: sebuah taman kota, rumputan dan bunga-bunga, bangku dan beberapa orang tua, burung-burung merpati dan langit yang entah batasnya.

Aku, tentu saja, tak ada di antara mereka.
Namun ada.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

KUTERKA GERIMIS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Kuterka gerimis mulai gugur
Kaukah yang melintas di antara korek api dan ujung rokokku
sambil melepaskan isarat yang sudah sejak lama kulupakan kuncinya itu
Seperti nanah yang meleleh dari ujung-ujung jarum jam dinding yang berhimpit ke atas itu

Seperti badai rintik-rintik yang di luar itu

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

LIRIK UNTUK LAGU POP
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan yang gerimis
-- pandangmu adalah seru butir air tergelincir dari duri mawar (begitu nyaring!); swaramu adalah kertap bulu burung yang gugur (begitu hening!)

aku pun akan memecah pelahan dan bertebaran dalam hutan; berkilauan serbuk dalam kabut
-- nafasmu adalah goyang anggrek hutan yang mengelopak (begitu tajam!)

aku akan berhamburan dalam grimis dalam seru butir air dalam kertap bulu burung dalam goyang anggrek
-- ketika hutan mendadak gaib

jangan pejamkan matamu:

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

MATA PISAU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

mata pisau itu tak berkejap menatapmu
kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu


PADA SUATU HARI NANTI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam baitbait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi diantara larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di selasela huruf sajak ini
kau tak akan letihletihnya kucari
***

PADA SUATU PAGI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

maka pada suatu pagi hari
ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu.
Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik
dan lorong sepi
agar ia bisa berjalan sendiri saja
sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit
berteriak-teriak
mengamuk memecahkan cermin
membakar tempat tidur.
Ia hanya ingin menangis lirih saja
sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik
di lorong sepi pada suatu pagi.
***


PERAHU KERTAS
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.

"Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,

"Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit."

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

PERISTIWA PAGI TADI
kepada GM

Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.

Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, Ialu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan.

Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu tentang aku yang terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulans dan meninggal sesampai di rumah sakit.

Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa itu.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

PESAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya.

Kami saling mencinta, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.

Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan .....

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

PESTA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

pesta berlangsung sederhana. Sedikit tangis, basa-basi itu; tinggal bau bunga gemetar pada tik-tok jam, ingin mengantarmu sampai ke tanah-tanah sana yang sesekali muncul dalam mimpi-mimpinya
. . . di sumur itu, si Pembunuh membasuh muka, tangan, dan kakinya

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

PUISI CAT AIR UNTUK RIZKI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telpon itu, "aku rindu, aku ingin mempermainkanmu! "

kabel telpon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas, "jangan berisik, mengganggu .
hujan!"

hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam,
hardiknya, 'lepaskan daun itu!"

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SAJAK KECIL TENTANG CINTA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

mencintai angin harus menjadi siut
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintaiMu(mu) harus menjadi aku
***

SAJAK NOPEMBER
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Siapa yang akan berbicara untuk kami
siapa yang sudah tahu siapa sebenarnya kami ini
bukanlah rahasia yang mesti diungkai dari kubur
yang berjejal
bukanlah tuntutan yang terlampau lama mengental
tapi siapa yang bisa memahami bahasa kami
dan mengerti dengan baik apa yang kami katakan

siapa yang akan berbicara atas nama kami
yang berjejal dalam kubur
bukanlah pujian-pujian kosong yang mesti dinyanyikan
bukanlah upacara-upacara palsu yang mesti dilaksanakan
tapi siapa yang sanggup bercakap-cakap dengan kami

siapa yang bisa paham makna kehendak kami
kami yang telah lahir dari ibu-ibu yang baik dan sederhana
ibu-ibu yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus
tanpa dicatat namanya
kepada Ibu yang lebih besar dan agung :
ialah Tanah Air

kami telah menyusu dari pada bunda yang tabah
yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus
untuk pergi lebih dahulu
apakah kau dengan para bunda itu mencari kubur kami
apakah kau dengar para bunda itu memanggil nama kami
mereka hanya berkaata : akan selalu kami lahirkan anak-anak yang baik
tanpa mengeluh serta putus asa

di Solo dua orang dalam satu kuburan
di Makasar sepuluh orang dalam satu kuburan
di Surabaya seribu orang dalam satu kuburan
dan kami tidak menuntut nisan yang lebih baik
tapi katakanlah kepada anak cucu kami;

di sini telah dikubur pamanmu, ayahmu, saudaramu
bertimbun dalam satu lobang
dan tiada yang tahu siapa nama mereka itu satu-persatu

tambur yang paling besar telah ditabuh
dan orang-orang pun keluar untuk mengenangkan kami
terompet yang paling lantang ditiup
dan mereka berangkat untuk menangiskan nasib kami dulu
kami pun bangkit dari kubur
memeluki orang-orang itu dan berkata : pulanglah
kami yang mati muda sudah tentram, dan jangan
diusik oleh sesal yang tak keruan sebabnya

kami hanya berkelahi dan sudah itu : mati
kami hanya berkelahi untukmu, untuk mereka
dan hari depan, sudah itu : mati

orang-orang pun menyiramkan air bunga yang wangi saat itu
tanpa tahu siapa kami ini
tiada mereka dengarkan ucapan terimakasih kami yang tulus
tiada mereka dengarkan salam kami bagi yang tinggal
tiada mereka lihatkah senyum kami yang cerah
dan sudah itu : mati

siapa berkata bahwa kami telah musnah
siapa berkata
kami kenal nama-namamu di mesjid di gereja di jalan di pasar
kami kenal nama-namamu di gunung di lembah di sawah
di ladang dan di laut, meskipun kalian
tiada menyadari kehadiran kami

siapa berkata bahwa kami telah musnah
siapa berkata
tanah air adalah sebuah landasan
dan kami tak lain baja yang membara hancur
oleh pukulan

ialah kemerdekaan
kemarin giliran kami
tapi besok mesti tiba giliranmu
kalau saja kau masih mau tahu ucapan terimakasih
terhadap tanah tempatmu selama ini berpijak
hidup dan mengerti makna kemerdekaan
dan kami adalah baja yang membara di atas landasan
dibentuk oleh pukulan : ialah kemerdekaan
(mungkin besok tiba giliranmu)

siapa yang tahu cinta saudara, paman dan bapa
siapa yang bisa merasa kehilangan saudara, paman dan bapak
ingat untuk apa kamu pergi
siapa yang pernah mendengar bedil, bom dan meriam
siapa yang sempat melihat luka, darah dan bangkai manusia
ingat kenapa kami tak kembali
begitu hebatkah kemerdekaan itu hingga kami korbankan
apa saja untuknya

jawablah : ya
begitu agungkah ia hingga kami tak berhak menuntut apa-apa

jawab lagi : ya
sudah kau dengarkah suara sepatu kami tengah malam hari

datang untuk memberkati anak-anak yang tidur
sebab merekalah yang kelak harus bisa mempergunakan

bahasa dan kehendak kami
sudah kau dengarkah suara napas kami
menyusup ke dalam setiap rahim bunda yang subur
sebab kami selalu dan selalu lahir kembali

selalu dan selalu berkelahi lagi
mungkin pernah kau kenal kami dahulu, mungkin juga tidak
mungkin pernah kau jumpa kami dahulu, mungkin juga tidak

tapi toh tak ada bedanya:
kami telah memulainya
dan kalian sekarang yang harus melanjutkannya

dan memang tak ada bedanya :
kalau hari itu bagi kami adalah saat penghabisan
bagimu adalah awal pertaruhan
awal dari apa yang terlaksana kemarin, kini besok pagi

meski kami pernah kau kenal atau tidak
meski kami pernah kau jumpa atau tidak
kami adalah buruh, pelajar, prajurit dan bapa tani
yang tak sempat mengenal nama masing-masing dengan baik
kami turun dari kampung, benteng, ladang dan gunung
lantaran satu harapan yang pasti
walau tak pernah kembali


kami hanyalah kubur yang rata dengan tanah dan tak bertanda
kami hanyalah kerangka-kerangka yang tertimbun dan tak punya nama
tapi hari ini doakan sesuatu yang pantas bagi kami
agar Tuhan yang selalu mendengar bisa mengerti dan
mengeluarkan ampun

kami adalah mayat-mayat yang sudah lebur dalam bumi
tapi adukan segala yang pantas tentang diri kami ini
agar tak lagi mengembara arwah kami
kami telah lahir, hidup dan berkelahi : dan mati
kami telah mati

lahir dari para ibu yang mengerti untuk apa kami lahir di sini
hidup di bumi yang mengerti semangat yang menjalankan kami
kami telah berkelahi; dan mati
tapi siapakah yang bisa menterjemahkan bahasa hati kami
dan mengatakannya kepada siapa pun

tapi siapakah yang bisa menangkap bahasa jiwa kami
yang telah mati pagi sekali
dan berjalan tanpa nama dan tanda
dalam satu lobang kubur
kami telah lahir dan selalu lahir

selalu dan selalu lahir dari para bunda yang tabah
selalu dan selalu berkelahi
di mana dan kapan saja

biarkan kami bicara lewat suara anak-anak
yang menyanyikan lagu puja hari ini
biarkanlah kami bicara lewat kesunyian suasana
dari orang-orang yang mengheningkan cipta hari ini

Sementara bendera yang kami tegakkan dahulu berkibar
atas rasa bangga kami yang sederhana
biarkanlah kami bicara hari ini
lewat suara anak-anak yang menyanyikan lagu puja
lewat kesunyian suasana orang-orang yang mengheningkan cipta

Gelora
Th III, No 19
( Nopember 1962)

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

SAJAK SUBUH
Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Waktu mereka membakar gubuknya awal subuh itu ia baru saja bermimpi tentang mata air. Mereka berteriak, "Jangan bermimpi!" dan ia terkejut tak mengerti.

Sejak di kota itu ia tak pernah sempat bermimpi. Ia ingin sekali melihat kembali warna hijau dan mata air, tetapi ketika untuk pertama kalinya. Ia bermimpi subuh itu, mereka membakar tempat tinggalnya.

"Jangan bermimpi!" gertak mereka.

Suara itu terpantul di bawahjembatan dan tebing-tebing sungai. Api menyulut udara lembar demi lembar, lalu meresap ke pori-pori kulitnya. Ia tak memahami perintah itu dan mereka memukulnya, "Jangan bermimpi! "

Ia rubuh dan kembali bermimpi tentang mata air dan .....

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SAJAK TELUR
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

dalam setiap telur semoga ada burung dalam setiap burung
semoga ada engkau dalam setiap engkau semoga ada yang senantiasa terbang menembus silau matahari memecah udara dingin

memuncak ke lengkung langit menukik melintas sungai
merindukan telur
Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,
1982.

SELAMAT PAGI INDONESIA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam
kerja yang sederhana;
bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan
tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;
kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.
seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.
aku pun pergi bekerja, menaklukan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng
kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit, o anak jaman
yang megah,
biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu
wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat,
para perepuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.
Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil;
terasa benar : aku tak lain milikmu

Basis
Thn. XV - 4
Januari 1965

Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

SERULING
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Seruling bambu itu membayangkan ada yang meniupnya, menutup-membuka lubang-lubangnya, menciptakan pangeran dan putri dari kerajaan-kerajaan jauh yang tak terbayangkan merdunya ....

Ia meraba-raba lubang-lubangnya sendiri yang senantiasa menganga.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

SETANGAN KENANGAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Siapakah gerangan yang sengaja menjatuhkan setangan di lorong yang berlumpur itu. Soalnya, tengah malam ketika seluruh kota kena sihir menjelma hutan kembali, ia seperti menggelepar- gelepar ingin terbang menyampaikan pesan kepada Rama tentang rencana ....

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


SIHIR HUJAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.

Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


SONET: X
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

siapa menggores di langit biru
siapa meretas di awan lalu
siapa mengkristal kabut itu
siapa mengertap di bunga layu
siapa cerna di warna ungu
siapa bernafas di detak waktu
siapa berkelebat setiap kubuka pintu
siapa mencair di bawah pandangku
siapa terucap di celah kata-kataku
siapa mengaduh di baying-bayang sepiku
siapa tiba menjemputku berburu
siapa tiba-tiba menyibak cadarku
siapa meledak dalam diriku
: Siapa aku
***


SUDAH KUTEBAK
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Sudah kutebak kedatanganmu. Seperti biasanya,
kau berkias tentang sepasang ikan yang menyambar-nyambar umpan sedikit demi sedikit,
menggosok-gosokkan tubuh di karang-karang,
menyambar, berputar-putar membuat lingkaran,
menyambar, mabok membentur batu-batuan.
Kutebak si pengail masih terkantuk-kantukdi tepi sungai itu.
Sendirian.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


TAJAM HUJANMU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.




TEKUKUR

Oleh :

Sapardi Djoko Damono

Kautembak tekukur itu. Ia tak sempat terkejut, beberapa lembar bulunya lepas; mula-mula terpencar di sela-sela jari angin, satu-dua lembar sambar-menyambar sebentar, lalu bersandar pada daun-daun rumput. "Kena!" serumu.

Selembar bulunya ingin sekali mencapai kali itu agar bisa terbawa sampai jauh ke hilir, namun angin hanya meletakkannya di tebing sungai. "Tapi ke mana terbang burung luka itu?" gerutumu.

Tetes-tetes darahnya melayang : ada yang sempat melewati berkas- berkas sinar matahari, membiaskan wama merah cemerlang, lalu jatuh di kuntum-kuntum bunga rumput.

"Merdu benar suara tekukur itu," kata seorang gadis kecil yang kebetulan lewat di sana; ia merasa tiba-tiba berada dalam sebuah taman bunga.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

TELINGA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

"Masuklah ke telingaku," bujuknya.
Gila
ia digoda masuk ke telinganya sendiri
agar bisa mendengar apa pun
secara terperinci -- setiap kata, setiap huruf, bahkan letupan dan desis
yang menciptakan suara.

"Masuklah," bujuknya.
Gila ! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-baiknya apa pun yang dibisikkannya kepada diri sendiri.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.




TENTANG MATAHARI
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balonan gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang di atas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,
adalah jam weker yang berdering
sedang kau bersetubuh,
adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata :
"Ini matahari! Ini matahari!"
Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanya kau menghela
bayang-bayanganmu itu.

TUAN
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang ke luar.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.


YANG FANA ADALAH WAKTU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?"
tanyamu.
Kita abadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.






PERTAPA
Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Jangan mengganggu:
aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah gua, atau sebutir telur, atau. sepatah kata -- ah, apa ada bedanya. Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar, sudah merupakan benih, sudah mencapai makna -- masih beranikah kau menyapaku, Saudara?

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

sumber:
http://danakaryabakti-indonesianpoems.blogspot.com
http://josephinemaria.wordpress.com
http://theindonesianwriters.wordpress.com